“Di tengah kemajuan zaman dan pembangunan yang terus digaungkan, sejumlah siswa SMAN 1 Serasan, Kabupaten Natuna, masih harus berjuang melewati air laut hingga sekitar satu kilometer untuk mencapai daratan setelah turun dari pompong antarjemput. Ironisnya, air laut yang mereka lalui tampak mencapai pinggang hingga dada. Bahkan, mereka harus mengangkat tas dan barang bawaan di atas kepala agar tidak terendam air. Kondisi yang telah berlangsung cukup lama ini hingga kini belum mendapatkan solusi permanen.”
NATUNA – Pemandangan sejumlah anak sekolah berjalan menerobos air laut dengan ketinggian hingga pinggang bahkan dada menjadi potret memprihatinkan akses pendidikan di wilayah pesisir Kabupaten Natuna.
Mereka bukan sedang bermain di laut, bukan pula sedang melakukan kegiatan wisata bahari. Anak-anak berseragam hijau tersebut merupakan siswa SMAN 1 Serasan yang tinggal di Desa Batu Berian, Kecamatan Serasan. Setiap hari, mereka harus mengandalkan pompong sebagai sarana transportasi untuk berangkat dan pulang sekolah.
Namun, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi rutinitas biasa justru menjadi perjuangan tersendiri. Pompong antarjemput yang mereka gunakan tidak selalu bisa merapat ke pelabuhan atau daratan karena kondisi cuaca dan pasang surut air laut.
Akibatnya, para siswa terpaksa turun dari pompong dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menerobos air laut menuju daratan. Jarak yang harus mereka tempuh diperkirakan mencapai sekitar satu kilometer.
Kondisi tersebut terlihat jelas dalam dokumentasi yang diterima Koran Perbatasan. Sejumlah siswa tampak berjalan beriringan di tengah perairan dengan air laut yang mencapai bagian pinggang hingga dada beberapa di antara mereka.
Pemandangan semakin mengundang keprihatinan ketika terlihat para siswa mengangkat tas sekolah dan barang bawaan tinggi-tinggi di atas kepala. Mereka berusaha menjaga agar perlengkapan sekolah tidak basah, sementara tubuh mereka sendiri harus terendam air laut.
Situasi ini memperlihatkan betapa tidak mudahnya perjuangan anak-anak tersebut untuk sekadar mencapai daratan setelah menjalani kegiatan belajar di sekolah.
Ironi Pendidikan di Tengah Kemajuan Zaman
Di saat kemajuan teknologi semakin pesat, pembangunan infrastruktur terus digencarkan, dan berbagai program peningkatan kualitas pendidikan digaungkan, ternyata masih ada anak-anak sekolah di Kabupaten Natuna yang harus berjalan di dalam laut hingga sekitar satu kilometer hanya untuk sampai ke daratan.
Ironisnya, kondisi tersebut bukan baru terjadi sekali atau dua kali. Persoalan ini disebut telah berlangsung cukup lama, tetapi hingga sekarang belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan kesulitan akses transportasi para siswa.
Pertanyaannya, di mana kehadiran pembangunan yang seharusnya dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil?
Mereka adalah generasi penerus yang setiap hari berangkat menuntut ilmu. Namun, untuk mencapai tempat tinggal setelah pulang sekolah, mereka harus melewati perairan dengan kedalaman yang secara visual tampak mencapai pinggang hingga dada.
Kondisi ini bukan persoalan sepele. Selain menyulitkan, perjalanan tersebut juga patut menjadi perhatian dari sisi keselamatan. Perubahan cuaca, arus laut, pasang surut, serta kondisi dasar perairan merupakan faktor yang perlu diperhitungkan.
Jangan sampai kondisi yang selama ini dianggap sebagai rutinitas justru baru mendapatkan perhatian serius setelah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pemerintah Jangan Menunggu Sampai Ada Korban
Pemerintah Kabupaten Natuna, khususnya instansi yang membidangi pendidikan, perhubungan, dan pembangunan infrastruktur, perlu segera melihat langsung kondisi yang dialami para siswa di Desa Batu Berian.
Persoalan ini membutuhkan penanganan konkret, bukan sekadar perhatian sesaat. Pemerintah perlu mengidentifikasi penyebab pompong tidak dapat merapat, meninjau kondisi perairan dan akses pendaratan, serta mencari alternatif fasilitas yang aman dan sesuai dengan karakteristik wilayah tersebut.
Pembangunan tambatan atau fasilitas pendaratan yang menyesuaikan kondisi pasang surut air laut dapat menjadi salah satu opsi yang perlu dikaji. Termasuk kemungkinan penyediaan sarana transportasi atau fasilitas pendukung lain agar siswa tidak lagi harus berjalan jauh menerobos air laut.
Keselamatan anak-anak sekolah seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan solusi. Sebab, pendidikan tidak cukup hanya dengan membangun gedung sekolah, menyediakan guru, dan membagikan perlengkapan belajar. Pemerintah juga harus memastikan anak-anak memiliki akses yang aman dan layak untuk sampai ke sekolah maupun kembali ke rumah.
Natuna merupakan wilayah kepulauan dan perbatasan. Kondisi geografis semestinya menjadi alasan untuk memperkuat perhatian pembangunan, bukan menjadi alasan bagi masyarakat untuk terus menghadapi keterbatasan. Anak-anak Desa Batu Berian tidak meminta fasilitas mewah. Mereka hanya membutuhkan jalan pulang yang aman setelah belajar di sekolah.
Jangan sampai kemajuan Natuna hanya terlihat dalam angka pembangunan dan laporan program, sementara anak-anak di wilayah pesisir masih harus mengangkat tas di atas kepala, berjalan dalam air setinggi dada, dan menempuh perjalanan laut hingga sekitar satu kilometer demi pulang ke rumah.
Jika persoalan ini sudah berlangsung cukup lama, mengapa sampai sekarang belum ada solusi? Pertanyaan tersebut layak menjadi perhatian bersama, terutama bagi pemerintah daerah. Sebab, setiap anak berhak mendapatkan pendidikan dan perlindungan keselamatan yang sama, di mana pun mereka tinggal.
Redaksi










