NATUNAPENDIDIKAN

Subbihi Tekankan Budaya Bangun Karakter Siswa Vokasi

21
×

Subbihi Tekankan Budaya Bangun Karakter Siswa Vokasi

Sebarkan artikel ini
Kepala Sekolah SMKN 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Subbihi, M.Pd.,

“Pelestarian budaya lokal di SMKN 1 Bunguran Timur dijadikan fondasi pembentukan karakter, kreativitas, dan kesiapan generasi muda menghadapi era digital.”

NATUNA – Kepala Sekolah SMKN 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Subbihi, M.Pd., menegaskan bahwa penguatan budaya dan sastra lokal menjadi bagian penting dalam membangun karakter peserta didik sekolah vokasi di tengah tantangan era digitalisasi.

Menurut Subbihi, pelestarian budaya di lingkungan sekolah dilakukan melalui pembiasaan kegiatan sastra lama seperti pantun dan puisi yang terintegrasi dalam aktivitas sekolah. Kegiatan tersebut hadir dalam berbagai momen, mulai dari lomba pantun tingkat sekolah, pembacaan puisi saat pelepasan siswa, hingga kegiatan keagamaan dan OSIS.

“Ini memang tidak terstruktur secara formal, tetapi dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Pantun menjadi pembuka kegiatan, puisi dibacakan dalam acara-acara penting,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (6/2/2026).

Selain melalui pembiasaan, penguatan budaya juga masuk ke dalam pembelajaran formal. Materi sastra lama, penulisan karangan deskriptif, narasi, dan puisi diajarkan langsung oleh guru sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Subbihi menilai keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan seni dan budaya jauh lebih efektif dibandingkan sekadar melihat atau mendengar. Ia mengutip ungkapan, “I see, I forget. I do, I remember,” sebagai landasan pendekatan pendidikan di sekolah.

“Ketika anak-anak melakukan, mereka akan mengingat. Seni membawa kelembutan, membentuk sikap santun, dan membangun karakter,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa sekolah memandang kebudayaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, tanpa memandang latar belakang etnis. Sekolah menjadi miniatur pembentukan karakter bangsa yang menjunjung keberagaman.

Dalam kegiatan ekstrakurikuler, siswa diberikan kebebasan memilih sesuai minat, mulai dari syair, silat Melayu, seni tradisional, hingga kesenian daerah lain. Peran sekolah, kata Subbihi, adalah sebagai fasilitator, mediator, dan motivator agar potensi siswa terwadahi.

Baca Juga:  Geosite Pulau Akar Hadirkan Keindahan Ufuk Barat Merah Merona

Di era digital, SMKN 1 Bunguran Timur juga mendorong siswa memanfaatkan teknologi sebagai sarana promosi budaya lokal. Budaya dapat dikemas menjadi konten kreatif yang bernilai edukasi sekaligus berpotensi ekonomi melalui media sosial.

“Keaslian budaya lokal itu kekayaan bangsa. Kalau dikemas dengan kreativitas dan inovasi, bisa naik ke tingkat nasional bahkan internasional,” katanya.

Tantangan utama yang dihadapi, lanjut Subbihi, adalah keterbatasan waktu bagi siswa vokasi yang menjalani praktik kerja lapangan hingga enam bulan, khususnya di sektor maritim. Namun kondisi tersebut justru dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi.

“Siswa bisa menulis puisi tentang laut, ikan, atau pengalaman di kapal. Itu bisa jadi laporan portofolio, puisi, pantun, atau presentasi. Yang penting kontennya,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan budaya tidak boleh kaku dan harus adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai etika dan karakter.

“Kalau bukan kita sebagai guru yang menumbuhkan dan membudayakan, siapa lagi?” pungkas Subbihi. (KP).


Laporan: Dini


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *