NATUNA – Pemerintah Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, menetapkan sejumlah program prioritas tahun 2025 yang meliputi pembangunan fisik, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan ketahanan pangan.
Kepala Desa Sepempang, Muhammad Shalihin, memaparkan hal tersebut kepada koranperbatasan.com saat ditemui di ruang kerjanya, Senin, 08 September 2025.
Menurut Shalihin, program fisik difokuskan pada dua sektor utama, yakni pembangunan panggung terbuka bagi pemuda serta penyediaan dok mutur untuk nelayan.
“Alhamdulillah panggung terbuka di lapangan voli sudah 100 persen selesai dan sudah bisa digunakan masyarakat. Sementara dok mutur untuk kapal nelayan masih dalam tahap persiapan, termasuk pembelian bahan-bahan, dan akan segera dibangun setelah pencairan tahap kedua Dana Desa,” jelasnya.
Selain pembangunan fisik, desa juga menyiapkan sejumlah kegiatan non-fisik berbasis pemberdayaan. Di bidang keagamaan, Pemerintah Desa Sepempang menyisihkan 3 persen Dana Desa untuk program profesional desa berupa kegiatan kunjungan ke rumah ibadah setiap malam Jumat akhir bulan.
Pada aspek budaya, desa melestarikan tradisi lokal Sompang melalui acara ngejik gurita, masak bersama, dan permainan gendang panjang. “Budaya di desa kami hanya dua itu yang masih bertahan, dan setiap tahun kami angkat kembali agar tidak hilang,” kata Shalihin.
Bidang kesehatan juga mendapat perhatian besar dengan pengalokasian anggaran untuk mendukung kinerja kader Posyandu. Program tersebut mencakup pemberian insentif, pembelian obat-obatan, serta alat kesehatan seperti pengukur suhu tubuh dan tensi darah. “Kesehatan itu penting, sehingga meski tanpa pembangunan fisik, kita tetap siapkan anggaran cukup besar,” tegasnya.
Desa Sepempang juga tengah mempersiapkan Festival Pulau Senua sebagai upaya mengangkat potensi budaya dan wisata lokal. Panitia pelaksana sudah terbentuk, dan festival direncanakan digelar dalam waktu dekat.
Di bidang ketahanan pangan, pemerintah desa mendorong program Bumdes Ayam Broiler yang saat ini sudah panen. “Alhamdulillah ayam daging sudah berhasil dipanen. Ini bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan desa,” tambah Shalihin.
Dari sisi anggaran, Desa Sepempang tahun ini memperoleh lebih dari Rp2 miliar, terdiri dari Dana Desa (DD) sekitar Rp1 miliar lebih dan Alokasi Dana Desa (ADD) sekitar Rp800 juta lebih. Namun, Shalihin menegaskan bahwa ADD sebagian besar terserap untuk gaji dan insentif perangkat desa hingga RT/RW, sehingga ruang untuk pembangunan sangat terbatas.
“Kalau ADD itu habis untuk insentif dan operasional, jadi pembangunan lebih banyak ditopang oleh Dana Desa. Karena itu kami berharap ADD bisa dinaikkan dari 10 persen menjadi 15 persen, supaya desa punya ruang untuk membangun,” ucapnya.
Shalihin menjelaskan, pencairan DD dilakukan dua kali dalam setahun untuk desa mandiri seperti Sepempang, masing-masing 60 persen dan 40 persen. Sedangkan ADD dicairkan setiap bulan sesuai kemampuan anggaran kabupaten. Semua proses pencairan dilakukan langsung ke rekening desa, termasuk sistem pembayaran non-tunai.
“Bendahara desa tidak lagi pegang uang tunai. Semua gaji perangkat, RT/RW, hingga belanja kegiatan harus lewat transfer. Bahkan pembelanjaan di atas Rp5 juta wajib transfer ke rekening penerima. Jadi lebih transparan dan akuntabel,” terangnya.
Meski sebagian program masih menunggu pencairan tahap kedua, Shalihin menegaskan sekitar 60 persen kegiatan desa sudah terealisasi. Sisanya, termasuk pembangunan dok mutur, akan segera dikerjakan.
“Kalau dulu ADD bisa untuk membangun fisik, sekarang tidak bisa lagi. Karena itu kami berharap pemerintah daerah dan DPRD bisa menaikkan porsi ADD agar desa bisa lebih leluasa melaksanakan pembangunan,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Fergi










