KETIKA pemerintah berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, statistik makro yang meningkat, dan iklim investasi yang kondusif, banyak rakyat kecil hanya bisa mengernyit.
Di balik angka-angka yang diklaim positif itu, ada kenyataan yang jauh berbeda di tingkat rumah tangga: kebutuhan pokok terus naik, subsidi menyusut, dan akses terhadap layanan dasar tak kunjung merata.
Narasi kemajuan memang menggugah. Ia digunakan dalam pidato resmi, konferensi pers, hingga kampanye politik. Namun, realita di lapangan menunjukkan bahwa “kemajuan” itu belum tentu inklusif.
Sebagian besar masyarakat justru merasa tertinggal, tidak terlibat, bahkan tidak diberi ruang untuk sekadar bertanya: “Apa makna pertumbuhan ekonomi jika dapur kami tetap kosong?”
Sebagian besar dari mereka yang hidup di bawah garis sejahtera tidak memerlukan paparan data kompleks. Mereka merasakannya setiap hari. Harga cabai yang melonjak, tarif transportasi yang tak stabil, dan biaya pendidikan anak yang kian berat.










