“Empat warga yang berangkat mencari buah kembang semangkok di kawasan Gunung Bedung, Natuna, belum kembali setelah kehilangan kontak. Empat sepeda motor mereka ditemukan terparkir di batas jalur pendakian, sementara Tim SAR gabungan bersama kepolisian dan warga masih melakukan pencarian.”
Lurah Ranai Darat, A. Era Juein Marisa, S.Sos., mengungkapkan empat warga dilaporkan hilang setelah berangkat menuju kawasan Gunung Bedung, Kabupaten Natuna, untuk mencari buah kembang semangkok pada Selasa (25/8/2026) sekitar pukul 04.00 WIB. Hingga Kamis (27/8/2026), keberadaan keempat warga tersebut belum diketahui.
NATUNA – Empat warga yang berangkat mencari buah kembang semangkok di kawasan Gunung Bedung, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, belum ditemukan hingga Kamis (27/8/2026). Keempatnya diduga tersesat setelah kehilangan kontak dengan keluarga sejak Selasa siang.
Lurah Ranai Darat, A. Era Juein Marisa, S.Sos., mengatakan informasi mengenai keberadaan empat warga tersebut diperoleh dari pihak keluarga. Mereka berangkat sekitar pukul 04.00 WIB dengan rencana kembali setelah salat Asar.
Menurut Era, keberangkatan keempat warga tersebut tidak dibekali persiapan yang memadai. Mereka disebut tidak membawa senter dan bekal yang dibawa diperkirakan hanya cukup untuk makan siang.
“Mereka berangkat tanpa persiapan dan tanpa senter. Pukul 11.00 WIB, mereka sempat menghubungi melalui panggilan video untuk mengabarkan kalau sudah menemukan buah, sebelum akhirnya terputus akibat buruknya sinyal dan hilang kontak,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (27/8/2026).
Komunikasi tersebut menjadi kontak terakhir yang diketahui keluarga. Setelah ditunggu hingga sore dan keempatnya tidak kunjung pulang, pihak keluarga kemudian melakukan pencarian secara mandiri.
Dalam pencarian awal, keluarga menemukan empat sepeda motor milik mereka terparkir di sekitar batas jalur pendakian. Keluarga kemudian berjalan kaki selama kurang lebih tiga jam menuju kawasan gunung sambil memanggil nama mereka, tetapi tidak mendapatkan jawaban maupun tanda-tanda keberadaan.
“Dari keluarga dia pergi mencari, jumpalah motor mereka berempat. Terus dipanggil-panggil ke gunung sekitar tiga jam jalan kaki dari tempat parkir, itu enggak ada yang menyahut sedikit pun,” tuturnya.
Keempat warga tersebut berasal dari beberapa wilayah. Dua di antaranya, Arudin dan Wardi, merupakan warga Ranai Darat dan diketahui merupakan kakak beradik. Sementara dua warga lainnya disebut berasal dari Sedanau dan kawasan Jemengan.
Kondisi tersebut membuat keluarga semakin khawatir, terlebih selama berada di kawasan gunung, keempat warga disebut tidak membawa senter. Selain itu, pada Selasa, hujan lebat juga terjadi di kawasan gunung.
“Perbekalan enggak ada, bekalnya itu hanya untuk makan siang di hari Selasa. Itu yang dikhawatirkan, sama senter juga enggak ada,” kata Era.
Ia menduga keempat warga tersebut kemungkinan tersesat karena belum memiliki pengalaman yang cukup untuk melakukan perjalanan di kawasan gunung. Kondisi medan, minimnya persiapan, serta keterbatasan komunikasi turut menjadi kekhawatiran dalam proses pencarian.
Setelah menerima laporan dari keluarga, pihak Kelurahan Ranai Darat kemudian berkoordinasi dengan kepolisian dan Kantor SAR Natuna. Tim SAR bersama pihak kepolisian bergerak menuju lokasi dan mendirikan posko pencarian.
Era mengapresiasi respons cepat Tim SAR dan kepolisian dalam menangani laporan tersebut. Menurutnya, pencarian terus dilakukan dengan menambah personel dan melibatkan masyarakat setempat.
Pada Kamis, sekitar 10 warga bersama ketua RT dari Ranai Darat turut membantu melakukan penyisiran di kawasan Gunung Bedung. Mereka bergabung dengan Tim SAR dan kepolisian untuk mencari keberadaan keempat warga tersebut.
“Kami sudah tiga jam jalan di atas, tetapi dipanggil-panggil enggak ada respons,” ujar Era mengutip laporan warga yang ikut dalam pencarian.
Hingga Kamis, belum ada kabar mengenai keberadaan keempat warga tersebut. Tim SAR, kepolisian, masyarakat, dan unsur terkait masih melakukan pencarian di kawasan gunung.
Peristiwa ini sekaligus menjadi perhatian bagi masyarakat yang hendak melakukan aktivitas di kawasan pegunungan. Era mengimbau agar masyarakat tidak menganggap remeh medan Gunung Bedung dan selalu mempersiapkan perlengkapan keselamatan.
“Kalaupun mau naik gunung, tolong persiapannya. Senter harus ada, kompas juga harus dibawa. Pergi dengan orang yang benar-benar sudah ahli dan sering naik gunung, jangan pergi begitu saja,” pesannya.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi pembelajaran bagi masyarakat agar lebih mengutamakan keselamatan ketika memasuki kawasan hutan maupun pegunungan, terutama dengan membawa perbekalan, alat penerangan, alat navigasi, serta tidak bepergian seorang diri.
Laporan: Dini










