Hadiatus Sa’adah menjelaskan ekstrakurikuler yang dikembangkan antara lain tenis meja, futsal, voli putra/putri, seni budaya seperti kompang, hadroh, paduan suara, drum band, dan gitar.
“Di situ terlihat bahwa kami tidak hanya fokus pada ilmu akhirat saja,” imbuhnya.
Hadiatus Sa’adah memastikan untuk menghadapi kesulitan belajar siswa, pihak sekolah bersinergi dengan guru BK, wali kelas, dan waka kesiswaan serta peran orang tua.
“Kami juga berkolaborasi dengan Puskesmas dan Dinas Perlindungan Anak bila diperlukan,” ujarnya.
Sedangkan dalam menangani kasus bullying, Hadiatus Sa’adah memastikan langkah konkret yang diambil adalah melakukan pendekatan kepada pelaku di ruangan terpisah agar korban tidak terganggu.
BACA JUGA: Ferri Irawan Genjot Tahfiz Al-Qur’an dan Karakter Siswa SMP Nurul Jannah
“Jika pelaku masih mengulangi, kami undang orang tua dan tetap dilakukan dengan cara kekeluargaan. Saya juga mewanti-wanti guru jangan sampai menjadi pelaku bullying. Jangan takut diancam, kalau itu terjadi laporkan,” tegasnya.
Hadiatus Sa’adah menekankan pentingnya peran orang tua dan komite sekolah. Mendidik anak tidak semudah membalik telapak tangan, apalagi tingkat MTs hanya tiga tahun.
“Mari saling kroscek, jangan menelan mentah-mentah. Intinya kita saling take and give, saling menerima informasi apa pun masalahnya. Untuk Kabupaten Natuna, tingkatkanlah mutu pendidikan, apalagi kita di daerah terdepan. Tontonan yang mendidik juga perlu ditingkatkan agar anak-anak kita terjaga,” tutupnya. (KP).
Laporan : Nisa










