NATUNA

Integrasi Antarumat Beragama di Kawasan Pelabuhan Penagi

35
×

Integrasi Antarumat Beragama di Kawasan Pelabuhan Penagi

Sebarkan artikel ini
Potret kerukunan warga di Kampung Tua Penagi, Natuna, yang memperlihatkan arsitektur rumah tua di atas laut sebagai simbol integrasi budaya Muslim dan Tionghoa.
Ketua RT 02 Penagi, Erlina, saat diwawancarai.

“Kampung Tua Penagi merepresentasikan model ideal kohesi sosial melalui asimilasi organik antara komunitas Muslim, Buddha, dan Konghucu yang telah bertransformasi menjadi identitas kolektif sejak era pra-otonomi Kabupaten Natuna.”

NATUNA — Ketua RT 02 Penagi, Erlina, menegaskan bahwa stabilitas kerukunan antarumat beragama di wilayahnya merupakan warisan sosiologis yang telah teruji secara historis sejak Penagi berstatus sebagai sentralitas pelabuhan perdaganga. Erlina memaparkan bagaimana pluralisme di Penagi bukan sekadar konsep teoritis, melainkan praktik keseharian yang termanifestasi dalam kolaborasi lintas iman pada perayaan hari besar keagamaan seperti Ramadan, Idulfitri, dan Tahun Baru Imlek.

Di sebuah rumah panggung kayu yang menjorok ke laut, riwayat toleransi di ujung utara Indonesia tidaklah ditulis dalam dokumen kebijakan melainkan diukir melalui interaksi yang melibatkan semua orang dalam latar belakang keagamaan berbeda selama berabad-abad.

Penagi, sebuah pemukiman bersejarah di Kabupaten Natuna, terus mempertahankan anomali positif sebagai wilayah dengan tingkat kohesi sosial tertinggi, di mana garis batas teologis antara pemeluk Islam, Buddha, dan Konghucu melebur dalam kesamaan entitas geografis.

Erlina menjelaskan bahwa integrasi ini memiliki akar asal usul yang sangat dalam, melampaui usia administratif Kabupaten Natuna itu sendiri.

“Keberadaan komunitas Muslim, Buddha, dan Konghucu dalam satu perkampungan ini sudah eksis sejak zaman leluhur kami. Penagi sudah menjadi titik temu keberagaman jauh sebelum Natuna ditetapkan sebagai kabupaten, terutama saat Penagi masih menjadi pelabuhan perdagangan,” ungkap Erlina kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di kediamannya, Rabu, 18 Februari 2026.

Secara teknis, harmonisasi di Penagi tidak bersifat pasif. Terdapat mekanisme asimilasi fungsional yang terjadi secara periodik. Saat memasuki siklus bulan suci Ramadan, komunitas Muslim melakukan kegiatan silaturahmi dengan melibatkan warga non-Muslim dalam ritual berbuka puasa bersama. Hal ini dilakukan sebagai instrumen penguatan struktur sosial (social bonding) agar relasi antarwarga semakin solid.

Baca Juga:  Resmikan Sarana Prasarana Pendidikan di Natuna, Ansar Sebut Kepri Butuh Generasi Cerdas, Kompetitif dan Berkarakter

Fenomena serupa terjadi saat perayaan Tahun Baru Imlek. Keterlibatan warga Muslim dalam perayaan ini masuk ke dalam ranah teknis operasional.

“Pada momen Imlek, warga Muslim turut aktif dalam aspek estetika kawasan, seperti pemasangan lampion secara gotong-royong. Bahkan, tim kesenian Barongsai melibatkan pemuda Muslim, mulai dari bantuan teknis hingga partisipasi dalam pelatihan intensif. Ini adalah bagian dari kerja sama kami untuk meramaikan festival,” tambah Erlina.

Tradisi kunjungan timbal balik (reciprocal visits) saat hari raya keagamaan telah menjadi norma tidak tertulis yang menjaga ekosistem perdamaian di Penagi. Praktik ini secara sosiologis berfungsi sebagai katup pengaman untuk mencegah disintegrasi dan meminimalisir potensi friksi horizontal yang sering kali dipicu oleh perbedaan dogmatis.

Erlina menekankan bahwa “modal sosial” berupa rasa saling memiliki terhadap kampung halaman menjadi kunci utama. Di tengah arus informasi yang rentan memecah belah, masyarakat Penagi memilih untuk mempertahankan ortodoksi lokal mereka yang menekankan pada persatuan.

“Harapan saya untuk Kampung Penagi yang telah dikenal sebagai simbol toleransi ini adalah agar persatuan tetap solid. Kita tidak memerlukan yang namanya konflik atau pertengkaran beragama. Fokus utama kami adalah menjaga persistensi silaturahmi dan integritas komunitas. Jaga persatuan, itu adalah prioritas pokok kami,” pungkas Erlina menutup perbincangan. (KP).


 Laporan : Dhitto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *