DALAM beberapa tahun terakhir, perbincangan soal ketimpangan ekonomi kerap berkutat di ranah statistik dan narasi makro.
Namun di balik angka dan jargon kebijakan, sunyinya dapur rakyat menjadi bukti paling konkret bahwa jurang sosial-ekonomi kian melebar. Ketika elite bicara pertumbuhan dan efisiensi, masyarakat bawah bicara tentang nasi, minyak goreng, dan tungku yang jarang menyala.
Fenomena ini bukan sekadar retorika. Di banyak rumah tangga kelas pekerja dan informal, kebutuhan dasar kini menjadi tantangan harian. Harga bahan pokok merangkak naik, sementara bantuan sosial yang dijanjikan seringkali datang telat atau tak memadai.
Celakanya, strategi kebijakan pemerintah kerap menyasar penghematan fiskal tanpa mempertimbangkan dampak langsung ke akar rumput. Ironis, karena dapur rakyat adalah indikator paling sensitif dari krisis ekonomi.
Ketimpangan yang terjadi saat ini tidak muncul dalam semalam. Ia tumbuh perlahan dalam sistem yang terlalu sering berpihak ke atas. Ketika subsidi dipangkas atas nama efisiensi, siapa yang pertama kali merasakan efeknya?










