“STAI Natuna tengah merumuskan falsafah keilmuan sebagai fondasi akademik menuju perubahan status menjadi Institut Agama Islam (IAI) Natuna.”
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna, Dr. H. Umar Natuna, S.Ag., M.Pd.I., menekankan pentingnya perumusan dan penetapan falsafah keilmuan sebagai panduan arah akademik kampus yang dipersiapkan beralih status menjadi Institut Agama Islam (IAI) Natuna. Menurut Umar Natuna, falsafah keilmuan diperlukan agar cara pandang atau worldview institusi menjadi lebih terarah dan proses pembelajaran yang dilakukan para dosen tidak berjalan secara terpisah-pisah.
NATUNA – Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna mulai memperkuat pembahasan mengenai falsafah keilmuan sebagai bagian dari persiapan menuju perubahan status menjadi Institut Agama Islam (IAI) Natuna.
Ketua STAI Natuna, Dr. H. Umar Natuna, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan falsafah keilmuan perlu dirumuskan dan ditetapkan agar menjadi landasan bersama dalam pengembangan akademik institusi.
“Falsafah keilmuan yang akan dikembangkan di kampus kita yang nanti akan bernama Institut Agama Islam Natuna itu memang harus kita rumuskan, harus kita tetapkan. Karena dengan adanya falsafah keilmuan itulah nanti cara pandang kita, worldview kita itu akan terarah,” ujarnya.
Menurutnya, keberadaan falsafah keilmuan juga diharapkan dapat menyatukan berbagai latar belakang keilmuan yang dimiliki para dosen dan pengajar.
“Dengan adanya falsafah keilmuan nanti para dosen, para pengajar tidak lagi bersepai ngajarnya. Terarah dia. Artinya, background masing-masing kampusnya itu kemudian menyatu dalam itu,” jelasnya.
Umar menilai salah satu tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi Islam adalah adanya dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu dijawab melalui paradigma keilmuan yang sesuai dengan arah pengembangan kampus.
“Tantangan kita adalah bahwa ilmu umum dan ilmu agama itu sampai sekarang masih mengalami dikotomi,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan sejumlah model falsafah keilmuan yang telah dikembangkan perguruan tinggi keagamaan Islam, di antaranya model jaring laba-laba, pohon ilmu, dan falsafah ilmu lebah.
Menurut Umar, model jaring laba-laba menempatkan Al-Qur’an dan hadis sebagai pusat dengan hubungan antarkeilmuan yang saling terintegrasi dan terkoneksi. Sementara model pohon ilmu memiliki pola hubungan keilmuan yang bersifat hierarkis.
Untuk IAI Natuna, konsep falsafah keilmuan tersebut masih dalam tahap pembahasan. Umar menyebut arah yang sedang dipertimbangkan adalah integrasi keilmuan maupun transformasi keilmuan.
“Yang jelas kita sebenarnya arahnya itu integrasi ilmu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembahasan tersebut juga berkaitan dengan visi IAI Natuna sebagai pusat pengembangan studi Islam dan khazanah kepribadian Melayu yang unggul serta berdaya saing di kawasan Asia Tenggara.
Dalam visi tersebut, kata Umar, terdapat tiga pilar yang menjadi perhatian, yakni keilmuan Islam, tamadun atau kepribadian Melayu, serta daya saing kawasan.
“Jadi ada tiga pilar di situ. Pertama, pilar Islam, keilmuan Islam. Ada pilar yang terkait dengan tamadun, kepribadian atau falsafah Melayunya. Ada pilar kawasannya,” jelasnya.
Pembahasan falsafah keilmuan tersebut diawali dari perspektif Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Selanjutnya, program studi lainnya direncanakan ikut menyampaikan gagasan masing-masing.
“Diskusi hari ini akan terus berlanjut. Ini dari perspektif PIAUD. Nanti prodi lain akan menyampaikan gagasannya,” katanya.
Umar berharap rangkaian diskusi tersebut dapat menghasilkan satu titik temu mengenai falsafah keilmuan yang akan menjadi identitas akademik IAI Natuna.
Ia menyebut terdapat dua arah pengembangan keilmuan yang selama ini banyak dibahas dalam dunia Islam, yakni islamisasi ilmu dan integrasi ilmu. Namun, untuk pengembangan IAI Natuna, konsep yang akan digunakan masih dalam proses pembahasan lebih lanjut.
“Kita mungkin akan mengambil istilah transformasi keilmuan. Mungkin, nanti kita lihat perkembangan,” pungkasnya.
Laporan: Dini










