INFLASI bukan lagi sekadar istilah statistik ekonomi yang hanya dipahami para pejabat dan akademisi. Ia telah menjelma menjadi sosok nyata yang duduk di meja makan rakyat, ikut menyendok nasi yang makin tipis, mengikis lauk yang makin sederhana.
Saat harga-harga kebutuhan pokok melonjak, dan kebijakan yang diklaim “pro-rakyat” tak kunjung terasa, yang terjadi adalah kekosongan nyata di dapur, di kantong, di masa depan.
Selama bertahun-tahun, pemerintah menyanjung keberhasilan menjaga stabilitas makroekonomi. Namun stabilitas itu sering kali tak terasa bagi rakyat kecil yang bergulat dengan pengeluaran harian yang terus menanjak.
Setiap kebijakan subsidi atau bantuan sosial selalu dikemas dalam bahasa naratif yang seolah megah, tetapi fakta di lapangan menunjukkan masih banyak warga yang bahkan tak tahu kapan dan bagaimana bantuan itu datang, jika datang.
Naiknya harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan cabai dalam beberapa bulan terakhir, menunjukkan bahwa inflasi tak hanya membebani, tapi juga mempersempit pilihan hidup.
Jika sebelumnya keluarga bisa menyisihkan sedikit untuk pendidikan anak atau tabungan darurat, kini semuanya habis untuk bertahan hidup. Dalam kondisi ini, efisiensi anggaran pemerintah yang sering dijadikan alasan terasa sebagai pisau bermata satu: memotong harapan rakyat, tanpa menyentuh kemewahan birokrasi.










