TAJUK

Menuding Wartawan Merusak Pembangunan, Serangan Terhadap Marwah Demokrasi Natuna

102
×

Menuding Wartawan Merusak Pembangunan, Serangan Terhadap Marwah Demokrasi Natuna

Sebarkan artikel ini
Amran, Pemimpin Redaksi Koran Perbatasan, saat menulis tajuk editorial tentang marwah pers dan demokrasi Natuna di ruang redaksi.

“Tuduhan wartawan merusak pembangunan Natuna menjadi polemik serius di ruang publik. Menuduh wartawan sebagai perusak dan penghambat pembangunan serta mengaitkannya dengan rezim lama yang korup bukan sekadar opini, melainkan serangan langsung terhadap harga diri dan martabat profesi pers sebagai pilar keempat demokrasi.”

SOMASI terbuka yang dilayangkan gabungan empat organisasi wartawan Natuna PWI, PJN, IWOI, dan SMSI pada 16 Februari 2026 menjadi respons tegas atas tudingan yang menyebut oknum wartawan sebagai perusak dan penghambat pembangunan serta bagian dari rezim lama yang korup.Tuduhan melalui akun anonim di media sosial tersebut dinilai mencederai kehormatan profesi dan merusak ekosistem demokrasi daerah perbatasan.

Kata “merusak” dan “menghambat pembangunan” bukan diksi ringan. Ia adalah tudingan serius yang menyerang integritas. Ketika tudingan itu diarahkan kepada wartawan secara umum, bahkan diseret ke narasi “rezim lama yang korup”, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi individu, tetapi harga diri profesi.

Pers adalah pilar keempat demokrasi. Ia berdiri bukan untuk menyenangkan kekuasaan, melainkan untuk mengawasi kekuasaan. Ia bukan penghambat pembangunan, melainkan penjaga agar pembangunan tidak menyimpang dari kepentingan rakyat.

Menggeneralisasi wartawan sebagai bagian dari rezim korup adalah bentuk delegitimasi yang berbahaya. Kritik terhadap kebijakan publik bukanlah tindakan merusak. Kritik adalah koreksi. Kritik adalah alarm dini. Kritik adalah bentuk cinta terhadap daerah.

Jika ada oknum, sebutkan. Jika ada pelanggaran, tempuh jalur hukum. Tetapi menyapu bersih profesi dengan stigma “abal-abal”, “perusak”, dan “penghambat” adalah tindakan yang tidak adil dan mencederai ruang publik.

Lebih ironis lagi ketika tudingan itu disampaikan melalui akun anonim. Keberanian tanpa identitas bukanlah keberanian sejati. Demokrasi yang sehat berdiri di atas transparansi dan tanggung jawab, bukan lempar batu sembunyi tangan.

Baca Juga:  Supriyanto: Natuna Harus Maju dengan Lapangan Kerja

Natuna membutuhkan pembangunan yang bersih dan kuat. Namun pembangunan yang sehat tidak alergi terhadap kritik. Justru pemerintahan yang transparan akan semakin kokoh ketika diawasi pers yang independen.

Redaksi Koran Perbatasan menegaskan, menjaga marwah wartawan berarti menjaga marwah demokrasi. Harga diri profesi tidak boleh diinjak oleh narasi yang tidak berdasar. Karena ketika pers dilemahkan, maka yang sesungguhnya terancam adalah kebenaran dan masa depan pembangunan itu sendiri. Natuna maju bukan karena membungkam kritik. Natuna maju karena keberanian menjaga kebenaran.


Redaksi Koran Perbatasan – Menjaga Suara dari Ujung Negeri


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *