
Selain menyediakan uang pecahan baru, masyarakat juga bisa menukarkan uang lusuh atau tidak layak edar dalam kegiatan ini.
Program IRB ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat, terutama pelaku usaha mikro yang selama ini kesulitan mendapatkan uang pecahan kecil untuk keperluan transaksi harian.
Seorang warga Anambas yang enggan disebut namanya menyampaikan kegiatan ini sangat membantu pelaku usaha, terutama pemilik toko dan warung kecil.
“Orang tua saya dagang, dan memang di toko rata-rata uang besar semua. Pecahan kecil itu susah dicari. Jadi adanya penukaran ini sangat membantu, apalagi saat belanja atau memberikan uang kembalian,” ujarnya.
Pihaknya juga berharap program serupa dapat dilakukan secara rutin, minimal empat kali dalam setahun, khususnya menjelang momen seperti Lebaran, di mana kebutuhan uang pecahan kecil melonjak tajam.
“Kalau bisa ada setiap bulan atau minimal empat kali setahun. Soalnya pas Lebaran, semua orang belanja pakai uang besar, dan kita kesulitan kasih kembalian,” tambahnya.
Program IRB dari Bank Indonesia ini sekaligus menunjukkan komitmen terhadap inklusi keuangan dan pelayanan kas yang menjangkau wilayah-wilayah terpencil, serta menjadi bagian dari edukasi literasi rupiah kepada masyarakat 3T. (KP).
Laporan : Azmi










