JAKARTANASIONAL

Hulu Migas Tegaskan Peran Strategis Energi Nasional

29
×

Hulu Migas Tegaskan Peran Strategis Energi Nasional

Sebarkan artikel ini

“Industri hulu migas menegaskan kontribusi strategisnya dalam mendukung swasembada energi, ekonomi nasional, dan kesejahteraan masyarakat menjelang IPA Convex ke-50.”

JAKARTA – Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, George N.M. Simanjuntak, menegaskan bahwa industri hulu minyak dan gas bumi memiliki peran strategis dalam mendukung agenda swasembada energi nasional, penguatan kapasitas nasional, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasi migas.

Menjelang penyelenggaraan IPA Convention & Exhibition (IPA Convex) ke-50, para pelaku industri hulu migas kembali menegaskan komitmennya sebagai pilar penting ketahanan energi nasional. Kontribusi sektor ini dinilai tidak hanya tercermin dari produksi migas dan penerimaan negara, tetapi juga melalui berbagai instrumen ekonomi dan sosial yang berdampak luas bagi masyarakat.

George N.M. Simanjuntak menyampaikan bahwa selama ini kontribusi industri hulu migas kerap dipersepsikan terbatas pada penerimaan negara dan produksi. Padahal, jika ditinjau secara menyeluruh, terdapat efek berganda yang signifikan melalui Dana Bagi Hasil (DBH) hingga Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM).

“Jika dilihat secara utuh, terdapat berbagai efek berganda, mulai dari DBH hingga PPM yang berperan strategis dalam menjaga keberlanjutan operasi proyek hulu migas. Oleh karena itu, PPM harus dipahami sebagai bagian integral dari instrumen kontribusi industri atau investasi sosial jangka panjang,” ujar George dalam Media Briefing Kontribusi Sektor Migas Bagi Indonesia di Jakarta, Selasa (27/1).

Ia menjelaskan, SKK Migas tengah melakukan transformasi menyeluruh terhadap pendekatan PPM. Program yang sebelumnya didominasi bantuan jangka pendek kini diarahkan menjadi investasi sosial strategis yang terencana, terukur, dan berdampak jangka panjang. Transformasi tersebut didahului kajian akademis yang menunjukkan bahwa sebagian program PPM sebelumnya belum mampu mendorong kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Industri Hulu Migas Pilar Ketahanan Energi dan Penggerak Ekonomi Perbatasan

“Pendekatan lama tidak lagi cukup menjawab dinamika sosial masyarakat di sekitar wilayah operasi. Karena itu, PPM kami dorong menjadi bagian dari siklus operasi hulu migas yang sejajar dengan aspek teknis dan bisnis,” tegasnya.

Transformasi PPM dilakukan melalui perencanaan dan pelaporan yang lebih sistematis dengan pendekatan Logical Framework Approach (LFA), diperkuat tata kelola dan penguatan kelembagaan, serta didukung social and business mapping agar program tepat sasaran dan selaras dengan prioritas pembangunan daerah, khususnya di wilayah ring-1.

George menambahkan, perubahan paradigma ini sejalan dengan arah kebijakan nasional, termasuk Asta Cita Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya ketahanan dan kemandirian energi serta pemerataan manfaat pembangunan.

Sementara itu, Chairperson of IPA Supply Chain Committee, Kenneth Gunawan, menyoroti pentingnya penguatan kapasitas nasional melalui optimalisasi rantai pasok dalam negeri. Ia menyebut perusahaan nasional kini memegang peran signifikan dalam rantai pasok sektor hulu migas.

“KKKS secara aktif melakukan asesmen dan uji produk dalam negeri, termasuk pilot project bersama SKK Migas. Ini menciptakan multiplier effect ekonomi, baik di tingkat daerah maupun nasional,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif IPA, Marjolijn Wajong, menegaskan industri hulu migas berada pada fase krusial untuk menjamin pasokan energi yang andal dan terjangkau, sembari mendukung agenda transisi energi.

“IPA Convex ke-50 menjadi platform dialog nasional untuk menunjukkan secara transparan kontribusi sektor hulu migas terhadap perekonomian, investasi, pembangunan daerah, dan ketahanan energi nasional,” jelasnya.

Dalam rangkaian IPA Convex 2026, IPA juga menggelar Journalist Writing Competition yang dibuka pada 27 Januari 2026 dan ditutup pada 21 Mei 2026. Lomba ini mengangkat enam tema utama, yakni multiplier effect, investasi, keberlanjutan, kolaborasi, teknologi, dan ketahanan energi, dengan pengumuman pemenang pada 22 Mei 2026. (KP).

Baca Juga:  JICA Indonesia Dukung Penerbitan Buku Perdana Kappija-21

Laporan: Pandawa PR


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *