KEUANGANOPINISALAM PERBATASAN

Pertumbuhan Ekonomi Menggeliat, Tapi Mengapa Rakyat Masih Tercekik?

407
×

Pertumbuhan Ekonomi Menggeliat, Tapi Mengapa Rakyat Masih Tercekik?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi timbangan klasik yang timpang antara dokumen pertumbuhan ekonomi dan isi piring rakyat.

PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia dikabarkan terus menunjukkan tren positif. Angka Produk Domestik Bruto (PDB) naik, investasi asing masuk, dan indeks kepercayaan konsumen pun relatif stabil. Namun, ada satu pertanyaan yang terus menggema di tengah masyarakat bawah: jika ekonomi menggeliat, mengapa kehidupan kami justru makin tercekik?

Opini ini bukan sekadar keluhan populis, melainkan cerminan dari ketimpangan struktural yang tak kunjung diperbaiki. Dalam data makro, ekonomi memang tumbuh, tetapi pertumbuhan itu tidak menjalar ke dapur rakyat. Upah riil stagnan, harga kebutuhan pokok naik, dan subsidi sosial yang dipangkas justru mempersempit ruang napas keluarga kecil.

Ketimpangan yang Kian Terlihat

Fenomena ini bukan hal baru. Ketimpangan distribusi kekayaan sudah lama menjadi sorotan para ekonom. Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa sebagian besar kekayaan nasional masih terkonsentrasi di tangan segelintir elite. Sementara itu, mayoritas masyarakat justru mengalami penurunan daya beli akibat tekanan inflasi dan biaya hidup yang makin membengkak.

Kesenjangan itu bukan hanya soal angka, tapi juga soal pengalaman hidup sehari-hari. Seseorang yang berada di level bawah ekonomi akan merasakan dampak inflasi dengan sangat nyata, bahkan hanya dari kenaikan harga cabai atau beras. Sedangkan mereka yang di puncak piramida bisa tetap melenggang tanpa terganggu.

Baca Juga:  Efisiensi atau Erosi? Dampak Nyata Pemangkasan Anggaran pada Kehidupan Warga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *