Jika narasi ekonomi tumbuh tak dibarengi distribusi yang adil, maka keberhasilan pembangunan hanyalah ilusi di atas kertas.
Sudah waktunya kebijakan ekonomi digeser dari orientasi angka menjadi orientasi manusia. Setiap grafik pertumbuhan harus dikaitkan langsung dengan dampaknya pada kehidupan nyata.
Apakah angka-angka itu membuat rakyat makan lebih layak, hidup lebih sehat, dan merasa lebih aman? Jika tidak, maka pertumbuhan itu semu.
Ketimpangan kini terlihat jelas, tak bisa lagi ditutup oleh retorika dan laporan tahunan. Ia hadir di piring makan rakyat. Dan jika negara tak segera bertindak untuk menyeimbangkan kembali keadilan ekonomi, maka piring-piring kosong itu bisa menjadi suara keras yang mengguncang legitimasi.
Oleh : Dhitto Adhitya, Redaktur Koran Perbatasan










