ANAMBAS – Di bibir laut yang membelah gugusan Kepulauan Anambas, sebuah titik singgah kapal asing mengapung dalam diam. Tak ada peluit penjaga, tak ada garis pelindung. Hanya semangat anak-anak lokal yang menjadi garda pertama menyambut kapal-kapal yang datang dari negeri seberang. Di sinilah, dunia luar mengetuk pintu Anambas di sebuah pelabuhan kecil, yang lebih mirip halte darurat di tengah samudra luas.
Wilayah ini adalah Selat Anambas, jalur masuk strategis bagi kapal pesiar dan yacht asing yang hendak menjelajahi laut tropis Indonesia bagian barat. Namun di balik gemerlap layar kapal dan kibaran bendera negara asing, sistem yang mengatur keluar-masuknya armada ini masih bergantung pada kerja-kerja lokal yang serba terbatas.
“Checkpoint-nya ada di depan pelabuhan pemda. Kapal dari mana pun datang, labuhnya di situ. Tapi itu pelabuhan sementara saja,” ujar Darlis, Kepala Syahbandar kepada koranperbatasan.com
Yang melayani seluruh proses izin masuk kapal, bukan aparat berseragam, melainkan warga lokal yang bertugas seperti petugas serba bisa: mengurus dokumen, mengantar ke kantor, dan memfasilitasi proses ke Imigrasi, Karantina, hingga Bea Cukai.
Begitu semua izin rampung, kapal boleh “olah gerak” istilah teknis untuk manuver di perairan sekitar. Mereka berkeliling Anambas, menikmati lekuk laut dan keramahan pulau. Setelah merasa cukup, mereka keluar, kembali ke jalur pelayaran dunia. Checkpoint-nya tetap: di Anambas.
Namun di balik alur yang tampak teratur itu, Darlis mengakui, ada satu titik lemah yang tak kunjung dibenahi: keamanan.
“Keamanan itu tidak menjamin. Laut itu luas, dan penjaganya tidak ada,” katanya.
Darlis menyebut pernah menyarankan agar anak-anak lokal ditempatkan di atas kapal sebagai pengawas, tapi ide itu hanya tinggal angin lalu. Kini, mereka dibiarkan bekerja sendiri, nyaris tanpa perlindungan atau koordinasi dari aparat laut.
“Kalau pun ada pengamanan, mungkin hanya dari Angkatan Laut,” tambahnya.
Ketika ditanya soal sanksi bagi kapal asing yang tidak mematuhi regulasi, Darlis menyebut kewenangan itu sepenuhnya di tangan Imigrasi.
“Kalau mereka tidak punya izin, ya bisa saja ditangkap. Pernah terjadi itu. Tapi saya tidak tahu pasti detail aturannya,” bebernya.
Harapan turut Darlis sematkan, tak hanya kepada langit tapi kepada pemerintah daerah. Darlis membayangkan sebuah pelabuhan khusus untuk kapal-kapal wisata asing. Tempat yang bukan lagi sekadar titik labuh darurat, melainkan pelabuhan resmi yang menjadi wajah Anambas di mata dunia.
“Alur laut di sini sempit. Kalau ada pelabuhan khusus, mungkin kapal yang datang bisa lebih banyak. Pengelolaannya juga bisa lebih baik,” pungkasnya.
Di perbatasan samudra yang menjadi halaman depan Indonesia itu, satu pelabuhan kecil menanggung beban besar. Ia menyambut dunia dengan tangan terbuka, tapi menjaga dirinya sendiri dengan tangan kosong. Dan selagi kapal-kapal mewah itu berlalu, mereka mungkin tak tahu: gerbang yang menyambut mereka, belum sepenuhnya punya kunci. (KP).
Laporan : Azmi










