KESEHATANNATUNAPENDIDIKAN

Puskesmas Ranai Edukasi Kesehatan Mental Remaja SMPN 4 Natuna

×

Puskesmas Ranai Edukasi Kesehatan Mental Remaja SMPN 4 Natuna

Sebarkan artikel ini
Dokter internship Puskesmas Ranai, dr. Hillary Priscilla, menyampaikan edukasi kesehatan jiwa dan pengelolaan emosi kepada para siswa SMPN 4 Bunguran Timur dalam kegiatan edukasi kesehatan mental remaja, Jumat (6/11/2026).

“Dokter internship Puskesmas Ranai, dr. Hillary Priscilla, memberikan edukasi kesehatan jiwa dan pertolongan pertama psikologis dasar kepada para siswa SMPN 4 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan mental, pengelolaan emosi, serta pentingnya mencegah stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa.”

NATUNA – Puskesmas Ranai menggelar edukasi kesehatan jiwa dan pertolongan pertama psikologis dasar bagi para siswa SMPN 4 Bunguran Timur, Kabupaten Natuna, Jumat (6/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari program tahunan Puskesmas sekaligus pelaksanaan mini project dokter internship.

Dokter internship Puskesmas Ranai, dr. Hillary Priscilla, menjelaskan bahwa edukasi tersebut difokuskan kepada kalangan remaja karena kelompok usia ini dinilai membutuhkan pemahaman mengenai kesehatan jiwa dan kemampuan mengelola emosi.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Kementerian Kesehatan yang juga dilaksanakan sebagai tugas dokter internship selama menjalani masa penugasan.

“Ini sebenarnya sudah ada program dari Kemenkes. Akan tetapi, di sini saya melaksanakannya juga dengan melakukan tugas saya sebagai dokter internship untuk melaksanakan mini project. Jadi, sangat perlu diberikan edukasi kesehatan jiwa pada remaja karena di usia remaja inilah paling banyak atau paling sering terjadi gangguan jiwa tersebut,” ujarnya kepada koranperbatasan.com saat diwawancarai di lingkungan sekolah.

Menurut Hillary, gangguan kesehatan jiwa dapat dideteksi sejak usia dini, bahkan sebelum seseorang berusia 14 tahun. Karena itu, edukasi dan upaya pencegahan dinilai penting agar permasalahan kesehatan mental dapat dikenali lebih awal.

“Gangguan jiwa tersebut sudah bisa dideteksi dari usia sebelum 14 tahun. Oleh karena itu, untuk melakukan pencegahan, saya memberikan edukasi kesehatan jiwa dan pertolongan pertama psikologis dasar bagi seseorang yang benar-benar membutuhkan pertolongan tersebut,” jelasnya.

Baca Juga:  Masa Pandemi Covid-19 Satpol-PP Natuna Bekerja 24 Jam Termasuk Hari Libur

Remaja Perlu Memahami Pengelolaan Emosi

Hillary menambahkan, edukasi kesehatan jiwa tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi juga meningkatkan pemahaman mereka tentang cara mengenali dan mengelola emosi.

Menurutnya, kalangan remaja masih membutuhkan pendampingan dan edukasi agar mampu memahami kondisi psikologis diri sendiri.

“Remaja ini masih sangat butuh diberikan edukasi terkait kesehatan jiwanya ataupun tentang bagaimana cara mereka meregulasi emosinya,” terangnya.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai kesehatan mental serta mengetahui pentingnya mencari pertolongan ketika menghadapi persoalan psikologis.

Masyarakat Diminta Tidak Memberikan Stigma

Selain menyampaikan pentingnya edukasi kesehatan jiwa bagi remaja, Hillary juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Ia mengingatkan agar masyarakat tidak memberikan stigma atau label negatif kepada seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Menurutnya, gangguan jiwa tidak seharusnya dikaitkan dengan anggapan mistis, seperti pengaruh jin.

Hillary menjelaskan bahwa kondisi gangguan jiwa dapat berkaitan dengan faktor lingkungan maupun berbagai permasalahan yang dialami seseorang hingga memengaruhi kondisi psikologisnya.

“Diharapkan masyarakat lebih aware lagi terkait kesehatan jiwa. Jangan pernah menstigma kalau orang yang mengalami gangguan jiwa atau yang bisa kita sebut ODGJ itu karena penyakit yang diakibatkan oleh jin. Padahal, ODGJ itu sendiri diakibatkan oleh faktor lingkungan ataupun masalah-masalah yang menyebabkan dia sudah tidak bisa lagi memikirkan hal tersebut, sehingga dia menjadi ODGJ,” pungkasnya.

Ia berharap masyarakat semakin memahami persoalan kesehatan jiwa dan tidak memberikan stigma negatif kepada orang yang mengalami gangguan tersebut.


Laporan: Dini


📊 Views: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *