Mimpi Perguruan Tinggi Anambas

oleh -713 views

Oleh : Abu Hanifah (Pemerhati Masalah Pendidikan di Anambas)


SEJAK dibentuk 11 tahun yang lalu, hingga kini Kabupaten Kepulauan Anambas sebagai kabupaten termuda di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Provinsi Kepri), masih belum memiliki Perguruan Tinggi (PT).  Jika dibanding dengan Kabupaten Karimun, setelah 8 tahun terbentuk, 2 PT pun  didirikan yaitu  Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIK).

Kabupaten Lingga juga demikian. Sebanyak  2 PT diresmikan setelah 10 tahun terbentuk, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Ilmu Pemerintahan (STISIP) dan  Sekolah Tinggi Ilmu Ilmu Tarbiah (STIT). Natuna, kabupaten tercepat yang memiliki PT. Karena setelah dibentuk pada tahun 1999, persis 3 tahun kemudian  Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna didirikan. Sementara Batam dan Tanjungpinang merupakan gudang ilmu di Provinsi Kepri yang telah banyak memiliki PT termasuk diantaranya UMRAH (Universitas Maritim Raja Ali Haji) satu-satunya PT negeri yang ada di wilayah Kepri saat ini.

Natuna sebagai saudara tua Kabupaten Anambas 17 tahun yang lalu, tepatnya 3 tahun setelah menjadi kabupaten,  dengan penuh optimisme, para pendiri PT-nya, terus bergerak dan berkolaborasi dengan segenap elemen masyarakat dan Pemerintah Daerah (Pemda) kemudian, berhasil mendirikan STAI Natuna.

Banyak problem yang dihadapi. Khususnya problem finansial dengan biaya operasional yang besar, jumlah siswa yang terbatas, dan SPP yang sangat kecil karena mempertimbangkan kemampuan siswanya. Problem tersebut relative sama dihadapi oleh sebuah PT yang baru dibentuk, kecuali PT swasta yang dibangun oleh konglomerasi dengan  orientasi profit.

Demikian pula dengan Kabupaten Anambas. Menjadi kurang wajar sebetulnya jika dilhat dari postur anggaran APBD Anambas yang mencapai 1 triliun setiap tahunnya. Idealnya Anambas bisa menjadi motor utama dalam menggesa sebuah PT sebab,  pendirian PT  sejalan dengan cita-cita dibentuknya Kabupaten Kepulauan Anambas, agar  Sumber Daya Manuisa (SDM)-nya terus mengalami peningkatan.

Apalagi mengingat  posisi dan rentang kendali Kepulauan Anambas yang sangat jauh dari pusat Ibukota, baik  Provinsi maupun  Jakarta atau  Pulau Jawa. Dimana untuk mendapatkan akses pendidikan tinggi, harus keluar dari daerah dengan menghabiskan biaya yang sangat besar.



Meski sebagian besar putra-putri Anambas mampu melanjutkan kejenjang PT, namun masih ada minimal 20 persen tiap tahunnya yang tidak melanjutkan. Meski ragam alasan namun faktor yang paling dominan adalah karena keterbatasan finansial atau ketidakmampuan ekonomi orang tua mereka. Artinya dari sekitar 400 siswa yang setiap tahun tamat SLTA masih terdapat minimal 80 siswa yang tidak melanjutkan pendidikanya.

Fenomena ini jika ditelusuri lebih lanjut akan menemukan basis relevansinya, karena menurut data BPS per Maret tahun 2018 masih terdapat 6,93 persen warga Anambas yang berada digaris kemiskinan dengan pendapatan Rp366.917. Jika ambang garis kemiskinan dinaikkan hingga Rp500.000, maka angka kemiskinan akan semakin bertambah besar. Tentunya dengan pendapatan Rp500.000 tiap bulan orang tua tidak akan sanggup membiayai anaknya kuliah, apalagi dengan penghasilan dibawahnya.

Namun demikian,  belum hadirnya PT di Anambas, tidak bisa disalahkan pada pihak tertentu saja. Baik Pemda, maupun stakeholder lainnya. Pembentukan PT seharusnya menjadi mimpi bersama masyarakat Anambas. Selanjutnya, diupayakan untuk diwujudkan secara bersama-sama pula. Kita patut bersyukur sudah banyak pihak yang menggesa dan berinisiatif untuk mendirikan PT di Anambas,  meski hingga saat ini belum terealisasi.

Diantaranya Yayasan Alhikmah At-Taqwa, yang pengurusnya dengan gigih berupaya agar PT  yang diberi nama STAI PADUKA terbentuk dan segera menerima mahasiswa perdana. Apresiasi yang besar pantas kita berikan atas jerih payah dan pengorbanan, baik materi, fikiran dan tenaga yang telah dicurahkan oleh semua pihak, sehinga mimpi PT di Anambas  segera menjadi kenyataan. Pemda  nampaknya tidak akan berpangku tangan, terus mendukung serta akan membantu segala permasalahan yang dihadapi oleh pihak yayasan. Sehingga mimpi besar ini segera diwujudkan.

Untuk itu, jika saat ini masih ada kendala, secepatnya dibicarakan dengan semua pihak yang berkepentingan. Sebab, perbuatan baik lebih baik dilakukan bersama-sama dan dikelola secara baik pula agar setiap problem yang menghadang bisa dicarikan solusi alternatifnya. Pendek kata, jika ingin maju dan bersaing di era yang serba kompetitif  ini, maka salah satu prasayarat utamanya adalah  memiliki segera memiliki PT karena,  dalam PT  terdapat Tri Dharmanya berupa pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat.

Inilah letak strategisnya PT,  mampu berfungsi ganda dalam proses pembangunan. Disamping memacu lajunya peningkatan SDM, sekaligus bisa menjadi mitra strategis Pemda dalam merumuskan arah dan strategi pembangunan. Mahasiswa yang lahir dari sebuah PT diharapkan mampu berkontribusi mengisi dan menggerakkan pembangunan. Mereka adalah agent of change sehingga perlu diberi ruang untuk terus berkembang dan mengasah potensinya.

Pada akhirnya, PT  merupakan investasi jangka panjang yang bernilai strategis bagi pembangunan, serta sebagai kawah candradimuka tempat bersemainya cikal bakal pemimpin Anambas kedepan. Harapan itu bisa terwujud jika mimpi PT kemudian menjadi kenyataan. (***).


Tulisan Pembaca Koran Perbatasan, 28 Januari 2019


 


Memuat...