“Memasuki hari kedua Pembelajaran Tatap Muka (PTM), SMPN 4 Bunguran Timur, Natuna, menggelar kegiatan kokurikuler bertema “Suara Demokrasi” selama satu minggu sebagai pembekalan siswa menghadapi kehidupan bermasyarakat.”
Kepala SMPN 4 Bunguran Timur, Zulfikar, S.Pd., mengatakan kegiatan kokurikuler bertema “Suara Demokrasi” digelar selama kurang lebih satu minggu setelah sekolah kembali melaksanakan PTM pada Senin (14/9/2026). Kegiatan tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai demokrasi sekaligus melatih mereka menghadapi berbagai peran ketika kelak terjun ke masyarakat.
NATUNA – SMPN 4 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, menggelar kegiatan kokurikuler bertema “Suara Demokrasi” pada Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari kedua setelah sekolah kembali menerapkan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) usai sebelumnya menjalankan Belajar dari Rumah (BDR) selama sepekan akibat kabut asap.
Kepala SMPN 4 Bunguran Timur, Zulfikar, S.Pd., menjelaskan kegiatan kokurikuler akan berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Selama kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran di dalam kelas, tetapi diarahkan mengikuti berbagai aktivitas di luar intrakurikuler.
“Pagi ini kita melakukan kegiatan di luar kelas seperti biasanya. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih satu minggu,” ujar Zulfikar saat membuka kegiatan di hadapan para siswa, Selasa (15/9/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan pembelajaran di luar jam mata pelajaran dengan tema awal Suara Demokrasi.
“Kalau pun ada pembelajaran, akan disesuaikan dengan kegiatan yang kita laksanakan. Kegiatan yang akan kita lakukan merupakan kegiatan di luar intrakurikuler atau di luar jam mata pelajaran,” jelasnya.
Siswa Dikenalkan Konsep Demokrasi
Dalam kegiatan tersebut, siswa terlebih dahulu akan mendapatkan materi dari para guru mengenai demokrasi.
Materi yang diberikan mencakup pengertian demokrasi, siapa yang terlibat, bagaimana prosesnya dilakukan, kegiatan apa saja yang berkaitan dengan demokrasi, serta kapan proses tersebut dilaksanakan.
“Nanti akan ada guru yang menyampaikan materi tentang apa itu demokrasi, apa itu Suara Demokrasi, siapa yang melakukannya, bagaimana cara melakukannya, apa kegiatannya, dan kapan dilakukannya,” kata Zulfikar.
Ia menjelaskan materi tersebut juga mencakup unsur 5W+1H yang berkaitan dengan pembelajaran Bahasa Indonesia.
Selanjutnya, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga akan melakukan simulasi dan mempraktikkan apa yang telah dipelajari selama kegiatan berlangsung.
Bekal Sebelum Terjun ke Masyarakat
Zulfikar menilai pemahaman mengenai demokrasi penting diberikan sejak bangku SMP. Sebab, siswa nantinya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA, perguruan tinggi, hingga memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
“Kenapa kita perlu belajar? Jelas karena kalian tidak selamanya menjadi siswa SMP. Nanti kalian akan naik ke jenjang SMA, kemudian kuliah, dan setelah itu bekerja,” ujarnya.
Menurutnya, ketika memasuki kehidupan masyarakat, para siswa akan berhadapan dengan berbagai peran dalam proses demokrasi.
“Mungkin ada yang menjadi panitia dari demokrasi tersebut, ada yang menjadi calon, atau ada yang berperan sebagai masyarakat. Jadi, kalian tidak bisa terlepas,” katanya.
Karena itu, ia meminta siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan serius agar memiliki pemahaman dan pengalaman yang dapat menjadi bekal ketika dewasa.
Siswa Diminta Tidak Malas
Zulfikar juga mengingatkan siswa agar tidak menganggap kegiatan kokurikuler sebagai kegiatan yang dapat diikuti secara santai tanpa keseriusan.
Ia meminta seluruh siswa mengikuti kegiatan selama satu minggu tersebut dengan saksama, cermat, dan penuh semangat.
“Bapak berharap selama kegiatan seminggu ini berlangsung, anak-anak sekalian mengikuti dengan saksama, dengan cermat, dengan semangat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan siswa agar tidak mencari alasan untuk tidak masuk sekolah hanya karena kegiatan yang dilaksanakan berbeda dari pembelajaran rutin.
“Jangan malas-malasan. Jangan ada alasan tidak belajar di sekolah, kemudian membuat alasan sakit. Jangan seperti itu. Kita harus semangat mengikuti kegiatan seminggu ke depan,” katanya.
Absensi Tetap Berlaku
Meski kegiatan berlangsung di luar pola pembelajaran intrakurikuler, Zulfikar memastikan kehadiran siswa tetap dipantau.
“Absen tetap berjalan. Absen kelas tetap berjalan,” ujarnya.
Ia mengatakan akan meminta laporan dari masing-masing wali kelas untuk mengetahui tingkat kehadiran siswa selama kegiatan berlangsung.
“Nanti Bapak minta laporannya dari wali kelas. Siapa yang sering tidak hadir selama seminggu ini akan Bapak tandai,” tegasnya.
Menurut Zulfikar, seluruh siswa harus mengikuti kegiatan tersebut agar mereka memiliki kesiapan ketika memasuki kehidupan yang lebih luas.
“Jadi semuanya harus ikut supaya nanti ketika kalian sudah dewasa dan turun ke dunia nyata, kalian tidak terkejut. Ini merupakan proses belajar,” pungkasnya.
Kegiatan kokurikuler bertema “Suara Demokrasi” tersebut kemudian dibuka secara resmi oleh Zulfikar dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.
Laporan: Dini










