“Di kedalaman laut Natuna, fragmen kecil karang ditanam dengan harapan besar menyelamatkan masa depan laut dari kehancuran yang pelan namun pasti.”
Redaksi Koran Perbatasan pernah berdiri di tepian laut Natuna, memandang sunyi yang terlalu jujur untuk disangkal. Ombak datang silih berganti seperti mengetuk pintu kesadaran, seakan bertanya siapa yang benar-benar mendengar suara laut yang mulai lelah. Di antara serpihan karang hidup, tertulis “Koran Perbatasan” bukan sebagai tanda kebanggaan, melainkan sebagai pengingat sunyi bahwa masih ada tangan-tangan yang bekerja tanpa sorot lampu, sementara sebagian pemilik kuasa mungkin masih sibuk menghitung daratan, lupa bahwa negeri ini berdiri di atas lautan.
NATUNA – Tulisan “Koran Perbatasan” itu tidak lahir dari kebetulan. Ia terukir pada potongan kecil koloni karang hidup yang menjadi bagian dari upaya restorasi, rehabilitasi, dan konservasi terumbu karang di perairan Natuna. Namun pesan sebenarnya bukan tentang tulisan itu. Pesan sesungguhnya adalah tentang tangan-tangan yang memilih bekerja diam-diam, menanam harapan dalam bentuk fragmen karang yang rapuh, demi masa depan yang belum tentu mereka nikmati sendiri.
Di Pulau Setanau, Desa Sabang Mawang, Kecamatan Pulau Tiga, upaya itu kini terus tumbuh. Lembaga Pengelola Sumber Daya Pesisir (LPSDP) memulai pembangunan taman karang sebagai langkah nyata menyelamatkan ekosistem laut yang mulai mengalami kerusakan.
Cherman, pemilik Natuna Dive Centre, adalah salah satu penjaga sunyi itu. Pada Jumat (13/02/2026), ia menjelaskan bagaimana setiap fragmen karang ditanam menggunakan patok semen agar memiliki struktur kuat sebelum dipindahkan ke gugusan karang yang rusak.
“Tujuannya jelas, untuk memulihkan kerusakan terumbu karang dan menjaga habitat agar jenis karang yang ada tidak punah. Kami membangun taman karang ini secara bertahap di Pulau Setanau yang juga merupakan kawasan Geopark,” ujar Cherman kepada Koran Perbatasan.
Ia menggambarkan proses itu seperti merawat kehidupan yang berjalan lambat. Bibit karang diambil dari alam, dipecah menjadi fragmen kecil, lalu ditanam satu per satu. Setiap blok taman karang berisi sekitar 100 fragmen. Namun waktu adalah ujian terbesar.
“Tanam memang langsung tumbuh, tapi proses besarnya lama. Tergantung tempat dan kesehatan bibit, ada yang pertumbuhannya hanya 1 milimeter hingga 1 centimeter per tahun. Paling cepat mungkin 1 centimeter dalam tiga bulan,” katanya.
Pulau Setanau dipilih bukan tanpa alasan. Selain merupakan bagian dari Site Geopark Natuna, wilayah ini juga dekat dengan pemukiman, memudahkan pengawasan, serta dikenal sebagai tempat berpijah ikan, ruang lahir bagi kehidupan yang menopang dapur masyarakat pesisir. Di sinilah laut menunjukkan perannya sebagai ibu yang memberi, namun juga bisa kehilangan kemampuannya jika tidak dijaga.
Kabupaten Natuna sendiri adalah wilayah yang hampir seluruh tubuhnya adalah laut. Dari total luas wilayah sekitar 262.197 hingga 264.198 kilometer persegi, hanya sekitar 2.001 hingga 2.100 kilometer persegi yang berupa daratan. Artinya, lebih dari 99 persen wilayah Natuna adalah perairan, rumah bagi sumber penghidupan utama masyarakatnya.
Ironisnya, penyelamatan rumah itu justru sering dimulai oleh komunitas kecil, bukan oleh kekuatan besar yang memiliki sumber daya lebih. LPSDP yang berdiri sejak 2012 kini bersinergi dengan Natuna Dive Center, Kelompok Sadar Wisata, dan Pemerintah Desa Sabang Mawang. Namun perjuangan itu tidak mudah.
“Kendala kita saat ini adalah pendanaan. Biaya operasional tidak sedikit karena kami harus menyewa transportasi tiap kali menuju lokasi. Kami berharap ada dukungan dari orang-orang yang peduli melalui program adopsi terumbu karang yang kami buka,” pungkas Cherman.
Fragmen-fragmen itu kini berdiri di dasar laut, diam, namun penuh makna. Mereka tidak berteriak, tidak menuntut, tidak memaksa. Mereka hanya tumbuh perlahan, setia, dan sabar. Seperti harapan yang menunggu untuk benar-benar didengar. (KP).
Laporan: Red










