KEPULAUAN RIAUNASIONALOPINIPOLITIKPOTRET PERBATASAN

Sudut Pandang “INDONESIA BERUBAH”

×

Sudut Pandang “INDONESIA BERUBAH”

Sebarkan artikel ini
Analisis grafis tentang demonstrasi dan perubahan politik Indonesia pasca Peristiwa 25-31 Agustus 2025.
Potret Syahzinan, SE.

SETELAH dilanda badai aksi demo di Jakarta dan sebagian daerah di Indonesia dalam beberapa hari terakhir ini, saya namakan sebagai Peristiwa 25–31 Agustusan 2025. Ini mengingat yang ada di dalam memori saya sendiri.

Dimana sejarah pernah mencatat dan menyaksikan tragedi demi tragedi dan peristiwa-peristiwa kelam yang pernah terjadi dan dialami oleh bangsa ini. Mohon maaf, saya sebut saja seperti: Peristiwa 1965, Peristiwa Malari 1974, Peristiwa Tanjung Priok 1984, Peristiwa Perebutan Kantor PDI-P 1996 Jl. Diponegoro Jakarta, dan Peristiwa Huru-Hara Jakarta 1998 dengan lengsernya Presiden Soeharto, dan yang terakhir peristiwa terbaru 25–31 Agustusan di Jakarta dan sebagian daerah di Indonesia.

Memang bangsa ini terlalu banyak sekali menyimpan dokumen-dokumen dan sebuah mosaik sejarah masa lalu yang tidak boleh kita lupakan dan tinggalkan begitu saja…

MELAWAN LUPA…!!!

Sebagai bangsa yang telah merdeka 80 tahun yang lalu, yang baru kita peringati dan rayakan bersama baru-baru ini 17 Agustus 2025, dulunya merupakan perlawanan, pergolakan, dan melepaskan bangsa ini dari mengusir kolonialisme penjajah dari bumi Indonesia. Kata Bung Karno, melawan dan mengusir bangsa asing akan lebih mudah daripada melawan bangsa sendiri. Kata-kata ini sudah terbukti dan teruji sampai hari ini. Apa yang kita rasakan saat ini merupakan sebuah akumulasi permasalahan-permasalahan yang terjadi dan tidak akan pernah selesai dan tuntas, serta selalu berlanjut akan terus. Ini adalah sebuah luapan dan ledakan rasa ketidakadilan, rasa kekecewaan, rasa frustrasi, rasa kemarahan, rasa kebencian, dan rasa-rasa lainnya yang telah dimuntahkan pada tanggal 25–31 Agustus 2025.

Kita semua akan bertanya selalu: Siapa dalang? Siapa aktor intelektualnya? Siapa sebagai biang kerok? Siapa yang mengarahkan dan merekayasa semuanya? Dan siapa yang mendanai dan menjadi sponsor peristiwa ini? Dan beberapa pertanyaan lagi yang akan timbul di kemudian hari.

Baca Juga:  Hadiri Rakerwil, Fadillah : “Semoga Rasa Kebersamaan Kita Meningkat”

Kita adalah sebuah bangsa besar yang berdiri dengan kakinya sendiri, sejarahnya sendiri, pengalamannya sendiri, dan peradaban sendiri yang mungkin sangat berbeda dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Mungkin para pendiri-pendiri bangsa kita kalau mereka masih hidup di tengah-tengah kita, pastilah mereka akan kecewa, prihatin, marah, dan malu apa yang sedang terjadi dengan anak-anak bangsa sekarang ini yang membuat mereka tergores dan terluka hatinya. Ini sungguh sebuah ironis, keniscayaan, anomali, dan abnormal.

Setelah Peristiwa 25–31 Agustus terjadi, inilah saatnya pemerintah, DPR RI, dan lembaga-lembaga negara lainnya mau akan merubah diri, memperbaiki diri, dan mereformasi diri serta evaluasi total untuk menyelamatkan bangsa dan negara yang kita cintai dan sayangi setelah produk dan agenda-agenda reformasi selama 27 tahun yang lalu gagal total untuk diteruskan kepada generasi-generasi mendatang.

Setelah amarah berkecamuk, memuncak, membahana, serta bergelora di mana-mana, setelah sebagai tragedi, pematik, dan percikan sudutan api yang telah berkobar menjadi kekuatan bersatu yang dimotori oleh mahasiswa, tukang ojol, dan rakyat yang ingin sebuah perubahan-perubahan secara fundamental, struktural, dan radikal dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Barulah para elite-elite kekuasaan benar-benar mau melakukan perubahan total negeri ini.

Kata Bapak Amien Rais, Peristiwa 25–31 Agustusan adalah sebuah gejala awal People Power. Dan penulis sendiri mengatakan sebuah gerakan revolusioner tak sampai? Apakah peristiwa kemarin bisa kita samakan seperti Revolusi Bolshevik 7 November 1917 di Rusia? Menurut penulis hampir punya kesamaan? Atau seperti Revolusi Prancis atau Inggris?

Dari informasi dan berita terkini yang kita dengar sekarang, pemerintah dan DPR RI sedang melakukan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan secara cepat karena ada tekanan dan desakan dari mahasiswa dan rakyat Indonesia. Kita lihat saja dalam beberapa ini semua pintu-pintu di DPR RI dan istana sedang dibuka selebar-lebarnya untuk menerima dan menyampaikan semua aspirasi-aspirasi masyarakat yang tersumbat dan terkekang selama ini oleh penguasa (eksekutif-legislatif) negeri ini.

Baca Juga:  Tolak Pertambangan Pasir Kuarsa Jika Lahirkan Mudharat Besar Bagi Natuna

Masih punya harapan untuk memperbaiki diri di mana? Matahari masih bisa mengeluarkan cahayanya? Rembulan masih bisa mengeluarkan sinar bulannya? Dan para bintang-bintang masih bisa menghiasi langit-langitnya? Dan dunia belum kiamat?

Untuk mengakhiri tulisan ini, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab bersama:

Apakah hari ini Indonesia benar-benar berubah?

Apakah Indonesia bisa berubah dalam waktu yang sesingkat-singkatnya seperti adanya tekanan dan desakan dari mahasiswa dan rakyat Indonesia?

Apakah perubahan itu perubahan secara fundamental, struktural, dan radikal atau hanya perubahan-perubahan pragmatis populis saja?

Mari kita tunggu dan kawal bersama. Biarlah waktu nanti yang akan menjawabnya.
Demikian semoga…


(SEBUAH ANALISIS)

Penulis Oleh: Syahzinan, SE


📊 Views: 67

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *