“Sebanyak 319 peserta didik baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SMAN 1 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari ini mengedepankan konsep ramah anak, bebas perpeloncoan, serta membekali siswa dengan pendidikan karakter dan pengenalan lingkungan sekolah.”
Kepala SMAN 1 Bunguran Timur, Hj. Ida Susanti, S.Pd., mengatakan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 diikuti oleh 319 peserta didik baru. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan sekolah baru secara aman, nyaman, dan bebas dari praktik perpeloncoan.
NATUNA – Sebanyak 319 peserta didik baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah di SMAN 1 Bunguran Timur pada Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan berlangsung selama lima hari, mulai Senin (20/7) hingga Jumat (24/7), dengan mengusung konsep ramah anak sesuai petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat.
Kepala SMAN 1 Bunguran Timur, Hj. Ida Susanti, S.Pd., menjelaskan jumlah peserta yang diterima sebenarnya sebanyak 320 siswa dari kuota 324 orang yang terbagi ke dalam sembilan rombongan belajar (rombel). Namun, pada hari pertama pelaksanaan terdapat satu siswa yang belum dapat mengikuti kegiatan karena izin urusan keluarga.
“Jumlah peserta yang terdaftar sebanyak 320 siswa dari sembilan rombel. Pada hari pertama ada satu siswa yang izin karena urusan keluarga sehingga yang mengikuti kegiatan berjumlah 319 orang,” ujarnya kepada koranperbatasan.com saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/7/2026).
Sebelum kegiatan dimulai, pihak sekolah telah menggelar sosialisasi kepada para orang tua murid mengenai pelaksanaan MPLS Ramah. Dalam pertemuan tersebut, orang tua diimbau mengantar anak hingga pintu gerbang sekolah pada hari pertama sebagai bentuk dukungan terhadap proses adaptasi di lingkungan baru.
Menurut Ida Susanti, pelaksanaan MPLS tahun ini menegaskan tidak ada lagi praktik perpeloncoan, kekerasan, maupun pemaksaan penggunaan atribut tertentu kepada peserta didik.
“Sesuai juknis dari pemerintah pusat, MPLS tahun ini benar-benar mengedepankan konsep ramah anak. Tidak ada lagi perpeloncoan, kekerasan, ataupun pemaksaan atribut bagi siswa yang kurang mampu. Semua peserta memiliki hak yang sama untuk mengikuti kegiatan ini,” tegasnya.
Ia menjelaskan, tujuan utama MPLS adalah membantu peserta didik baru mengenal lingkungan sekolah, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, teman sebaya, serta memahami kurikulum yang akan dijalani selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMAN 1 Bunguran Timur.
Untuk memperkaya materi, sekolah menghadirkan empat narasumber dari berbagai instansi, yakni Bank Riau Kepri Syariah, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Natuna, Polres Natuna, dan Basarnas.
Salah satu materi yang menjadi perhatian khusus adalah pencegahan perundungan (bullying) yang disampaikan oleh DP3AP2KB Kabupaten Natuna.
“Kami meminta DP3AP2KB memberikan materi mengenai pencegahan bullying karena siswa kelas 10 sedang berada pada masa transisi. Mereka perlu memahami bagaimana membangun pergaulan yang sehat dan menghindari perilaku yang dapat merugikan teman di lingkungan sekolah,” katanya.
Ida menambahkan, seluruh peserta didik baru diterima melalui jalur domisili, prestasi, mutasi, dan afirmasi sesuai ketentuan penerimaan murid baru.
Ia berharap seluruh siswa mampu beradaptasi dengan cepat serta memperoleh dukungan penuh dari orang tua selama menjalani pendidikan di SMAN 1 Bunguran Timur.
“Harapan kami, orang tua terus memberikan dukungan dengan menyiapkan mental dan fisik anak dari rumah, termasuk memastikan mereka sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Semoga selama mengikuti MPLS anak-anak merasa nyaman, tidak takut dengan kakak tingkat, dan dalam tiga tahun ke depan mampu meraih prestasi terbaik di SMAN 1 Bunguran Timur,” pungkasnya.
Laporan: Dini










