DI LAYAR televisi dan lembaran laporan resmi, pertumbuhan ekonomi Indonesia ditunjukkan dalam angka-angka yang tampak meyakinkan. Grafik melambung, indikator makro seperti Produk Domestik Bruto (PDB) diklaim terus naik, dan inflasi relatif terkendali menurut pemerintah.
Namun, di balik semua itu, suara-suara lirih dari dapur rakyat kecil mulai terdengar semakin keras, mereka yang harus menanak nasi tanpa lauk, atau menunda belanja karena harga bahan pokok melonjak sementara pemasukan stagnan.
Pertanyaan mendasarnya: untuk siapa sebenarnya pertumbuhan ekonomi ini?
Konsep pertumbuhan ekonomi semestinya tidak hanya berhenti di atas kertas atau laporan statistik. Ia harus hadir nyata dalam keseharian rakyat.
Jika grafik ekonomi menanjak tetapi angka kemiskinan ekstrem sulit turun, jika surplus APBN diumumkan tetapi bantuan sosial menyusut dan subsidi dipangkas, maka ada yang salah secara struktural dalam distribusi hasil pembangunan.










