ANAMBASKABAR PERBATASAN

Pemadaman Listrik Berulang di Anambas, PLN Ungkap Kondisi 3 Mesin Bermasalah

×

Pemadaman Listrik Berulang di Anambas, PLN Ungkap Kondisi 3 Mesin Bermasalah

Sebarkan artikel ini
Caption: Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas, Sahtiar, bersama Plh Manager PLN ULP Anambas, Imam Wicaksono, mengikuti pertemuan membahas persoalan pemadaman listrik berulang di Kecamatan Palmatak, Siantan Tengah, dan Kute Siantan. Pertemuan membahas kondisi mesin pembangkit, gangguan jaringan, rencana perbaikan, serta pentingnya koordinasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat.

“Pemadaman listrik berulang di Kecamatan Palmatak, Siantan Tengah, dan Kute Siantan menjadi sorotan dalam pertemuan bersama di Pendopo Desa Payalaman. PLN mengungkap tiga dari 11 mesin di PLN Sub ULP Ladan mengalami gangguan, sementara perbaikan terus diupayakan.”

ANAMBAS – Plh Manager PLN ULP Anambas, Imam Wicaksono, mengungkap kondisi tiga unit mesin pembangkit yang mengalami gangguan di PLN Sub ULP Ladan saat membahas persoalan pemadaman listrik berulang di wilayah Anambas. Pertemuan yang melibatkan PLN, Pemerintah Daerah, DPRD, camat, kepala desa, BPD, unsur Forkopimda, dan perwakilan masyarakat itu berlangsung di Pendopo Desa Payalaman, Kecamatan Kute Siantan, Kamis (24/9/2026).

Persoalan pemadaman listrik yang terjadi berulang di Kecamatan Palmatak, Kecamatan Siantan Tengah, dan Kecamatan Kute Siantan dibahas dalam pertemuan bersama antara PLN, pemerintah daerah, DPRD, pemerintah kecamatan dan desa, unsur Forkopimda, serta masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah persoalan dibahas, mulai dari kondisi mesin pembangkit, gangguan jaringan, rencana pemeliharaan hingga mekanisme penyampaian informasi kepada masyarakat ketika terjadi pemadaman. Salah satu hasil pembahasan menyebutkan mesin yang mengalami gangguan ditargetkan kembali beroperasi pada 1 Oktober 2026.

Plh Manager PLN ULP Anambas, Imam Wicaksono, mengatakan persoalan mesin menjadi salah satu kendala yang saat ini sedang ditangani PLN.

“Tadi yang masalah mesin, tadi ada gangguan, yang kondisinya yang akan running itu di tanggal satu Oktober ya, sesuai dengan kesepakatan tadi,” kata Imam saat ditemui usai pertemuan.

Imam menjelaskan, saat ini terdapat 11 unit mesin di PLN Sub ULP Ladan. Dari jumlah tersebut, tiga unit mengalami gangguan, sedangkan delapan unit lainnya masih beroperasi.

Untuk jangka pendek, PLN mengupayakan perbaikan terhadap salah satu mesin yang mengalami gangguan. Suku cadang untuk perbaikan mesin tersebut dijadwalkan tiba dalam waktu dekat.

Baca Juga:  Tangkal Covid-19, Pemda KKA Gelar Rapat Teknis Pembatasan Transportasi Penumpang Laut dan Udara

“Kita lagi upayakan satu mesin diperbaiki, spare part-nya akan tiba besok. Jika satu mesin dengan daya 400 kW ini bisa beroperasi lagi maka dayanya nanti tercukupi,” ujarnya.

Selain perbaikan satu unit mesin, PLN juga menyiapkan penanganan terhadap dua unit mesin lainnya. Dalam jangka panjang, dua unit mesin dengan total daya 1.870 kW akan diperbaiki dengan target penyelesaian selama empat bulan, terhitung sejak September 2026.

Persoalan jaringan penyulang juga menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut. Gangguan yang berkaitan dengan tumbuhan di sekitar jaringan menjadi salah satu hal yang akan ditangani PLN melalui kegiatan pemangkasan.

PLN berencana mendatangkan tim khusus untuk melakukan pemangkasan. Dalam pelaksanaannya, PLN meminta dukungan masyarakat dan pemuka setempat, terutama dalam memberikan akses atau izin terhadap kegiatan di sekitar jaringan.

“Untuk gangguan penyulang yang ada, seperti tumbuhan, itu kita juga meminta bantuanlah ke kawan-kawan dan pemuka masyarakat untuk mengizinkan,” sebut Imam.

Koordinasi dan Informasi kepada Masyarakat

Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas, Sahtiar, menekankan pentingnya penyampaian informasi dan koordinasi dalam menangani persoalan listrik yang berdampak langsung terhadap masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan penjelasan berdasarkan kondisi dan fakta yang terjadi di lapangan.

“Yang paling penting adalah segala sesuatu yang menyangkut kehidupan mereka, yang mereka alami setiap hari, itu perlu disampaikan,” ujarnya.

Ia menilai informasi yang disampaikan secara jelas dan berdasarkan kondisi sebenarnya akan lebih mudah diterima masyarakat.

“Kalau memang logis dan memang itu masuk akal, saya kira tidak ada orang yang tidak bisa menerima. Asalkan memang semua bukan dibuat-buat, ada fakta yang terjadi seperti itu,” ucap Sahtiar.

Sahtiar juga mengingatkan pentingnya koordinasi sebelum mengambil tindakan. Menurutnya, minimnya komunikasi dapat menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat dan membuat penanganan persoalan menjadi lebih panjang.

Baca Juga:  STAI Natuna Gelar PBAK 2025: Transformasi Generasi Muda Menuju Intelektual Melayu Berkarakter

“Kalau kita melakukan sesuatu tanpa koordinasi, tindakan kita ambil sendiri, persepsi di luar akan berbeda-beda,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung mekanisme pemberitahuan mengenai pemadaman yang perlu diperjelas agar masyarakat mengetahui penyebab gangguan yang terjadi.

“Biar masyarakat itu tahu. Kalaupun dia nanya, ‘Ini ada pemadaman kenapa?’, dia akan tanya masalah pemadamannya apa, nanti tinggal dijelaskan,” ujar Sahtiar.

Ia berharap pola komunikasi dan koordinasi dapat berjalan lebih cepat, terutama ketika terjadi gangguan yang berpotensi mengganggu pelayanan listrik dalam waktu cukup lama.

“Kalau ada sesuatu, saya kira benar-benar harus cepat dan tanggap, dan dikoordinasikan sebelum ini menjadi besar,” tuturnya.


Laporan: Azmi


📊 Views: 135

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *