EKONOMI PERBATASANENERGI & MIGASKABAR PERBATASANKEUANGANNATUNAPEMBANGUNAN DAERAHPOLITIKPULAU TERLUARSUARA RAKYATTRANSPORTASIUMKM PERBATASAN

Cen Sui Lan, 27 Tahun Natuna: Potensi Besar, Kesejahteraan Dipertanyakan

×

Cen Sui Lan, 27 Tahun Natuna: Potensi Besar, Kesejahteraan Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi — Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menjadi sorotan dalam refleksi HUT ke-27 Kabupaten Natuna terkait tantangan mengubah potensi migas, perikanan, dan pariwisata menjadi kesejahteraan masyarakat. Dr. H. Amirudin, MPA, Hamid Hasnan, S.Pd., M.A., dan Dr. H. Kartubi, S.E., M.E.I., menyoroti pentingnya penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, dan pemerataan manfaat pembangunan. Koranperbatasan.com.

“Memasuki usia ke-27 tahun, Kabupaten Natuna menghadapi pertanyaan mendasar: sejauh mana kekayaan sumber daya alam dan pembangunan daerah telah membuka lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat?”

NATUNA – Bupati Natuna, Cen Sui Lan, menghadapi tantangan untuk memastikan potensi minyak dan gas bumi (migas), perikanan, serta pariwisata benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada usia ke-27 Kabupaten Natuna, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari infrastruktur yang berdiri atau besarnya potensi alam, tetapi juga dari kesempatan kerja, daya beli, dan peluang usaha yang dapat dinikmati warga.

Pendidik dan sosiolog sekaligus Direktur Eksekutif Archipelago Natuna Research Center (ANRC), Dr. H. Amirudin, MPA, menilai Hari Jadi Natuna ke-27 perlu menjadi momentum untuk mengevaluasi hubungan antara potensi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan bahwa pembangunan harus dinilai dari perubahan nyata dalam kehidupan warga, termasuk kesempatan kerja, keterjangkauan kebutuhan pokok, kualitas pelayanan publik, serta pemerataan pembangunan hingga pulau-pulau terluar.

“Bagi saya, Hari Jadi Natuna ke-27 harus menjadi momentum untuk beralih dari kebanggaan atas potensi menuju pembuktian kesejahteraan,” kata Amirudin dalam naskah refleksinya.

Lapangan Kerja Menjadi Persoalan Penting

Sorotan terhadap kesejahteraan masyarakat juga disampaikan Hamid Hasnan, S.Pd., M.A., mantan Camat Bunguran Timur periode 2020-2024. Ia menilai kondisi infrastruktur dasar Natuna telah mengalami kemajuan dibandingkan masa ketika daerah tersebut masih berstatus kecamatan. Namun, menurutnya, kebutuhan masyarakat saat ini tidak berhenti pada pembangunan fisik.

“Kalau dibandingkan masa lalu saat masih kecamatan, kondisi infrastruktur, jalan, listrik, dan air bersih di Natuna hari ini sudah jauh lebih baik dan memadai. Masalahnya sekarang masyarakat tidak butuh melulu pembangunan fisik, masyarakat butuh makan dan butuh lapangan kerja,” ujar Hamid dalam wawancara dengan Koran Perbatasan.

Hamid juga menyoroti kesulitan lulusan perguruan tinggi dalam memperoleh pekerjaan serta terbatasnya daya beli yang berdampak terhadap usaha kecil. Ia menilai penciptaan lapangan kerja perlu menjadi perhatian utama agar masyarakat memiliki sumber penghasilan dan kegiatan ekonomi lokal dapat bergerak.

Baca Juga:  Ketua Komisi I DPRD Natuna, Lakukan Kunker di Kecamatan Bunguran Barat

“Anak-anak kita tamat kuliah bingung mau kerja di mana. Mau buka usaha kedai, yang mau beli siapa? Warga tidak punya uang karena tidak ada lapangan kerja. Pada dasarnya masyarakat malu menadahkan tangan meminta bansos, tapi terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Tugas utama Pemkab hari ini adalah menciptakan lapangan kerja agar ekonomi berputar,” terangnya.

Pernyataan Hamid tersebut menempatkan penciptaan pekerjaan sebagai salah satu persoalan yang perlu dijawab dalam pembangunan Natuna. Ia juga menyarankan pengembangan investasi kelautan dan perikanan, termasuk industri pengolahan hasil laut, agar potensi wilayah perairan dapat menciptakan nilai tambah dan kesempatan kerja di daerah.

Kekayaan Alam Perlu Menggerakkan Ekonomi Lokal

Pandangan mengenai belum optimalnya manfaat sumber daya alam turut disampaikan Dr. H. Kartubi, S.E., M.E.I., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Natuna. Dalam naskah tanggapannya untuk HUT ke-27 Kabupaten Natuna, Kartubi menekankan pentingnya mengubah kekayaan alam menjadi pendapatan masyarakat, pekerjaan bagi putra-putri daerah, serta peluang bagi pengusaha lokal.

“Menurut saya, persoalan utama Natuna bukanlah kekurangan sumber daya alam, melainkan bagaimana mengubah kekayaan sumber daya alam tersebut menjadi pendapatan masyarakat, kesempatan kerja bagi putra-putri daerah, peluang usaha bagi pengusaha lokal, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tulis Kartubi.

Kartubi juga memaparkan sejumlah angka dalam naskahnya. Ia menyebut sektor pertambangan dan penggalian menyumbang 68,60 persen terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Natuna pada 2025, sementara ekonomi nonmigas mengalami kontraksi 1,61 persen. Ia turut mencatat penurunan produksi perikanan dan jumlah kunjungan wisatawan pada periode yang dibandingkannya.

Angka-angka tersebut merupakan data yang dicantumkan Kartubi dalam naskah tanggapannya. Untuk penggunaan sebagai dasar kesimpulan resmi mengenai kondisi ekonomi, data tersebut perlu dicocokkan dengan publikasi statistik pemerintah yang menjadi sumbernya.

Baca Juga:  MAKNA DAN KRITIK SINGKAT DIBALIK PUISI ‘AJAL’ KARYA RAMON DAMORA

Menurut Kartubi, evaluasi pembangunan tidak hanya perlu melihat besarnya sumber daya yang tersedia, tetapi juga seberapa jauh manfaat ekonomi berputar di daerah, meningkatkan daya beli, menciptakan pekerjaan, dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menjadi pelaku kegiatan ekonomi.

Capaian Pemerintah dan Pekerjaan yang Masih Perlu Dikawal

Di sisi lain, data yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Natuna menunjukkan sejumlah indikator pembangunan mengalami perkembangan. Dalam pemberitaan resmi HUT ke-27, Pemkab Natuna mencatat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada 2025 mencapai 78,94 poin. Tingkat kemiskinan tercatat 4,81 persen, turun 0,44 poin dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan tingkat pengangguran terbuka berada pada angka 3,98 persen.

Pemerintah daerah juga melaporkan pertumbuhan ekonomi hingga triwulan II 2026 sebesar 9,51 persen dengan memperhitungkan migas. Adapun pertumbuhan ekonomi tanpa migas tercatat 0,59 persen, membaik dibandingkan kontraksi 1,61 persen pada tahun sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan Natuna. Namun, angka pertumbuhan dan indikator makro tetap perlu dibaca bersama kondisi kesempatan kerja, aktivitas usaha lokal, pendapatan masyarakat, dan pemerataan manfaat pembangunan.

Bagi Bupati Natuna Cen Sui Lan, tantangan berikutnya adalah memastikan program pembangunan dan pemanfaatan potensi daerah benar-benar memperluas kesempatan ekonomi bagi warga. Perhatian terhadap lapangan kerja, penguatan UMKM, investasi yang memberi manfaat lokal, serta pengolahan hasil perikanan dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Pernyataan Amirudin, Hamid Hasnan, dan Kartubi berasal dari naskah masing-masing. Ketiganya tidak menyampaikan satu pernyataan bersama, tetapi menyoroti persoalan yang berkaitan, bagaimana pembangunan dan kekayaan alam Natuna dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih nyata bagi masyarakat.

Pada usia ke-27, pertanyaan yang patut terus diajukan bukan hanya seberapa besar potensi Natuna, melainkan seberapa luas masyarakat memperoleh kesempatan untuk menikmati dan mengembangkan potensi tersebut. Teruskan pembangunan, perkuat kebersamaan, budaya terjaga Natuna berjaya. Arif melangkah berjaya tuah.


Redaksi


📊 Views: 65

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *