Data yang disusun untuk memudahkan pengambilan keputusan sering kali melupakan satu hal penting: rasa kenyang dan rasa aman warga negara.
Ketimpangan tak hanya soal ekonomi, tapi juga soal akses-akses terhadap pendidikan berkualitas, layanan kesehatan layak, dan pekerjaan dengan upah yang adil.
Dalam banyak kasus, warga miskin bahkan tak tercatat dalam sistem, membuat bantuan sosial tak tepat sasaran. Yang diukur hanya yang tercatat, sementara yang tak terdata terus tertinggal.
Kondisi ini adalah hasil dari sistem yang terlalu lama membiarkan akumulasi kekayaan di tangan segelintir elit, sembari membiarkan mayoritas rakyat berebut sisa.










