DI BANYAK PELOSOK NEGERI, bantuan sosial pernah menjadi penyangga terakhir bagi keluarga miskin. Ia menjadi harapan bulanan yang ditunggu, jaring pengaman dari gejolak ekonomi. Namun kini, bantuan itu tak lagi cukup. Bukan hanya dari segi jumlah, tetapi juga dari segi daya topang terhadap kebutuhan dasar yang terus melambung.
Harga kebutuhan pokok naik tak terkendali. Inflasi pangan merangkak diam-diam, sementara subsidi yang dikucurkan terasa stagnan. Pemerintah berbicara tentang efisiensi anggaran, namun rakyat di lapangan tak punya ruang untuk efisiensi lebih jauh, karena yang mereka potong adalah kebutuhan paling dasar: makan, pendidikan anak, dan biaya berobat.
Realita ini menelanjangi satu hal: sistem bantuan yang selama ini diklaim sebagai solusi justru kian menunjukkan kelemahannya. Ketika harga beras naik dua kali lipat, dan bantuan pangan datang telat atau tak merata, maka keluarga miskin terpaksa berutang atau mengorbankan kebutuhan lain. Mereka hidup dalam strategi bertahan, bukan berkembang.










