Tinggal di Gubuk Atas Tanah Milik Orang, Sumarti Layak Dibantu

oleh -451 views
Rumah-Sumartini-Janda-4-putri-warga-Kemelak-Bindung-Langit-Kabupaten-Ogan-Komering-Ulu-Provinsi-Sumsel

BATURAJA, (KP),- Harus banyak bersyukur, karena kita semua masih diberi kehidupan layak, oleh tuhan yang maha esa. Sebab, tidak semua orang bisa  memperoleh kehidupan lebih baik, secara lahir dan batin. Juga tidak semua orang beruntung, meskipun sudah bekerja keras, demi memenuhi kebutuhan hidup. Kita masih bisa tersenyum lalu tertawa, sambil menikmati lezatnya roti, bersama harumnya susu kopi.

Berbeda dengan yang dialami oleh Sumartini (46), warga Kemelak, Bindung Langit, Kabupaten Ogan Komering Ulu (Kabupaten Oku), Provinsi Sumsel. Janda empat putri ini, tampak serba kekurangan. Tentunya ada banyak faktor, yang membuat anak dari seorang kakek bernama Bahri (85) ini, berada jauh dari layak. Suaminya sudah duluan pergi menghadap illahi.



Dengan mata berkunang-kunang, kepada koranperbatasan.com Sumartini menceritakan, sebelum meninggal dunia pada Januari 2003 silam, almarhum sempat mengalami stroke, kurang lebih 8 tahun. Selama 7 tahun, meskipun dalam kondisi sakit, almarhum tetap saja memaksakan diri untuk bekerja serabutan. Dengan gerak terbatas, bersama penyakit yang diderita, demi anak istri, dan keluarga tercinta, ia paksakan diri. Hingga sampai 1 tahun terakhir, almarhum sama sekali tidak bisa bergerak lagi, sampai ajal menjemput.

Karena kedaan serba kekurangan, dan orang tua yang sakit-sakitan, membuat anak sulungnya bernama Iza (26), memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Keputusan matang Iza memilih menggantikan posisi sang ayah, lalu bekerja. Dengan tujuan agar tetap dapat melanjutkan sekolah bagi adik-adiknya. Padahal, Iza saat itu, sudah duduk di bangku kelas 4 Sekolah Dasar (SD).

Begitulah kehidupan, keinginan kuat Iza, untuk memperoleh pekerjaan ternyata tidak seperti yang kita bayangkan. Iza hanya bekerja serabutan, yang dulunya dikerjakan oleh sang ayah. Disamping bekerja serabutan, Iza juga membantu pekerjaan rumah tangga, mengurus kakek, dan adik bungsunya, yang masih duduk di bangku Kelas V11 SMP Negeri 23 Kabupaten Oku. Kesibukan ini, terpaksa harus di laluinya, karena sang ibu, bekerja dari pukul 6 pagi, hingga 5 sore.

Disamping minimnya penghasilan, Sumartini beserta kelurga, juga tinggal disebuah rumah kurang layak. Meski seperti “gubuk”, namun Sumartini mengaku bahagia bisa berkumpul bersama anak-anaknya. Padahal rumah kecil, yang mereka diami itu, berdiri di atas tanah milik orang lain. Selain itu, fasilitas yang ada di dalam rumah, seperti kamar mandi, dan WC, juga tidak ada. Untuk urusan MCK, mereka terpaksa harus ke sungai, yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal.

Aliran listrik, buat menerangi rumah secukupnya, mereka peroleh dari menumpang sambungan milik tetangga terdekat, dengan membayar iuran sebesar Rp.100 Ribu/bulan. Urusan dapaur rumah Sumartini juga tidak seperti kita, yang sekali pencet keluar api, layaknya kompor gas, atau sejenisnya. Sumartini, hanya bisa menjadikan kayu sebagai bahan untuk menghidupkan api, buat memasak. Sebagai buruh pemetik jagung, Sumartini memang harus pandai-pandai mengatur keuangan, agar mereka bisa bertahan hidup. Karena upah yang ia peroleh hanya Rp.5 ribu/karung ukuran 50 kilogram. (Syahril).


Memuat...