KETIKA bantuan sosial dirancang, tujuannya mulia: menjadi bantalan ekonomi bagi rakyat kecil di tengah tekanan krisis. Namun, realitas terbaru menunjukkan bahwa bantuan itu tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman.
Nilainya terlalu kecil, distribusinya tak selalu tepat, dan ketepatan waktunya kerap mengecewakan. Rakyat pun dipaksa kembali bertanya: siapa sebenarnya yang peduli dengan isi dompet kami?
Dalam beberapa bulan terakhir, harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Beras, telur, minyak goreng, hingga gas melon sudah tak lagi ramah kantong.
Sementara itu, program bantuan seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau sembako hanya datang sesekali, dengan nominal yang bahkan tidak cukup menutupi setengah dari total pengeluaran bulanan warga miskin perkotaan.










