Industri Hulu Migas dan Geopark Natuna Suatu Alasan Mutiara itu Semakin Berkilau

oleh -1.155 views
Potret-ilustrasi-salah-satu-kawasan-Giosite-Giopark-Natuna-dan-Blok-Migas-yang-dikelola-oleh-Industri-Hulu-Migas

NATUNA (KP),- Perjuangan Industri Hulu Bidang Minyak dan Gas Bumi Nasional oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) bermitra dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) wilayah Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) beroperasi melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di Natuna sekaligus berpartisipasi memberikan subangsih dan berkontstribusi pula kepada pengembangan Geopark Natuna merupakan suatu alasan penting menjadikan “mutiara” bangsa kekayaan alam Indonesia bernama Natuna itu semakin berkilau.

Geosite Tanjung Datuk terletak di Kecamatan Bunguran Utara (Sumber poto : Net)

Bahwa tempo hari, pada November 2018, Natuna telah dipermaklumkan penetapannya menjadi taman bumi nasional terbaru di Indonesia, kini pun sedang diperjuangkan dan diusulkan menjadi taman bumi warisan dunia (UNESCO Global Geopark Heritage) di bawah pengakuan organisasi PBB bidang pendidikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan UNESCO (United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization) juga merupakan instrumen strategis dalam mendorong percepatan kemajuan pembangunan Natuna berbasis kepada paradigma bernilai pelestarian eco-maritim kepulauan.

Kedudukan Natuna dalam peta kita maupun kawasan letak persisnya sangat strategis berada di tengah episentrum regional ASEAN. Dengan demikian betapa Natuna sangat menguntungkan dalam memegang kendali dominasi memainkan peran penting potensi “senjata strategis” diplomasi bangsa yang dimiliki negara hingga disebut sebagai mutiara. Natuna lebih jauh bahkan bukan hanya mutiaranya Indonesia, akan tetapi juga mutiaranya bagi ASEAN Plus.

Pimpinan Bersama Masyarakat Ramai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Anizar Sulaiman

Pernyataan ini disampaikan oleh, Pimpinan Bersama Masyarakat Ramai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Anizar Sulaiman, menjawab koranperbatasan.com dikediamannya Jalan Pramuka Ranai, Minggu 02 Agustus 2020, ketika ditanya tentang kontribusi Industri Hulu Migas mendukung Geopark Natuna.

Pegiat Fenomeno-Sosial Politik ini mengatakan SKK Migas bersama KKKS dalam hal ini dapat mendorong Geopark Natuna menjadikan Kabupaten Natuna pemain penting sebagai alat diplomasi Indonesia kepada dunia. Mutiara Indonesia bernama Natuna ini harus dijadikan mercusuar dunia untuk menegaskan kedaulatan NKRI.

Salah satu Blok Migas yang dikelola oleh Industri Hulu Migas (Sumber poto : Net)

Menurutnya, SKK Migas sebagai upaya menegaskan kedaulatan energi bangsa dan Natuna merupakan lokasi kandungan Migas besar yang mempunyai prospek cukup cerah. Bahkan sektor Migas yang merupakan bagian dari mutiara Indonesia itu, sudah dieksplorasi dan dieksploitasi harus memberikan nilai tambah (added-value) bahkan surplus nilai (surplus-value) bagi kemajuan peradaban kita.

“Nah, Natuna memiliki kandungan Migas yang besar, itu adalah sebuah keniscayaan bahwa SKK Migas memang harus maksimal dari keadaan yang sudah-sudah. Bila perlu peningkatan untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi di Natuna harus lebih maksimal lagi,” ujarnya.



Kemudian lanjut Rhah panggilan khas Anizar Sulaiman, kaitannya dengan geopark merupakan bagian dari pemeliharaan kekayaan alam Indonesia secara sustainable. Artinya, di samping mengeksploitasi Migas-nya, maka kekayaan alam yang lain seperti kekayaan maritim dan hayati harus terpelihara terus menerus, sebagai kekayaan yang dapat memberikan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Geosite Batu Kasah terletak di Kecamatan Bunguran Selatan

SKK Migas yang berkontribusi kepada geopark adalah suatu hal yang saling membutuhkan. Dengan eksplorasi dan eksploitasi SKK Migas tidak menimbulkan dampak lingkungan menjadi rusak.

“Adanya geopark, justru lingkungan alam terpelihara menjadi wahana penelitian, konsultasi, konservasi dan perlindungan dunia,” pungkasnya mengakhiri sesi wawancara.

Terpisah, Ronny Kambey, Ketua LSM Forum Masyarakat Miskin (Formis) Kabupaten Natuna mengatakan kontribusi Industri Hulu Migas bisa menjadi pendongkrak pengembangan Geopark Natuna secara berkelanjutan.

“SKK Migas bisa saja menggunakan program dana CSR dalam pengembangannya. Artinya, Badan Pengelola Geopark Natuna dan dinas terkait, harus menggandeng SKK Migas,” ujar Ronny, di Kedai Kopi Ayong, Senin 03 Agustus 2020.

Ronny Kambey, Ketua LSM Forum Masyarakat Miskin (Formis) Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau

Sosok pemerhati masa depan Natuna itu, berharap perjuangan Industri Hulu Migas dan Badan Pengelola Geopark Natuna bisa sinergi menyokong kedaulatan teritorial maritim Indonesia, sekaligus mendorong upaya konservasi bagi kekayaan alam dan keanekaragaman hayati maupun kekayaan budaya bernilai “mutiara” di Kabupaten Natuna.

Ronny memastikan perjuangan SKK Migas bersama KKKS wilayah Sumbagut pada Geopark Natuna bisa menjadi suatu alasan mutiara itu semakin berkilau. Karena Natuna sendiri telah ditetapkan sebagai Geopark Nasional terbaru di Indonesia.

Sejalan dengan itu, Ketua Komunitas Pemuda Natuna (Komuna), Muttaqien, menyebutkan pencapaian target dari perjuangan operasi Industri Hulu Migas dan Badan Pengelola Geopark Natuna diharapkan dapat mendorong percepatan pembangunan mutiara di perbatasan utara Indonesia.

“Seperti keberadaan pulau-pulau tidak berpenghuni itu juga perlu mendapat pengawasan dari ancaman perebutan penguasaan oleh negara asing. Sebab gugusan pulau yang terbentang di Natuna berhadapan langsung dengan banyak negara dan kerap mengalami konflik atau sengketa atas klaim teritorial,” tegasnya.

Muttaqien, ST Ketua Komunitas Pemuda Natuna (Komuna), Kabupaten Natuna Provinsi Kepulauan Riau 

Sosok pemuda inspiratif itu berharap SKK Migas bersama KKKS memiliki terobosan-terobosan dalam membantu Natuna membangun daerahnya, begitu juga dengan Badan Pengelola Geopark Natuna.

“Dua-duanya memiliki peran penting. Sektor Hulu Migas dan geopark sangat strategis dalam mendukung pergerakan perekonomian nasional. Mereka harus bergandengan menjadikan Natuna sentra perikanan terpadu dan poros maritim dunia termasuk pengembangan pariwisata dan budaya,” imbuh Muttaqien.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Natuna H. Hardinansyah, SE, M.Si yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I Badan Pengelola Geopark Natuna menyebutkan, berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Badan Geologi telah ditetapkan delapan warisan geologi (geoheritage) Geopark Natuna untuk selanjutnya masuk dalam jaringan Geopark Dunia.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, H. Hardinansyah, SE, M.Si

Delapan geosite tersebut diantaranya, Tanjung Datuk (batuan sedimen fluvial) terletak di Kecamatan Bunguran Utara, Goa Kamak dan Pantai Kamak (batuan sedimen fluvial) di Kecamatan Bunguran Timur Laut, Pulau Senoa (batuan sedimen laut dalam) di Kecamatan Bunguran Timur, Gunung Ranai (granit) di Kecamatan Bunguran Timur, Tanjung Senubing (granit) di Kecamatan Bunguran Timur, Batu Kasah (granit) di Kecamatan Bunguran Selatan dan Pulau Akar (lava basalt) di Kecamatan Bunguran Selatan serta Pulau Setanau (peridotit) di Kecamatan Pulau Tiga.

Pantauan koranperbatasan.com di setiap pintu masuk geosite-geosite itu, terdapat papan pelang penujuk arah, salah satu bukti kerja nyata kontribusi Industri Hulu Migas mendongkrak Geopark Natuna menuju Geopark Dunia. Terkait pembangunan itu, Wakil Bupati Natuna, Hj. Ngesti Yuni Suprapti berharap kepada seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga, merawat dan memelihara sarana dan prasarana umum, yang notabenenya diperuntukkan bagi masyarakat.

Papan plang bertuliskan Kawasan Situs Geosite Batu Kasah kontribusi dari SKK Migas terhadap pengembangan Wisata Batu Kasah

Sebagai Wakil Bupati Natuna, Ngesti mengapresiasi kinerja SKK Migas dan KKKS yang telah melaksanakan berbagai kegiatan di Natuna. Hal ini, kata Ngesti merupakan salah satu upaya bersama dalam rangka promosi daerah mengingat Kabupaten Natuna sudah ditetapkan menjadi kawasan Geopark Nasional.

“Geopark Natuna merupakan geopark ke-11 dari 15 geopark yang ada di Indonesia dan kami berharap geopark ini menjadi salah satu icon pariwisata di Natuna yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat,” pungkasnya.

Sejalan dengan itu, Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, Susana Kurniasih saat membuka kegiatan Webinar yang digelar pada Kamis, 06 Agustus 2020 di Natuna menyebutkan SKK Migas dan KKKS di wilayah Kepulauan Riau tetap berkomitmen untuk bekerja optimal dan tetap berusaha melakukan upaya pencarian cadangan migas baru melalui beberapa pemboran eksplorasi seperti yang tengah dilakukan oleh KKKS Medco EP Natuna Ltd dan yang akan dilakukan oleh Premier Oil Natuna Sea BV.

Wakil Bupati Natuna, Hj. Ngesti Yuni Suprapti, MA bersama Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas, M. Atok Urrahman, Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagut, Avicenia Darwis, Senior Manager Relations dan Security Medco Energy Natuna, Drajat Panjawi saat meresmikan taman bermain kontribusi SKK Migas

“Kami tentunya mengharapkan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah dan rekan-rekan wartawan di Kabupaten Natuna terhadap operasional hulu migas. Kami berharap melalui kegiatan ini komunikasi bersama media dapat terjalin dengan baik mengingat peran media cukup strategis dalam mendukung kelancaran operasional Hulu Migas, terutama di masa sulit saat Pandemi Covid-19 seperti saat ini,” ujar Susana.

Tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Natuna sempat menggelar rapat terbatas membahas usulan CSR Hulu Migas mendukung kegiatan Taman Geopark Natuna. Rapat berlangsung di Ruang Kerja Wakil Bupati Natuna, Bukit Arai, Kamis, 12 September 2019. Saat itu, Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti, mengatakan saat ini Geopark Landmark sudah disepakati sesuai usulan daerah sampai ke tingkat Kementerian Luar Negeri.

Wakil Bupati Natuna, Hj. Ngesti Yuni Suprapti, MA memimpin rapat terbatas membahas usulan CSR Hulu Migas mendukung kegiatan Taman Geopark Natuna (Sumber poto : Humas Natuna)

Mendukung realisasi tersebut Pemerintah Daerah juga sudah mengusulkan kepada pihak Konsorsium Perusahaan Migas yang tergabung dalam KKKS Migas melalui berbagai program CSR diharapkan dapat mendukung realisasi usulan Natuna meraih status Global Geopark Network (GGN).

Kata Ngesti, pihak Konsorsium Migas sudah sepakat dan berkomitmen menggulirkan dana/program CSR terutama pada beberapa program pekerjaan yang diusulkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai salah satu sektor unggulan bagi mewujudkan pariwisata sebagai salah satu potensi unggulan daerah. Komitmen tersebut dapat dilihat dari hasil realisasi program CSR dimana hampir seluruh usulan dapat terlaksana. (KP).


Laporan : Amran



Memuat...