KABAR UTAMANASIONALNATUNAPENDIDIKANPERISTIWASIMPAI NEGERI

SLB Natuna Sudah Merdeka Sebelum Kurikulum Merdeka

614
×

SLB Natuna Sudah Merdeka Sebelum Kurikulum Merdeka

Sebarkan artikel ini
Kepala Sekolah SLB Natuna, Raja Ipulidarni, S.Pd., M.Pd., poto bersama wartawan Koran Perbatasan di Ruang TU SLB Natuna, Senin 03 November 2025.

“Kepala Sekolah SLB Natuna menegaskan bahwa satuan pendidikan luar biasa telah menerapkan prinsip kurikulum merdeka jauh sebelum kebijakan itu lahir secara nasional.”

NATUNA – Kepala Sekolah SLB Natuna, Raja Ipulidarni, S.Pd., M.Pd., menjelaskan lembaga pendidikan luar biasa di Sekolah Luar Biasa (SLB) sebenarnya sudah menerapkan konsep Kurikulum Merdeka sejak lama.

Menurutnya, setiap anak di SLB memiliki kebutuhan belajar yang berbeda, sehingga kurikulumnya pun disesuaikan secara individual. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa pendidikan di SLB disebut benar-benar “merdeka”.

Raja Ipulidarni menjelaskan, istilah “merdeka” di SLB bukanlah hal baru. “SLB itu dari dulu sudah kurikulum merdeka. Karena anak-anak punya kurikulum masing-masing sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya kepeda Koran Perbatasan di Ruang TU SLB Natuna, Senin 03 November 2025.

Ia mencontohkan, dua anak tunanetra di sekolahnya bisa memiliki kurikulum yang berbeda meskipun berada di jenjang yang sama. “Satu kurikulum disesuaikan dengan kebutuhan anak A, dan satu lagi untuk anak B. Jadi dari dulu kami sudah merdeka lebih dulu,” tambahnya.

Menurutnya, saat Kementerian Pendidikan meluncurkan Kurikulum Merdeka secara nasional, pihaknya hanya perlu menyesuaikan dengan pedoman baru tanpa harus mengubah konsep dasar yang sudah berjalan. “Kami tinggal menyempurnakan saja sesuai arahan Pak Menteri,” jelasnya.

BACA JUGA : Madrasah Ibnu Rusyd Tekankan Pendidikan Akhlak Siswa

Lebih lanjut, ia menerangkan metode pembelajaran di SLB sangat beragam dan tergantung pada jenis kebutuhan anak. Misalnya, untuk anak tunarungu, metode pengajaran dilakukan dengan bahasa isyarat, media audio visual, serta pendekatan visualisasi. Sedangkan bagi anak tunanganda atau down syndrome, pendekatannya lebih kepada pembinaan diri agar mereka mampu mandiri dalam aktivitas sehari-hari.

“Kami berprinsip harus melayani mereka sepenuh hati. Mungkin hari ini masih ada orang tua yang bisa membantu, tapi besok belum tentu. Karena itu, kami ingin anak-anak mampu melayani dirinya sendiri,” tutur Ipulidarni.

Baca Juga:  Pemprov Kepri Telah Anggarkan Realisasi Pembangunan Dua Pelabuhan di Natuna

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *