Putra Eks Sultan Riau Lingga Menuntut Cukai Kepada Kolonial Belanda

oleh -655 views
Putra-Eks-Sultan-Riau-Lingga-Tengku-Haji-Mohammad-Zain

BERITA MENARIK yang telah diterbitkan dan atau ditampilkan pada halaman utama berita harian terkemuka ketika itu, 1 Mei 1969 berjudul “Putera Sultan Riau Tuntut Chukai dari Belanda”. Tokoh yang ada dalam berita ini adalah Tengku Haji Mohammad Zain (63), anak keenam Sultan Riau Lingga yang terakhir, yaitu Sultan Abdurahman Muazzam Syah II.

Mohammad Zain lahir di Pulau Penyengat pada sekitar Tahun 1905 yang telah memiliki enam saudara kandung yakni Tengku Salamah, Tengku Osman, Tengku Aishah, Tengku Ismail dan Tengku Abas. Zain nama panggilan akrabnya yang tinggal di Kampung Melayu saat tahun 1969 itu, tidak lagi bekerja sebagaimana biasanya.

Keenam saudara kandungnya juga sudah meninggal dunia semua. Meski demikian, anak dan cucu dari keluarga besarnya masih cukup ramai yang ada di Kepulauan Riau ketika itu, ada juga yang tinggal di Singapura dan Malaysia.

Mohammad Zain sendiri meninggal dunia Tahun 1985, hal yang menarik sekali  dari berita ini adalah upaya semangat Mohammad Zain menuntut cukai dari penjajah  Belanda. Dan Muhamad Zain juga telah menyewa pengacara yang handal namun, sangat di sayangkan namanya tetep dirahasiakan hingga sekarang.

Pihaknya juga berupaya mengumpulkan data-data tentang rencana besar menuntut hak dari Pemerintah Belanda itu. Dasar menuntut cukai kepada kolonial Belanda adalah Sultan Abdulrahman Muadzam Syah ketika itu, berkuasa di Riau Lingga memberikan telah pajak-pajak tanah di Kepulauan Riau kepada Belanda.

Ada sejumlah sarikat atau perusahaan asing yang menjalankan usaha di Kepulauan Riau yang telah membayar pajak atas tanah-tanah yang telah  dipakai. Haji Zain menyebutkan bahwa ada perjanjian antara Belanda dan almarhum ayahnya ketika itu. Namun tiap tahunnya sultan menerima hasil atas pemasukan yang diterima.

Belanda setiap tahun membayar hak-hak sultan, hingga Tahun 1912.  Namun, sejak Tahun 1913 hingga kematian sultan Tahun 1931, Belanda tak lagi membayarkan “gaji” kepada sultan. Dalam perjanjian dengan Belanda, sultan dan anak cucunya tidak akan dikenakan cukai, malah sultan menerima gaji. Namun, sultan tak lagi mempunyai kuasa atas Kesultanan Riau Lingga.



Dalam pemberitaan di berita harian ini, Haji Zain juga menceritakan kisah ayahnya yang harus hijah atau pindah ke Singapura pada  Tahun 1911. Sebuah kapal perang Belanda masuk ke Selat Riau yang didalamnya membawa serdadu sebanyak 700 personil. Mereka hendak menemui Sultan Abdulrahman. Sedangkan Rombongan Belanda dipimpin oleh  Berkhanob dan pegawai kontroler bernama Penstra.

Namun, mereka tak bisa berjumpa denga sultan, karena sultan ketika itu sedang berada di Lingga ada kegiatan budaya  mandi safar. Sultan akhirnya lari ke Singapura bersama anak cucunya menggunakan kapal bernama Seri Daik. Tiga pejabat Kesultanan Riau Lingga, yakni Tengku Haji Ali Kelana, Raja Abdul Rahman dan Raja Khalid Hitam memilih keluar dari Kesultanan Riau Lingga, ketimbang menyerah dan bekerjasama dengan Belanda.

Sedangkan Haji Zaini, juga menceritakan usai Perang Dunia ke-II dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pihaknya juga mengajukan tuntutan kepada kolonial Belanda. Namun, sulitnya saat itu ketika proses administrasi terlalu sulit dan berbelit, sehingga tuntutan pajak atau cukai tidak jadi diajukan. Namun, pihak keluarga Kesultanan Riau Lingga, terus berupaya melengkapi berkas-berkas untuk menggugat Pemerintah Belanda. (KP).


Kontributor : BPNB Kepri



Memuat...