Untuk menjaga kedisiplinan dan pembinaan karakter, MTs Ibnu Rusyd juga memiliki sistem bimbingan siswa yang dilakukan oleh bagian kesiswaan.
“Kalau ada anak yang terlambat atau punya masalah, kita panggil secara pribadi untuk mengetahui penyebabnya. Bisa jadi karena ekonomi atau kurang perhatian di rumah. Kami dampingi supaya pembelajaran mereka tidak terganggu,” jelasnya.
Evi menambahkan bahwa pendekatan kepada siswa juga melibatkan orang tua dan komite sekolah.
“Setiap tiga bulan sekali kami mengundang wali murid untuk rapat bersama. Tujuannya agar anak-anak bisa terpantau baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Dengan begitu, antara orang tua, komite, dan anak-anak bisa bekerja sama menjaga perilaku mereka di luar sekolah,” katanya.
BACA JUGA : Semangat Pemuda Smanda Bangkitkan Kreativitas Pelajar Natuna
Terkait sistem pendidikan nasional, Evi menyampaikan harapan agar ada kesetaraan antara madrasah swasta, madrasah negeri, dan sekolah umum.
“Selama ini ada ketimpangan sosial dalam hal penempatan guru maupun percepatan kepegawaian. Sekolah negeri lebih diutamakan dibanding madrasah swasta,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti perlunya perhatian pemerintah terhadap status kelembagaan madrasah.
“Kementerian Agama memang sudah punya kebijakan piliar, yaitu penyetaraan antara sekolah negeri dan swasta dalam satu atap, tapi sampai hari ini masih sulit diterapkan. Padahal madrasah juga mendidik anak negeri. Hal-hal seperti zakat, wakaf, dan aset pribadi seharusnya bisa dibicarakan bersama agar kita punya tujuan yang sama mencerdaskan generasi bangsa,” pungkasnya. (KP).
Laporan : Dini










