KABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPENDIDIKAN

SDN 002 Ranai Terapkan Program Pikaciu dan Deep Learning untuk Wujudkan Merdeka Belajar

×

SDN 002 Ranai Terapkan Program Pikaciu dan Deep Learning untuk Wujudkan Merdeka Belajar

Sebarkan artikel ini
Kepala Bidang Kurikulum SDN 002 Ranai Reno, S.IPem.
Kepala Bidang Kurikulum SDN 002 Ranai Reno, S.IPem.

NATUNA – SD Negeri 002 Ranai mengimplementasikan pendekatan pendidikan yang berpusat pada siswa dengan menggabungkan Kurikulum Merdeka dan Deep Learning, serta mengembangkan program unik bernama Pikaciu.

Program ini dirancang untuk membentuk karakter siswa sesuai dengan kodrat dan bakat masing-masing, sekaligus mendukung menanamkan pemahaman konsep yang mendalam.

Kepala Bidang Kurikulum SDN 002 Ranai, Reno, S.IPem., menekankan bahwa kecerdasan kognitif saja tidak cukup. Visi sekolah adalah membentuk karakter siswa yang kuat dan unik. “Kita mengutamakan karakter. Membentuk karakter itu penting karena bagi kita, pintar saja tidak cukup. Setiap anak punya potensi masing-masing,” ujar Reno kepada koranperbatasan.com dalam wawancara di ruang kepala sekolah, Kamis, 25 September 2025.

Sekolah berpegang teguh pada Kurikulum Merdeka yang diinstruksikan pemerintah daerah. Reno menjelaskan hubungan simbiosis antara Kurikulum Merdeka dan Deep Learning.

“Kurikulum Merdeka dan Deep Learning itu sebenarnya satu rumah. Kurikulum Merdeka itu rumah besarnya, Deep Learning itu penerapannya,” jelasnya.

Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan bagi siswa untuk mengekspresikan diri tanpa rasa intimidasi, sementara Deep Learning memastikan proses belajar tidak hanya permukaan.

“Tujuannya menyamakan persepsi bahwasanya anak tidak hanya belajar secara umum, tapi ajarkan konsep. Didik anak dengan bahagia, caranya adalah Deep Learning,” tambahnya.

Inovasi paling konkret adalah program PIKACHU, sebuah akronim dari Pidato, Puisi, Komedi, Cerita Lucu, dan Lagu. Program yang diintegrasikan dalam Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) ini bertujuan memberi wadah bagi siswa untuk mengembangkan karakter dan bakatnya secara bebas.

“Jadi anak bebas mengekspresikan dirinya dan mengembangkan karakternya,” ucap Reno.

Selain itu, sesuai pengarahan dinas pendidikan sekolah juga menambah ekstrakurikuler Geopark untuk mengenalkan dan melestarikan kekayaan alam Natuna. Kegiatannya tidak hanya berkunjung, tetapi juga aksi nyata seperti membersihkan Pantai Piwang.

Baca Juga:  27 Tahun Natuna, Ida Susanti Ungkap Tiga Tantangan Pendidikan

“Konsepnya ada bagaimana menjaga geopark. Kita belajar menjaga lingkungan sekaligus memahami bahwa vandalisme itu tidak baik,” paparnya.

Dalam menangani isu sensitif seperti bullying, sekolah menerapkan pendekatan coaching yang dialogis dan melibatkan semua pihak, baik pelaku maupun korban.

“Kuncinya pendekatan pada masing-masing pihak. Tidak ada kata salah. Saya tanya, saya coaching, kita arahkan sampai dia menyimpulkan sendiri. Kita bicarakan dari hati ke hati,” jelas Reno tentang metode yang digunakan.

Untuk kesulitan belajar, masing-masing guru memiliki metode tersendiri, seperti belajar tambahan, yang disesuaikan dengan semangat Kurikulum Merdeka.

Sekolah aktif menjalin kemitraan dengan orang tua melalui pertemuan rutin dan kunjungan rumah untuk masalah yang urgen. Reno berharap orang tua dapat lebih objektif dan tidak overprotektif.

“Kami mengajak orang tua lebih terbuka. Apapun yang terjadi, sifatnya dialogis, jangan sedikit-sedikit di-posting di media sosial,” harapnya.

Ke depan, Reno berharap ada lebih banyak pelatihan untuk guru yang disesuaikan dengan kebutuhan riil di sekolah.

“Idealnya untuk pelatihan, guru tentu harus ditanya masukan nya karena yang kenal personal-personal sekolah itu kan kepala sekolah,” pungkasnya. (KP).


Laporan : Nisa Andini


📊 Views: 8

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *