OPINIPENDIDIKAN

Banjir di Pulau Jawa Dampak dan Tantangan di Kudus, Jepara, dan Pati

283
×

Banjir di Pulau Jawa Dampak dan Tantangan di Kudus, Jepara, dan Pati

Sebarkan artikel ini

BANJIR kembali melanda sejumlah wilayah di Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati. Curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menyebabkan sungai-sungai meluap dan merendam permukiman warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum.

Di Kabupaten Kudus, banjir terjadi akibat meluapnya beberapa aliran sungai yang tidak mampu menampung debit air hujan. Sejumlah desa dilaporkan tergenang dengan ketinggian air bervariasi, mulai dari 30 hingga 80 sentimeter. Akibatnya, aktivitas warga terganggu dan sebagian akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Pati. Banjir menggenangi area persawahan dan permukiman warga, sehingga mengancam sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat setempat. Sejumlah petani mengeluhkan tanaman padi yang terendam air dan berpotensi mengalami gagal panen jika banjir tidak segera surut.

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah melakukan langkah penanganan darurat, seperti evakuasi warga, pendistribusian bantuan logistik, serta pemantauan kondisi sungai. Petugas juga disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan apabila intensitas hujan kembali meningkat.Banjir merupakan salah satu bencana alam yang kerap melanda wilayah Pulau Jawa, terutama di daerah pesisir utara (Pantura). Kabupaten Kudus, Jepara, dan Pati menjadi tiga wilayah di Jawa Tengah yang hampir setiap tahun menghadapi permasalahan serupa. Kondisi geografis, perubahan iklim, serta aktivitas manusia menjadi faktor utama yang memperparah risiko banjir di kawasan ini.

Penyebab Banjir di Kudus, Jepara, dan Pati

Secara geografis, Kudus, Jepara, dan Pati berada di wilayah dataran rendah dengan banyak aliran sungai yang bermuara ke Laut Jawa. Curah hujan yang tinggi, terutama saat musim penghujan, sering kali menyebabkan sungai-sungai meluap. Di Kudus, misalnya, banjir kerap terjadi akibat meluapnya Sungai Wulan dan Sungai Juwana yang tidak mampu menampung debit air berlebih.

Baca Juga:  Universitas Brawijaya Malang Lakukan Pengabdian Peningkatan Bumdes di 3 Desa Kabupaten Bintan

Selain faktor alam, aktivitas manusia turut berkontribusi besar. Alih fungsi lahan dari daerah resapan air menjadi kawasan permukiman dan industri mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Di Jepara dan Pati, penebangan hutan di daerah hulu serta sistem drainase yang kurang optimal juga memperburuk kondisi banjir. Sampah yang menyumbat saluran air menjadi masalah klasik yang belum sepenuhnya teratasi.

Dampak Banjir bagi Masyarakat

Banjir memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Ribuan rumah warga terendam, aktivitas pendidikan terganggu, dan akses transportasi terputus. Di sektor pertanian, banjir menyebabkan gagal panen yang merugikan petani, khususnya di Pati yang dikenal sebagai daerah agraris. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga berdampak pada kestabilan penghasilan masyarakat.

Selain itu, banjir meningkatkan risiko penyakit seperti diare, demam berdarah, dan infeksi kulit akibat lingkungan yang tidak higienis. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menangani dampak kesehatan pascabencana.

Upaya Penanggulangan dan Solusi

Penanggulangan banjir di Kudus, Jepara, dan Pati memerlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Normalisasi sungai, perbaikan sistem drainase, serta pembangunan tanggul menjadi langkah struktural yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Namun, solusi teknis saja tidak cukup.

Peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, seperti tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga daerah resapan air, menjadi langkah penting dalam pencegahan banjir. Edukasi lingkungan sejak dini dan penegakan aturan tata ruang juga harus diperkuat agar pembangunan tidak mengabaikan aspek keberlanjutan.

Banjir di Kudus, Jepara, dan Pati bukan sekadar bencana alam, melainkan juga cerminan dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Tanpa upaya serius dan berkelanjutan, banjir akan terus menjadi ancaman tahunan bagi masyarakat di wilayah Pantura Jawa Tengah. Oleh karena itu, diperlukan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman, lestari, dan tangguh terhadap bencana.

Baca Juga:  Supirman: Turnamen Guru Hidupkan Semangat Olahraga

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah bantaran sungai dan dataran rendah, serta mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama.


Oleh :

  • Aida Khifdiani Solikhah
  • Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi
  • Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *