“Pengalaman membantu usaha rental mobil milik tetangga saat kuliah di Pontianak menjadi inspirasi Zulfikar untuk membangun bisnis transportasi sendiri di Natuna.”
Kepala Sekolah SMPN 4 Bunguran Timur, Zulfikar, S.Pd., tidak hanya menjalankan tugasnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), tetapi juga merintis usaha transportasi bernama Rental Jek. Ide tersebut berawal dari pengalamannya ketika kuliah di Pontianak dan membantu usaha rental milik tetangganya, Bang Wawan, di Komplek Mekar Sari 1, Jalan Karya Sosial.
NATUNA – Menjadi ASN dan kepala sekolah tidak membuat Zulfikar, S.Pd., berhenti mencari peluang usaha. Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, ia merintis bisnis transportasi darat yang diberi nama Rental Jek di Kabupaten Natuna.
Usaha tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Ide bisnis itu justru tumbuh dari pengalaman Zulfikar ketika masih menjadi mahasiswa di Pontianak, Kalimantan Barat.
Saat menempuh kuliah, Zulfikar tinggal di sebuah rumah kontrakan di Komplek Mekar Sari 1, Jalan Karya Sosial, Pontianak. Di depan tempat tinggalnya, terdapat usaha rental mobil milik seorang warga yang akrab disapanya Bang Wawan.
Usaha tersebut kala itu memiliki enam unit mobil rental. Zulfikar kemudian dipercaya membantu mengurus kendaraan tersebut sambil menjalani aktivitas perkuliahan.
“Saya dulu kuliah di Pontianak. Waktu itu semester lima atau enam. Saya ngontrak dekat Ampera. Di depan rumah kontrakan ada orang yang punya mobil. Mobilnya ada enam buah dan semuanya mobil rental,” cerita Zulfikar saat ditemui di kediamannya, Minggu (13/9/2026).
Tugasnya bukan sekadar membantu sesekali. Ia mengurus berbagai kebutuhan kendaraan, mulai dari mencuci, membersihkan, menyiapkan mobil ketika akan diambil pelanggan, hingga menerima kembali kendaraan setelah digunakan.
Bahkan, aktivitas tersebut terkadang berlangsung hingga tengah malam. Ketika kendaraan dikembalikan larut malam dan keesokan harinya kembali akan digunakan pelanggan, Zulfikar harus bangun untuk membersihkan kendaraan tersebut.
“Dari cucinya, bersih-bersih mobilnya, pas orang mau mengambil sampai orang mengembalikan mobilnya. Itu tidak tentu waktunya. Kadang tengah malam mobil kembali, tengah malam saya dibangunkan untuk mencucinya karena besok pagi ada lagi orang yang mau memakai,” tuturnya.
Belajar Menyetir dari Pemilik Rental
Pengalaman tersebut kemudian semakin membekas ketika Bang Wawan mengajarinya mengemudikan mobil.
Zulfikar mengaku awalnya masih belajar mengendarai mobil di sekitar kompleks yang memiliki gang sempit dengan parit di kiri dan kanan jalan.
“Sampai saya waktu dia mutar-mutar parkir, dia bilang kepada saya, ‘Enggak mampu kalau begini terus, kau harus belajar.’ Dari situlah dia mengajarkan saya mobil,” kenangnya.
Proses belajar itu tidak selalu mulus. Zulfikar bahkan sempat mengalami insiden kecil ketika berlatih mengemudi hingga mobil milik Bang Wawan mengalami lecet.
Namun, dari pengalaman tersebut ia justru melihat sisi lain usaha rental. Setiap kali kendaraan keluar disewa pelanggan, ada pendapatan yang diperoleh pemiliknya.
“Dari situlah saya terinspirasi. Setiap orang rental balik mobil itu, sehari itu kasih duit, dapat duit. Dari situlah saya terinspirasi,” katanya.
Dari pengalaman itulah muncul keinginan dalam dirinya untuk memiliki usaha serupa ketika kembali ke Natuna.
Pulang ke Natuna, Modal Jadi Kendala
Setelah menyelesaikan pendidikan, Zulfikar kembali ke Natuna pada 2017. Namun, keinginannya membuka usaha rental belum dapat langsung diwujudkan karena keterbatasan modal.
Ia baru berhasil membeli mobil pertamanya pada 2020. Setelah itu, usaha rental mulai dirintis hingga kemudian resmi dijalankan dengan nama Rental Jek pada Desember 2022.
“Kalau beli mobil pertama itu tahun 2020. Dari situ saya terinspirasi, rental mobil itu jadi usaha sampingan sampai sekarang,” ujarnya.
Bertahan di Tengah Efisiensi Anggaran
Dalam perjalanannya, Rental Jek juga menghadapi tantangan. Kebijakan efisiensi anggaran berdampak terhadap permintaan jasa rental kendaraan.
Zulfikar mengatakan, sebelum terjadi efisiensi anggaran, ia sempat memiliki dua unit mobil dan keduanya relatif sering digunakan pelanggan.
Namun, kondisi berubah ketika perjalanan dinas dan kunjungan tamu dari luar daerah menurun.
“Dulu uangnya masih senang orang bilang. Sebelum efisiensi anggaran itu, mobil rental kami memang rata-rata jalan terus setiap hari. Saya pernah punya dua, memang jarang di rumah,” katanya.
Karena permintaan menurun, ia akhirnya menjual satu unit kendaraan. Saat ini, Zulfikar mengoperasikan satu unit mobil yang standby di rumah.
“Sejak efisiensi anggaran itu saya jual satu unit. Saya jangankan dua, satu saja tidak jalan,” ujarnya.
Andalkan Jejaring Sesama Pengemudi
Meski hanya memiliki satu kendaraan sendiri, Zulfikar tidak membiarkan keterbatasan armada menghentikan usahanya.
Ia membangun jejaring dengan sesama pengemudi yang tergabung dalam komunitas Organda. Komunitas tersebut memiliki grup WhatsApp dan sekretariat di kawasan Warkop Banglong, Batu Hitam.
Jika pelanggan membutuhkan kendaraan lain, seperti mobil manual, matik, Avanza, atau Innova, Zulfikar menghubungi rekan-rekannya untuk memenuhi permintaan tersebut. Sebaliknya, ketika rekan sesama pengemudi membutuhkan kendaraan, mereka juga dapat saling membantu.
“Kalau mobil saya lagi keluar dan ada orang mencari lagi, saya telepon kawan yang lain sesuai permintaan. Mau manual atau matik, mau Avanza atau Innova, kita sesuaikan,” jelasnya.
Tarif Rental Rp300 Ribu Per Hari
Rental Jek melayani penyewaan mobil selama 24 jam dengan tarif Rp300.000 per hari.
Zulfikar mengatakan tarif tersebut sengaja dipertahankan agar tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Kalau bisa harganya jangan tawar-menawar lagi. Karena memang harganya itu sudah sangat rendah, sangat minim, Rp300 ribu itu,” katanya.
Selain rental mobil, ia juga melayani jasa taksi dengan rute Ranai–Selat Lampa/Bukit Raya. Tarif yang berlaku saat ini sebesar Rp60.000 per orang, naik dari sebelumnya Rp50.000 akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Omzet Rental dan Taksi
Untuk usaha rental, Zulfikar mencatat pemasukan menggunakan pembukuan. Menurutnya, omzet rental rata-rata sekitar Rp3 juta per bulan, dengan kisaran paling rendah Rp3 juta dan paling tinggi sekitar Rp6 juta.
Sementara untuk jasa taksi, ia tidak melakukan pembukuan secara khusus. Pendapatan dari taksi biasanya digunakan untuk kebutuhan harian maupun perawatan kendaraan, seperti mengganti oli dan ban.
Jika kendaraan taksi terisi penuh dari Ranai maupun Selat Lampa, ia memperkirakan pendapatan kotor sekali perjalanan dapat mencapai Rp600.000. Setelah dikurangi biaya bahan bakar sekitar Rp100.000, tersisa sekitar Rp500.000.
Namun, pendapatan tersebut tidak selalu stabil karena jumlah penumpang berubah-ubah.
“Kadang ramai, kadang sepi. Jadi kurang lebih Rp1 sampai Rp2 juta,” ujarnya mengenai pendapatan taksi.
Promosi Lewat Media Sosial
Untuk menjangkau pelanggan, Zulfikar memanfaatkan WhatsApp dan sejumlah grup informasi masyarakat Natuna, termasuk grup yang berkaitan dengan jadwal kapal penumpang.
Ia biasanya membuat status mengenai jadwal keberangkatan menuju Bukit Raya sekaligus mempromosikan jasa taksi dan rental.
“Kalau kita bikin status jadwal Bukit Raya sama promosi taksi, kita tag juga nama grup di WhatsApp yang info jadwal penumpang kapal,” jelasnya.
Menurutnya, strategi tersebut cukup efektif. Sejumlah pelanggan baru menghubunginya setelah melihat informasi yang dibagikan melalui jaringan grup tersebut.
ASN Sekaligus Pengusaha
Bagi Zulfikar, menjalankan usaha sampingan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian keluarga tanpa meninggalkan profesinya sebagai ASN dan pendidik.
Ia menilai penghasilan sebagai pegawai cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi untuk berkembang membutuhkan sumber pendapatan lain yang dijalankan secara halal.
“Kalau kita dari segi ekonomi, kalau kita mengharapkan dari gaji itu cukup. Cuma kalau untuk lebih itu enggak,” katanya.
Ia pun memilih menjalankan usaha sampingan sebagai bagian dari ikhtiar ekonomi keluarga.
“Saya kerja usaha sampingan, sambil menjadi ASN,” ujarnya.
Berharap Transportasi Lokal Terus Didukung
Zulfikar berharap masyarakat Natuna dapat memanfaatkan jasa transportasi lokal ketika membutuhkan kendaraan untuk perjalanan keluarga, membawa tamu, maupun keperluan lainnya.
“Kami berharap orang-orang lokal itu kalau memang enggak ada mobil, mau jalan sama keluarga, jalan jauh ataupun ada tamu, boleh menghubungi kami,” katanya.
Baginya, perjalanan Rental Jek menjadi bukti bahwa pengalaman sederhana semasa kuliah dapat berubah menjadi peluang usaha ketika ditekuni.
Dari Bang Wawan di Komplek Mekar Sari 1, Jalan Karya Sosial, Pontianak, Zulfikar belajar bahwa usaha tidak selalu dimulai dengan modal besar. Kadang, sebuah peluang justru berawal dari pengalaman, kemauan belajar, dan keberanian membawa inspirasi tersebut pulang ke kampung halaman.
Laporan: Dini










