DI BALIK angka-angka pertumbuhan ekonomi yang terus dirayakan, realitas di lapangan menunjukkan kisah berbeda.
Ketimpangan masih menjadi luka lama yang belum sembuh. Saat segelintir kelompok menikmati hasil pembangunan, mayoritas rakyat justru harus bertahan dengan sisa daya.
Pemerintah kerap menggaungkan pencapaian makroekonomi, angka pertumbuhan, surplus neraca perdagangan, hingga indeks keyakinan konsumen. Namun pertanyaan pentingnya: apakah angka-angka tersebut mencerminkan kondisi sebenarnya yang dirasakan masyarakat bawah?
Salah satu indikasi nyata adalah stagnasi pendapatan riil masyarakat kelas bawah di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok. Sementara kelompok atas tetap mampu beradaptasi atau bahkan semakin makmur, kelompok bawah justru makin kesulitan. Akses terhadap pendidikan dan kesehatan bermutu juga masih timpang.
Distribusi pertumbuhan yang tidak merata inilah yang menjadi akar dari ketimpangan struktural. Celah antara narasi makro dan fakta mikro semakin menganga, di mana elite ekonomi bisa bicara ekspansi bisnis, sementara rakyat kecil justru menanti giliran makan.
Pertumbuhan tanpa pemerataan bukan kemajuan, melainkan jurang baru. Sudah saatnya kita mendesak kebijakan ekonomi yang tidak hanya pro-investasi, tetapi juga pro-rakyat. Karena pertumbuhan sejati bukan hanya tentang naiknya angka GDP, tetapi bagaimana angka itu sampai ke meja makan rakyat.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










