“Manager PLN ULP Natuna, Tasnim, menjadwalkan peninjauan ke SMP Negeri 4 Bunguran Timur untuk memastikan kebutuhan penyambungan listrik di sekolah tersebut. Peninjauan ini menyusul kondisi sekolah yang belum memiliki meteran listrik serta adanya laporan kerusakan instalasi yang diduga berkaitan dengan sambaran petir.”
NATUNA – PT PLN (Persero) Unit Layanan Pelanggan (ULP) Natuna berencana meninjau langsung kondisi kelistrikan SMP Negeri 4 Bunguran Timur pada Kamis untuk mengetahui kebutuhan teknis penyambungan listrik di sekolah tersebut.
Manager PLN ULP Natuna, Tasnim, mengatakan hasil peninjauan akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan, termasuk kemungkinan penyambungan melalui jaringan yang sudah tersedia atau pengajuan perluasan jaringan listrik.
“Kalau untuk di SMP 4 sendiri, saya pribadi belum mengunjungi. Mungkin hari Kamis saya jadwalkan ke sana. Nantinya, setelah hasil kunjungan itu, barulah kita bisa memastikan kebutuhan listrik yang ada di sana,” ujar Tasnim saat diwawancara koranperbatasan.com di Ranai Square, Kabupaten Natuna, Selasa (27/10/2026).
Ia menjelaskan, prosedur penyambungan listrik bergantung pada kondisi jaringan di lokasi sekolah. Jika jaringan listrik yang sudah ada melewati lokasi, pihak sekolah dapat mengajukan permohonan pemasangan baru melalui aplikasi PLN Mobile atau datang langsung ke kantor PLN.
Namun, apabila lokasi sekolah belum terjangkau jaringan listrik, pihak sekolah dapat mengajukan surat resmi kepada PLN. Selanjutnya, petugas akan melakukan survei untuk mengetahui kebutuhan teknis dan menentukan langkah yang diperlukan.
“Jika di lokasi tersebut sudah ada jaringan eksisting, sekolah hanya perlu mengajukan pasang baru. Pasang baru itu bisa menggunakan aplikasi PLN Mobile atau langsung ke kantor,” jelasnya.
Menurut Tasnim, jika penyambungan hanya membutuhkan Jaringan Tegangan Rendah (JTR), prosesnya relatif singkat. Setelah survei, pemasangan baru dapat diselesaikan paling lama sekitar lima hari kerja sesuai prosedur.
Sebaliknya, apabila diperlukan perluasan jaringan melalui Jaringan Tegangan Menengah (JTM) atau pemasangan transformator, prosesnya membutuhkan waktu lebih panjang. Tahapannya mencakup penyusunan gambar teknis, pengajuan ke UP3 Tanjung Pinang, proses kontrak, pengadaan material, hingga pengiriman material ke Natuna.
“Khusus sekolah, puskesmas, dan madrasah yang sifatnya sosial, biasanya kita prioritaskan,” tegas Tasnim.
PLN Jelaskan Dugaan Kerusakan Instalasi
Dalam wawancara tersebut, Tasnim juga menanggapi informasi mengenai kerusakan instalasi listrik di SMPN 4 Bunguran Timur yang diduga berkaitan dengan sambaran petir.
Ia menjelaskan, sambaran petir dapat menyebabkan kenaikan tegangan yang berpotensi merusak instalasi listrik. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah keberadaan alat proteksi, seperti Miniature Circuit Breaker (MCB).
“Di sekolah itu sendiri belum ada meteran, belum ada proteksi. Kalau kita, proteksinya di dalam rumah itu MCB namanya. Ketika tegangan naik, tidak ada alat pelindung sehingga bisa mengenai instalasi, termasuk lampu-lampu yang bebannya kecil,” ungkapnya.
Meski demikian, Tasnim belum memastikan penyebab kerusakan tersebut. Ia menyatakan pemeriksaan langsung diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
Ia berharap hasil peninjauan dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan penyambungan listrik sekolah, termasuk kemungkinan perlunya perluasan jaringan.
Peninjauan tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memastikan kebutuhan kelistrikan SMPN 4 Bunguran Timur dapat ditangani sesuai prosedur, sehingga kegiatan belajar mengajar dapat didukung oleh fasilitas listrik yang memadai.
Laporan: Dini










