NATUNA – Selain Migas dan hasil perikanan, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, juga terkenal kaya akan kearifan seni budaya lokal. Namun sayangnya perkembangan zaman, seakan-akan telah berhasil mengubur seni dan budaya lokal tersebut. Salah satunya “Suluk” kini jarang ditampilkan.
Menurut Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Said Ali Syahroni, S.Pd.I, Suluk berasal dari Negeri Arab yang dahulunya digunakan untuk penyiaran atau pengembangan dakwah keagamaan.
“Aslinya itu memang betul-betul untuk dakwah keagamaan, tetapi oleh masyarakat Natuna sejak dulu dijadikan sebuah kebudayaan dan tradisi,” sebutnya kepada koranperbatasan.com di STAI Natuna, Kamis, 26 Agustus 2021.
Kata Said Ali, sekarang Suluk sudah dimodifikasi dalam bentuk syair dan sastra-satra modern, sehingga bisa dikorelasikan dengan alat-alat musik seperti gitar. Dari sesi kesenian, STAI Natuna mencoba mengembangkan budaya itu untuk generasi muda, terutama mahasiswa.
“Dunia IT sudah berkembang, jadi kita coba poles pengenalan Suluk itu dari sosial media. Tentu dengan harapan, generasi muda terutama masiswa secara perlahan memahami dan juga mau belajar Suluk itu sendiri,” katanya.
Selama ini Suluk hanya ditampilkan dalam kegiatan tertentu, padahal Suluk sebenarnya bisa ditampilkan di mana saja tergantung momennya.
“Bukan hanya momen keagamaan, tetapi kegiatan-kegiatan budaya daerah dan sebagainya, tergantung isi yang akan disampaikan,” sebut Said Ali.
Ia berharap adanya wacana dari pemerintah daerah, melalui dinas terkait untuk mengembangkan tradisi-tradisi lama milik daerah yang saat ini sudah jarang ditampilkan.
“Jika tidak dikenalkan dengan generasi muda mengenai budaya-budaya terdahulu, maka lambat laun akan terkikis oleh perkembangan zaman,” tutupnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, Pembina Yayasan Abdi Umat, H. Umar Natuna, S.Ag.,M.Pd.I menyebutkan terdapat tiga standard non akademik berbasis Tamadun Melayu sebagai kegiatan penunjang di STAI Natuna.
Pertama, penguasan baca tulis Al-Qur’an dan hapalan surah-surah pendek. Kedua, keterampilan-keterampilan keagamaan seperti wirid, shalat, khutbah, dan ceramah. Kemudian ketiga, keterampilan berupa seni gerak, panggung, dan suara.
“Apakah mahasiswa mengambil seni geraknya seperti tari dan zapin, seni panggung seperti permainan ayam sudur dan mendu. Kemudian suara, seperti nyanyian melayu, puisi, cerpen, cerita rakyat, termasuk suluk,” sebutnya menjawab koranperbatasan.com di ruang kerjanya, Selasa, 31 Agustus 2021.
Dikatakan H. Umar, Suluk menjadi salah satu pilihan dalam susunan acara pada kegiatan-kegiatan STAI Natuna yang bernuansa nasional maupun internasional. Biasayanya Suluk ditampilkan setalah gema wahyu ilahi dan sebelum masuk ke acara inti, untuk merangkaikan kegiatan tersebut.
Tidak hanya Suluk, melainkan Gurindam juga ditampilkan dalam kegiatan bernuansa nasional maupun internasional. Tujuannya selain dalam rangka melestarikan budaya lokal, juga membekali para mahasiswa STAI Natuna supaya kenal dengan Tamadun Melayu.
“Cuma sekarang memang kekurangan orang yang ahli di bidang Suluk itu. Saya rasa Pak Jabai Rudin orang Sedanau, untuk Natuna beliau paling mahir,” imbuhnya.
Menurut H. Umar, berkaitan dengan seni panggung seperti Mendu sulit untuk diperkenalkan, karena permainannya memakan waktu yang cukup lama dan melibatkan banyak orang. Namun hal itu, tentu menjadi tanggung jawab bersama untuk melestarikannya.
Dari STAI Natuna, ihtiar yang dilakukan ialah mengintegrasikan materi-materi berkaian dengan Tamadun Melayu. Bahkan terdapat mata kuliah sejarah dan Tamadun Melayu, yang secara kurikulum sudah dimasukan.
“Supaya kurikulum ini ada kaitan dengan tugas-tugas kemahasiswaan, maka dibuat standard non akademik. Mahasiswa harus tampil dengan memilih salah satu dari yang sekian itu, dan menjadi standard kelulusan,” terangnya.
Ia memastikan, apa yang dikerjakan sudah strategis dengan harapan lulusan STAI Natuna sesuai dengan motto yaitu “Berpikir Global Bertindak Lokal”.
“Suluk, cerita rakyat, tari, dan sebagainya dalam dunia Melayu itukan kearifan-kearifan lokal. Mahasiswa harus punya keterampilan di bidang hal-hal seperti itu. Karena dengan itulah mereka bisa bergaul dan mengembangkan diri dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Ia berharap kepada pemerintah daerah setempat, agar dapat memberikan ruang dan menyediakan panggung serta fasilitas untuk masyarakat dalam menampilkan tradisi-tradisi Melayu di Natuna, paling tidak satu kali dalam seminggu.
Hal tersebut dikarenakan, cukup berat bagi masyarakat di mana sudah berlatih dan punya keterampilan. Namun, ketika berkeinginan tampil harus menyediakan panggung, lampu, transfortasi dan sebagainya. Tetapi jika hanya fokus pada latihan dan keterampilan kemudian bisa tampil, secara priodik maka diyakini bisa berkembang.
Kalau tidak seperti itu, lanjut H. Umar Natuna, maka kearifan budaya lokal akan sulit untuk dapat dikembangkan. Karena kemandirian masyarakat saat ini tidak kuat dan tinggi seperti dulu yang siap menyediakan panggung untuk tampil, meskipun pada masanya masih berstatus kecamatan.
“Masa kita sudah kabupaten jadi mundur, bagi saya tidak masuk akal itu, mungkin ada yang salah dalam kebijakan,” pungkasnya.
Sekarang ini kata H. Umar Natuna, yang paling strategis untuk pengembangan seni tradisi Melayu memang melalui lembaga pendidikan. Semestinya di SLTA dan SLTP kegiatan ekstrakurikuler diarahkan kesana, agar berkembang dan bisa menopang dunia pariwisata.
“Soalnya dunia pariwasata, jika tidak di dukung oleh seni dan budaya maka lambat berkembang. Orang lihat pantai, batu, hanya satu dua kali sudah bosan. Tetapi lihat tampilan seni budanya, orang akan ingat terus,” ungkapnya.
Memang, terdapat modal sosial secara alamiah berupa pantai, batu, keanekaragaman hayati laut. Namun lebih baik lagi, jika terdapat hal-hal yang bisa dipelajari dan nikmati.
“Melalui dinas pariwisata dan kebudayaan memberikan panggung untuk masyarakat tampil. Kemudian dinas pendidikan memberikan satu kebijakan terkait dengan kegiatan ekstrakulikuler di sekolah-sekolah. Kalau itu sudah tumbuh, tinggal adakan satu kegiatan pestival seni budaya Melayu Natuna,” tutupnya. (KP).
Laporan : Johan










