KABAR PERBATASANNATUNAPENDIDIKAN

IAI Natuna Perkuat Struktur, Siapkan Strategi Kampus 2026

×

IAI Natuna Perkuat Struktur, Siapkan Strategi Kampus 2026

Sebarkan artikel ini
Rektor IAI Natuna, Dr. H. Umar Natuna, S.Ag., M.Pd.I., saat menyampaikan paparan dalam sebuah kegiatan di lingkungan IAI Natuna.

“Pasca beralih status dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) menjadi Institut Agama Islam (IAI) Natuna, pihak rektorat mulai memantapkan struktur kelembagaan sekaligus menyiapkan sejumlah program strategis untuk memperkuat kualitas kampus sepanjang 2026.”

NATUNA – Rektor IAI Natuna, Dr. H. Umar Natuna, S.Ag., M.Pd.I., mengatakan fase awal kepemimpinan institut pada 2026 akan diarahkan pada penguatan konsolidasi sumber daya manusia (SDM), fasilitas dan sarana-prasarana, serta sinergi dengan para pemangku kepentingan (stakeholders).

Menurut Umar, perubahan status kelembagaan dari sekolah tinggi menjadi institut turut membawa perubahan dalam struktur organisasi. Posisi pimpinan kini berada pada rektor yang dibantu tiga wakil rektor dengan bidang tugas masing-masing.

“Secara kelembagaan kan dari ketua sekolah tinggi jadi institut. Jadi, ketika institut jabatannya rektor. Kemudian di bawah rektor itu ada pembantu rektor. Pembantu rektor satu bidang akademik dan sumber daya manusia,” tegasnya kepada Koran Perbatasan saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026).

Struktur Baru IAI Natuna

Dalam struktur kelembagaan yang baru, IAI Natuna memiliki tiga wakil rektor. Wakil Rektor I membidangi akademik dan sumber daya manusia, Wakil Rektor II menangani administrasi, perencanaan, dan keuangan, sedangkan Wakil Rektor III membidangi kemahasiswaan, alumni, dan kerja sama.

Di bawah jajaran wakil rektor terdapat dua biro utama, yakni Biro Akademik dan Kerja Sama serta Biro Administrasi Umum.

IAI Natuna juga kini menaungi tiga fakultas dan tujuh program studi. Ketiga fakultas tersebut yakni Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Syariah, Usuluddin, dan Dakwah, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah.

“Di bawah fakultas itu ada prodi. Kita ada tujuh prodi. Nah, setelah itu ada lembaga struktural dan lembaga nonstruktural,” sebut Umar.

Baca Juga:  Manfaat dan Mudharat Curhat

Sejumlah lembaga pendukung juga diperkuat, di antaranya Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), serta UPT Perpustakaan. Sementara itu, lembaga nonstruktural meliputi Pusat Bahasa dan Al-Qur’an, Pusat Kajian Islam, Tamadun Melayu dan Geopark, Pusat Inkubasi Bisnis, serta Halal Center.

Target Perkuat Kualitas Lulusan

Dalam upaya mewujudkan visi kampus yang unggul dan berdaya saing, IAI Natuna menetapkan standar akademik dan nonakademik bagi lulusan.

Untuk standar akademik, mahasiswa ditargetkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,00, disertai penguasaan kemampuan teoritis sesuai bidang keilmuan serta kemampuan manajerial.

Sementara standar nonakademik diarahkan pada penguasaan keahlian khusus. Mahasiswa dipersiapkan memiliki kemampuan di bidang agama, kebudayaan lokal atau Tamadun Melayu, serta kewirausahaan yang berbasis pada potensi daerah.

“Karena mereka hidup di masyarakat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jadi keterampilan-keterampilan di bidang pantun, di bidang gurindam, syair, tari, menari dan seterusnya harus mereka pilih salah satu keahlian apa yang mereka ingin tekuni. Yang ketiga adalah entrepreneur atau kewirausahaan,” lanjutnya.

Umar menjelaskan, proses pembelajaran di IAI Natuna juga diarahkan menggunakan pendekatan integratif dan interkonektif. Artinya, pengetahuan, karakter, dan keterampilan mahasiswa tidak dikembangkan secara terpisah, tetapi menjadi satu kesatuan dalam capaian lulusan.

Bentuk Tim Peneliti, Fokus pada Persoalan Natuna

Selain memperkuat struktur kelembagaan, IAI Natuna juga membentuk tim peneliti yang saat ini beranggotakan enam orang. Tim tersebut diarahkan pada dua fokus utama, yakni pengembangan ilmu dan penelitian kebijakan (policy research).

Umar mengatakan penelitian kebijakan diharapkan dapat menghasilkan kajian yang menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan daerah. Salah satu contoh yang disebutkannya adalah penelitian mengenai persoalan stunting untuk mengetahui akar masalah secara lebih mendalam.

Baca Juga:  Wakil Ketua I DPRD Natuna Hadiri Pelepasan Danyon Komposit 1 Gardapati

“Hasil penelitian kebijakan dari kampus ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah bagi pengambil kebijakan di daerah, misalnya dalam memetakan akar masalah stunting atau merumuskan desain pemberdayaan masyarakat Natuna secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Umar, penelitian juga akan diarahkan untuk mengkaji persoalan pemberdayaan masyarakat Natuna. Ia menilai diperlukan kajian yang lebih terarah agar program pemberdayaan tidak berjalan secara sporadis tanpa didukung desain dan data yang memadai.

Mahasiswa Dilibatkan dalam Penelitian

Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari pengembangan kegiatan penelitian di IAI Natuna. Mahasiswa dari berbagai semester diperbolehkan terlibat sesuai dengan kemampuan dan bidang keilmuan masing-masing.

Umar menyebut mahasiswa akan memperoleh pengalaman dalam memahami metode penelitian, menyusun desain penelitian, hingga membuat instrumen penelitian. Kemampuan tersebut juga diharapkan dapat diterapkan ketika mahasiswa menyusun program organisasi berdasarkan kebutuhan dan minat yang diperoleh melalui survei.

“Paling tidak mereka tahu metode penelitian, kemudian membuat desain penelitian, yang kedua membuat instrumen penelitian,” katanya.

Dengan penguatan struktur kelembagaan, peningkatan kualitas lulusan, serta pengembangan penelitian berbasis persoalan daerah, IAI Natuna menargetkan proses transformasi kelembagaan tidak hanya berdampak pada perubahan struktur organisasi, tetapi juga meningkatkan kontribusi kampus terhadap masyarakat dan pembangunan daerah.


Laporan: Dini


📊 Views: 24

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *