KABAR PERBATASANNATUNAPEMBANGUNAN DAERAHPENDIDIKAN

27 Tahun Natuna, Baharudin: Pendidikan Maju, Sekolah Baru Masih Berjuang

×

27 Tahun Natuna, Baharudin: Pendidikan Maju, Sekolah Baru Masih Berjuang

Sebarkan artikel ini
Kepala SMPN 4 Bunguran Timur, Baharudin, saat ditemui dalam wawancara mengenai perkembangan pendidikan Natuna dan tantangan sekolah baru di usia ke-27 Kabupaten Natuna.

“Memasuki usia ke-27 tahun, Kabupaten Natuna dinilai mengalami kemajuan di sektor pendidikan dibandingkan masa awal berdirinya daerah tersebut. Namun, di tengah perkembangan itu, sekolah baru seperti SMPN 4 Bunguran Timur masih menghadapi keterbatasan sarana, prasarana, dan anggaran untuk menunjang kegiatan pendidikan.”

NATUNA – Kepala SMPN 4 Bunguran Timur, Baharudin, S.Pd.I., menilai pendidikan di Kabupaten Natuna terus mengalami perkembangan jika dibandingkan dengan kondisi pada masa awal kabupaten terbentuk. Menurutnya, perubahan tersebut terlihat dari bertambahnya jumlah sekolah dan peserta didik serta semakin luasnya akses pendidikan.

Baharudin yang telah sekitar 18 tahun mengabdikan diri sebagai guru menyampaikan pandangannya terhadap perkembangan pendidikan Natuna juga tidak terlepas dari pengalamannya sebagai putra daerah yang menyaksikan langsung perjalanan Natuna sejak awal berdiri menjadi kabupaten.

“Kalau saya tengok dari awal memang ini makin maju. Dari zaman-zaman dulu awalnya karena waktu itu pertama kali Natuna ini diresmikan, waktu itu saya masih SMA,” ujar Baharudin kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (7/10/2026).

Ia bahkan menjadi bagian dari kelompok siswa yang terlibat dalam kegiatan saat peresmian Natuna menjadi kabupaten. “Dari zaman itu sampai ke saat ini memang jauh sudah berbeda. Cuma seperti apa jalannya kita enggak tahu. Yang jelas berbeda sudah,” katanya.

Menurut Baharudin, perkembangan tersebut juga terlihat dari semakin banyaknya sekolah dan peserta didik dibandingkan masa lalu. “Memang dari dulu, dari kayak anak kecil sekarang ini sekolah masih banyak. Kalau tentang pendidikan sudah makin bertambah. Kalau dulu kan belum. Jadi bagi saya sendiri memang makin maju, makin bagus,” ujarnya.

Tantangan Pendidikan Berubah Mengikuti Zaman

Meski menilai pendidikan Natuna semakin maju, Baharudin mengatakan tantangan yang dihadapi pendidik juga mengalami perubahan. Setelah 18 tahun mengabdi sebagai guru, ia melihat perbedaan pola pendidikan antara masa awal dirinya mengajar dengan kondisi saat ini. Salah satunya berkaitan dengan penerapan disiplin terhadap siswa.

Menurut Baharudin, pada masa lalu guru memiliki ruang lebih luas untuk memberikan sanksi kepada siswa yang melakukan pelanggaran.

“Kalau dulu awal saya jadi guru, kita bisa lebih tegas memberikan sanksi atau surat peringatan kepada siswa yang nakal. Sekarang karena ada batasan aturan dan HAM, pendekatannya tentu berbeda,” jelasnya.

Menurutnya, perubahan regulasi tersebut menjadi bagian dari dinamika profesi guru yang harus dihadapi. “Tapi itulah dinamika dan risiko menjadi seorang pendidik yang harus kita jalani demi mencetak generasi penerus,” katanya.

Baharudin menilai kenakalan siswa merupakan salah satu risiko yang memang harus dihadapi seorang guru. “Itulah risiko kita jadi guru. Kalau enggak sanggup menanggung, menghadapi tantangan, risiko seperti itu, ya mendingan kita enggak usah jadi guru,” ujarnya.

Teknologi Menjadi Tantangan Baru

Selain regulasi, perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan tersendiri bagi pendidik. Baharudin membandingkan kondisi ketika dirinya mulai menjadi guru dengan situasi sekarang yang serba menggunakan teknologi dan aktivitas daring.

“Masalah kendalanya kalau sekolah-sekolah istilah saya, masalah IT ini. Masalah IT itu kan? Karena kita dulu kan enggak ada seperti ini canggih-canggih seperti sekarang ini, telah main online semua gitu kan,” katanya.

Ia mengenang masa ketika telepon seluler belum secanggih sekarang dan perangkat teknologi belum menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari. “Sekarang ini sudah main online-online semua. Itulah tantangannya menurut saya dulu dan sekarang,” ujarnya.

Menurutnya, perubahan teknologi tersebut menuntut dunia pendidikan untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

Baca Juga:  Putra Natuna Tembus Al-Azhar Mesir, MAN 1 Cetak Sejarah Baru

Baharudin Tak Mengejar Jabatan

Selama menjalani pengabdian sebagai guru, Baharudin mengatakan dirinya tidak menjadikan jabatan sebagai tujuan utama. Ia mengaku tidak pernah meminta jabatan maupun secara khusus mengejar kenaikan pangkat.

“Saya tidak berkopo-kopo, saya tidak pernah minta-minta jabatan, tidak pernah,” ungkapnya.

Bahkan, ia mengaku dahulu tidak terlalu mengurus persoalan kenaikan pangkat karena lebih memilih fokus terhadap tugasnya sebagai pendidik. “Yang jelas saya itu ngajar siswa, supaya menjadi baik, bagus, gitu kan. Pendidikan itu bagus,” katanya.

Menurut Baharudin, dirinya lebih memilih memikirkan bagaimana sekolah yang menjadi tempatnya bertugas dapat berkembang. “Kalau memang mau mengejar untuk karier bisa saja, tapi saya tidak. Saya mengejar bagaimana sekolah bisa maju,” tegasnya.

Prinsip tersebut, menurut Baharudin, tetap ia pegang hingga dipercaya menjadi kepala sekolah.

SMPN 4 Bunguran Timur Masih Berjuang dari Nol

Di tengah perkembangan pendidikan Natuna, Baharudin kini menghadapi tantangan berbeda sebagai pimpinan SMPN 4 Bunguran Timur yang masih tergolong sekolah baru. Ia mengatakan sekolah tersebut masih membutuhkan banyak sarana dan prasarana untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

“Kalau sekolah baru kita ini, ya masih banyak tantangan kita. Karena kita, apalagi sekarang ini kita masih nol. Belum ada anggaran,” ujarnya.

Menurut Baharudin, dukungan anggaran untuk sekolah yang masih baru tersebut belum sepenuhnya tersedia. “Dibantu oleh pemerintah ini belum. Karena kita masih baru,” katanya.

Kondisi tersebut membuat pengelola sekolah harus mencari cara agar kegiatan sekolah tetap dapat berjalan. “Masih pakai uang pribadi. Kayak kemarin itu gotong royong, saya pakai uang pribadi,” ungkap Baharudin.

Ia mengatakan penggunaan dana pribadi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya bersama untuk mendukung perkembangan sekolah. “Ya, kita perjuangkan dulu dengan uang-uang dengan yang bisa kita bantu,” katanya.

Menurut Baharudin, kondisi bangunan sekolah sebenarnya sudah cukup baik dan pembangunan bagian depan juga mulai berkembang. Namun, kebutuhan sarana dan prasarana masih minim.

“Sekolah memang sudah bagus. Dari sekolah-sekolah yang saya temu ya sekolahnya sudah bagus ini. Apalagi pembangunan depan sudah mulai naik, bertingkat lagi sudah bagus. Tapi untuk sarana-prasarana ini kita masih belum. Masih minim,” jelasnya.

Ia menilai persoalan tersebut kembali berkaitan dengan ketersediaan anggaran. “Kita, apalagi sekarang ini sarana-prasarana itu adalah uang. Nah, kalau uang kita belum ada, gimana kita mau berbuat? Sulit,” ujarnya.

SMPN 4 Bersiap Tampil di Pawai Budaya

Meski masih menghadapi keterbatasan, SMPN 4 Bunguran Timur tidak ingin hanya menunggu fasilitas lengkap untuk menunjukkan keberadaannya. Dalam rangkaian peringatan HUT ke-27 Kabupaten Natuna, Baharudin mengatakan pihak sekolah berupaya mengikutsertakan siswa dalam Pawai Budaya.

“Kalau itu kita usahakan. Kita usahakan siswa kita bisa tampil, bisa menunjukkan juga bahwa kita ada di sini, SMP 4 Bunguran Timur,” katanya.

Menurutnya, keikutsertaan tersebut menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan keberadaan sekolah baru tersebut kepada masyarakat. “Pokoknya saya usahakan bagaimana caranya nanti kita carilah caranya,” ujarnya.

Baharudin Melihat Bupati Turun ke Masyarakat

Di luar kapasitasnya sebagai ASN dan kepala sekolah, Baharudin juga menyampaikan pandangannya mengenai kedekatan pemimpin daerah dengan masyarakat. Ia menilai pola pendekatan kepala daerah dari masa ke masa memiliki kesamaan, tetapi menurutnya terdapat hal yang ia lihat berbeda pada kepemimpinan saat ini.

“Kalau saya lihat itu cara pendekatannya sama. Dulu dengan yang sekarang sama. Tapi ada peningkatan yang baru, yang sekarang itu,” katanya.

Baca Juga:  Jajan Cobkh Natuna Viral di TikTok, Pizza Rumahan Makin Diminati Warga

Baharudin mengatakan dirinya melihat Bupati Natuna Cen Sui Lan cukup sering turun ke masyarakat berdasarkan informasi yang ia lihat di berbagai grup berita. “Selalu beliau ini turun ke masyarakat. Selalu turun ke masyarakat kalau saya tengok,” ujarnya.

Ia juga mengaku memberikan dukungan terhadap program dan aktivitas Bupati melalui media sosial.

Tidak Suka Mencari Kesalahan Orang

Baharudin menegaskan dirinya bukan orang yang suka mencari kesalahan atau mengkritik orang lain. “Saya ini bukan orang yang tukang kritik. Saya ini bukan orang yang suka mencari kebaikan orang, kesalahan orang. Saya enggak mau,” katanya.

Prinsipnya sederhana, yakni memberikan yang terbaik di tempat ia ditugaskan. “Yang jelas saya berusaha, saya ditugaskan di sini, saya usahakan tempat saya terbaik,” ujarnya.

Prinsip tersebut juga ia terapkan dalam kehidupan keluarga. “Saya di keluarga saya gitu juga. Saya usahakan anak, istri saya lebih baik daripada yang lain. Itu saja tujuan saya,” katanya.

Ia menilai pekerjaan yang dilakukan di dunia juga harus memiliki nilai kebaikan untuk kehidupan akhirat. “Karena kita itu bukan hanya di dunia ini. Kita berbuat baik yang di dunia ini ya, tujuan kita kan untuk ke akhirat. Itu prinsip saya,” ungkapnya.

Natuna Harus Mampu Bersaing

Memasuki usia ke-27 tahun, Baharudin berharap Natuna dapat terus berkembang dan mampu bersaing dengan daerah lain di Kepulauan Riau. “Kalau harapan saya itu besar. Harapan saya kalau bisa Natuna kita harus lebih mantap lagi. Kalau bisa ya bersainglah dengan Tanjungpinang dan Batam,” ujarnya.

Ia berharap Natuna tidak berhenti pada kondisi yang ada, tetapi terus meningkatkan kualitas pembangunan dan daya saing daerah. “Kalau bisa kita harus naik lagi di atas itu. Kalau bisa seperti itu. Itu harapan saya. Memang harus lebih baik, lebih mantap lagi,” katanya.

Pendidikan Harus Terus Naik

Baharudin juga menitipkan harapan khusus bagi pendidikan Natuna. Menurutnya, pendidikan tidak boleh mengalami kemunduran. “Dunia pendidikan kedepannya kalau bisa kita harus lebih baik lagi. Kita kan tentu tidak mau mundur,” katanya.

Menurutnya, jika belum mampu meningkatkan capaian secara cepat, setidaknya pendidikan Natuna harus mampu mempertahankan apa yang sudah ada. “Setidak-tidaknya kita itu bertahan. Kalau bisa kita harus naik, naik dan terus naik,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda Natuna kelak mampu menjadi generasi profesional yang meneruskan pembangunan daerah dan bangsa. “Kalau bisa pendidikan anak-anak kita dari Natuna ini yang profesional nantinya untuk meneruskan bangsanya karena kita ini sudah tua. Kita enggak mungkin lagi, saya enggak mungkin lagi di sini,” katanya.

“Anak-anak kita inilah yang meneruskan,” tambah Baharudin.

Pesan Baharudin: Jaga Kekompakan

Menutup keterangannya, Baharudin mengajak masyarakat Natuna menjaga persatuan dan kekompakan. “Yang perlu disampaikan kepada masyarakat Natuna ini, kita sama-samalah kekompakan. Itu saja intinya,” ujarnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terpecah dalam kelompok-kelompok yang saling berseberangan. “Kita harus selalu punya kekompakan, bersatu, tidak ada pecah-belah, kubu sana, kubu sini,” katanya.

Menurut Baharudin, kebersamaan harus dibangun mulai dari masyarakat hingga pemerintahan. “Antara masyarakat dengan RT, RW, sama Lurahnya, Kadesnya segala macam dan sama Bupatinya kita harus sejalan, harus kebersamaan,” ujarnya.

Ia meyakini berbagai tantangan pembangunan dan pendidikan dapat dihadapi apabila seluruh elemen masyarakat berjalan bersama. “Insyaallah dengan kebersamaan itu semua akan bisa kita perbuat,” pungkas Baharudin.


Laporan: Dini


📊 Views: 80

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *