“Lonjakan permintaan air bersih di Tanjungpinang membuat penjual air tangki kewalahan melayani pesanan warga di tengah kondisi cuaca kering dan keterbatasan pasokan.”
Penjual air bersih di kawasan Batu 9, Kota Tanjungpinang, D, mengungkapkan bahwa permintaan air tangki meningkat drastis dalam beberapa hari terakhir akibat terbatasnya pasokan air di sejumlah wilayah.
TANJUNGPINANG – Lonjakan permintaan air bersih terjadi di sejumlah wilayah Kota Tanjungpinang seiring kondisi cuaca yang cenderung kering serta terbatasnya pasokan air bagi masyarakat.
Pantauan Koran Perbatasan pada Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, para penjual air tangki tampak kewalahan melayani pesanan yang terus berdatangan sejak pagi hingga malam hari.
Salah satu penjual air bersih berinisial D di kawasan Batu 9 mengatakan jumlah permintaan saat ini jauh melebihi kapasitas suplai yang tersedia.
“Saya sudah sampaikan ke pelanggan bahwa air sekarang memang susah didapat. Untuk langganan tetap saja kami harus atur giliran, apalagi banyak nomor baru yang terus menghubungi dan memohon agar bisa diantarkan air secepatnya. Saya tidak tega melihat kondisi warga, tapi di sisi lain kami juga terbatas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pesanan tidak hanya datang melalui panggilan telepon, tetapi juga membanjiri pesan WhatsApp hingga larut malam. Bahkan, dalam beberapa kasus terjadi kesalahpahaman antara pembeli dan penjual akibat desakan pengiriman yang ingin dipercepat.
Hal serupa juga disampaikan penjual lainnya berinisial K. Menurutnya, kondisi tersebut membuat para penjual harus bekerja ekstra sekaligus menghadapi tekanan dari pembeli yang membutuhkan air secara mendesak.
“Ada juga pembeli yang sampai emosi di chat karena ingin didahulukan. Kami paham kebutuhan mereka mendesak, tapi kondisi air memang terbatas. Kami berusaha semaksimal mungkin agar semua tetap kebagian,” jelasnya.
Meski harga air tangki saat ini berada di kisaran Rp100 ribu per tangki, banyak warga tetap bersedia membeli, bahkan ada yang menawarkan harga lebih tinggi demi mendapatkan pasokan lebih cepat.
Selain menghadapi tingginya permintaan, para penjual air juga harus mencari sumber air lebih jauh dari biasanya karena beberapa sumber mulai mengering. Hal ini membuat proses distribusi menjadi lebih lambat dan membutuhkan tenaga ekstra.
Baik D maupun K berharap kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Mereka berharap hujan segera turun agar ketersediaan air kembali normal.
“Kami sangat berharap hujan segera turun. Bukan hanya untuk warga, tapi juga untuk kami yang sudah mulai kesulitan mencari sumber air. Semoga kondisi ini cepat berlalu dan semua bisa kembali normal,” tutup K.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak serta saling memahami keterbatasan yang terjadi agar kebutuhan air dapat terpenuhi secara merata. (KP).
Laporan: Venti










