“Pemilik Kopi Piwang, Bonk Dani, mengungkapkan bahwa pelemahan ekonomi dan daya beli masyarakat turut berdampak pada penjualan produknya, dengan penurunan sekitar 20-30 persen. Ia berharap pemerintah daerah dapat menjaga kestabilan harga kebutuhan dan mendorong perputaran ekonomi lokal agar pelaku UMKM tetap bertahan.”
NATUNA – Pelemahan ekonomi dan daya beli masyarakat mulai dirasakan pelaku usaha lokal di Kabupaten Natuna. Bonk Dani, pemilik merek Kopi Piwang, menyebut penjualan produknya mengalami penurunan sekitar 20-30 persen di tengah kondisi ekonomi yang dinilainya sedang melambat.
Keterangan tersebut disampaikan Bonk Dani saat berbicara mengenai perjalanan usaha dan kondisi ekonomi Natuna pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kabupaten Natuna. Menurutnya, tantangan ekonomi tidak hanya dirasakan di daerah Natuna, tetapi juga terjadi di berbagai daerah akibat tekanan fiskal dan pengurangan anggaran dari pemerintah pusat.
“Kalau pengaruh pasti ada. Dengan geliatnya ekonomi sekarang ini. Ekonomi kita sekarang ini kan memang agak tengah turun. Ya memang punya dampak terhadap penjualan kopi piwang. Tapi dampaknya tidak terlalu besar,” ujar Bonk Dani.
Ia kemudian menjelaskan besaran penurunan penjualan yang dialami usahanya. “Turun sekitar 20-30% lah penjualan kopi piwang. Akibat dari dampak lemahnya perekonomian saat ini,” katanya.
Penurunan tersebut menjadi gambaran tantangan yang dihadapi Kopi Piwang sebagai salah satu usaha lokal. Meski demikian, angka yang disampaikan Bonk Dani merupakan kondisi penjualan usahanya dan tidak serta-merta mewakili seluruh pelaku UMKM di Natuna.
Bonk Dani Bangun Kopi Piwang dari Nol
Bonk Dani menceritakan membangun Kopi Piwang bukan perjalanan yang mudah. Ia memulai usaha tersebut dari nol, bukan melanjutkan usaha warisan, sehingga harus berjuang memperkenalkan produknya kepada masyarakat dan menghadapi persaingan dengan merek kopi pabrikan.
“Penuh perjuangan. Kenapa saya sebut penuh perjuangan? Yang namanya kita membangun suatu usaha. Apalagi saya adalah perintis bukan pewaris,” ungkapnya.
Dalam perjalanan usaha, ia mengaku pernah menghadapi pandangan meremehkan dari sejumlah pihak yang meragukan produknya mampu bersaing dengan merek besar. Namun, kondisi itu tidak membuatnya berhenti mengembangkan Kopi Piwang.
“Tapi saya tidak pernah patah arang, saya tidak pernah berkecil hati dengan bahasa-bahasa underestimate kepada saya. Saya terus berjalan, saya terus bergerak, saya optimis karena saya yakin dan percaya bahwa rezeki itu sudah Allah atur,” tuturnya.
Menurut Bonk Dani, konsistensi dan keyakinan menjadi bagian penting dalam mempertahankan usaha. Ia juga menjadikan kualitas produk sebagai nilai yang membedakan Kopi Piwang dari produk lainnya.
Kualitas Produk Menjadi Andalan
Bonk Dani menjelaskan bahwa Kopi Piwang memiliki nilai jual yang diupayakan berbeda dari produk pesaing. Salah satu hal yang ia tekankan adalah produknya dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet.
“Saya percaya bahwa usaha saya akan berjalan karena saya meyakini kopi piwang ini kan dibuat tidak menggunakan bahan pengawet. Artinya itulah value-nya saya. Value-nya kopi Piwang beda dengan produk lain,” jelasnya.
Ia mengakui produk pabrikan mungkin memiliki keunggulan dari sisi kemasan dan daya tarik visual. Namun, Bonk Dani memilih mempertahankan karakter produk Kopi Piwang sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan konsumen.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal tidak hanya menghadapi persaingan produk, tetapi juga harus menjaga keberlangsungan usaha ketika daya beli masyarakat melemah.
Bonk Dani Berharap Pemerintah Jaga Stabilitas Ekonomi
Menghadapi kondisi ekonomi saat ini, Bonk Dani berharap pemerintah daerah mengambil langkah untuk membantu menjaga kestabilan harga kebutuhan masyarakat. Menurutnya, harga yang lebih terkendali dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus mendukung perputaran ekonomi lokal.
“Ya, kalau saya lihat pemerintah ya memang harus paling tidak itu ya menstabilkan. Kalau untuk terkait dengan ekonomi ya memang harus menstabilkan perekonomian. Harga-harga yang mahal ya mungkin bisa ditekan,” ujarnya.
Ia menilai upaya tersebut membutuhkan kebijakan dan keterlibatan perangkat daerah terkait, termasuk instansi yang menangani perdagangan dan perindustrian.
Bonk Dani juga menyampaikan pandangannya mengenai pembangunan Natuna selama 27 tahun. Ia mengapresiasi perkembangan infrastruktur jalan yang menurut pengamatannya semakin baik, meskipun sektor ekonomi masih membutuhkan perhatian.
“Untuk pembangunan saya rasa sejauh ini kalau jalan alhamdulillah,” katanya.
Menurutnya, pembangunan daerah perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ekonomi masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas.
HUT ke-27 Natuna, Harapan untuk Ekonomi yang Lebih Kuat
Pada momentum HUT ke-27 Kabupaten Natuna, Bonk Dani berharap daerah ini semakin maju dan mampu bersaing dengan wilayah lain. Ia juga menginginkan masyarakat hidup lebih sejahtera dalam suasana rukun dan harmonis.
“Yang pasti harapan saya dengan ulang tahun Kabupaten Natuna yang ke-27 ini menjadi kabupaten yang terus maju berkembang dan semakin jaya,” ujarnya.
Ia melanjutkan, “Dan semoga masyarakat Kabupaten Natuna semakin sejahtera, rukun harmonis, pembangunan berjalan lancar serta membawa kebaikan dan keberkahan untuk seluruh warga Natuna.”
Harapan tersebut menjadi pesan Bonk Dani bagi masa depan Natuna, terutama agar pembangunan daerah turut memperkuat ekonomi masyarakat dan memberi ruang bagi UMKM lokal untuk terus tumbuh.
Laporan: Dini










