“Peringatan milad ke-79 HMI menjadi momentum krusial untuk mensinergikan kompetensi global kader dengan penguatan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan di wilayah perbatasan.”
NATUNA – Penasehat MD KAHMI sekaligus Dosen Prodi Ekonomi Syariah STAI Natuna, Kartubi, S.E., M.E.I., menegaskan bahwa penguatan struktur kaderisasi formal merupakan prasyarat mutlak bagi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam menghadapi eskalasi kompetisi global yang semakin kompleks.
Dalam agenda Silaturahmi Akbar keluarga besar HMI dan alumni yang diselenggarakan di Karina Base Camp, Tanjung Dedap, pada Senin, 16 Februari 2026, Kartubi menggarisbawahi bahwa dedikasi organisasi dalam aksi filantropi, seperti bantuan bencana kebakaran dan distribusi komoditas esensial bagi masyarakat prasejahtera, harus diimbangi dengan akselerasi kualitas intelektual melalui jenjang pelatihan formal yang sistematis.
Meskipun aksesibilitas menuju lokasi kegiatan di Kecamatan Bunguran Utara menuntut determinasi fisik yang tinggi, Kartubi memandang hal tersebut sebagai representasi simbolis dari jati diri HMI sebagai organisasi perjuangan. Kartubi menyatakan bahwa stamina organisasional sangat dibutuhkan untuk menavigasi dinamika perkembangan dunia yang kini didominasi oleh persaingan ketat antar-aktor global.
“Kita patut mengapresiasi berbagai kegiatan positif yang telah dilakukan oleh adik-adik kader HMI, mulai dari bantuan musibah kebakaran hingga pembagian sembako bagi masyarakat kurang mampu di desa Sebadai Ulu. Namun, HMI adalah organisasi perjuangan yang menuntut semangat dan stamina luar biasa, terutama di tengah kondisi dunia yang penuh kompetisi. Kader HMI harus mempersiapkan diri agar memiliki daya saing global,” ujar Kartubi.

Secara teknis, Kartubi menekankan pentingnya kepatuhan kader terhadap kurikulum pengkaderan formal yang telah ditetapkan organisasi. Tahapan mulai dari Latihan Kader (LK) 1, LK 2, hingga LK 3, serta pelatihan spesifik seperti Senior Course dan lokakarya, dipandang sebagai instrumen vital dalam membentuk kompetensi khusus. Menurutnya, rekam jejak alumni HMI di level nasional maupun internasional dalam sektor eksekutif, legislatif, hingga diplomatik, merupakan hasil dari proses pembentukan mental dan intelektual yang terukur.
“HMI telah menyiapkan infrastruktur kompetensi yang lengkap. Oleh karena itu, saya mendorong para mahasiswa untuk bergabung dan memanfaatkan jaringan luas yang dimiliki organisasi ini, yang kini telah mengepakkan sayapnya hingga ke cabang-cabang luar negeri. Jika hanya mengandalkan lingkup lokal, ruang gerak intelektual akan menjadi terbatas,” tambahnya
Dalam perspektif ideologis, Kartubi mengingatkan bahwa tujuan HMI yakni terciptanya insan akademis, pengabdi, dan pencipta, tidak boleh terhenti pada tataran formalitas pelatihan. Pihaknya mendorong adanya dialektika berkelanjutan melalui diskusi pekanan untuk mendalami nilai-nilai dasar perjuangan.
Lebih jauh, Kartubi juga menyoroti perlunya keseimbangan antara semangat nasionalisme dan prinsip Islam yang moderat.
“Harapan saya, HMI tetap menjadi organisasi yang bernapaskan Islam dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita harus mengisi kemerdekaan dengan nilai-nilai keislaman yang tidak bertentangan dengan Pancasila. HMI harus menjadi inkubator bagi lahirnya pemimpin yang negarawan, bukan pemimpin yang terjebak pada kepentingan kelompok tertutup,” kata Kartubi.
Sebagai refleksi pada usia ke-79, Kartubi memberikan catatan kritis mengenai perlunya penguatan sisi religiusitas kader. Pihaknya berpendapat bahwa keberhasilan dalam kepemimpinan harus selaras dengan kepatuhan syariat, baik dalam konteks ibadah mahdoh maupun mu’amalah.
“Segala langkah perjuangan harus kita tinjau secara syariat untuk memastikan apakah hal tersebut sesuai dengan panduan Al-Quran dan Hadis demi mendapatkan ridha Allah SWT,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Dhitto










