“Lonjakan harga ikan sunu menjelang Imlek 2026 di Kepulauan Riau menjadi “bonus setahun” bagi para pembudidaya.”
BINTAN – Pembudidaya ikan sunu di Kepulauan Riau merasakan lonjakan harga signifikan menjelang perayaan Imlek 2026, Rabu (18/2/2026). Harga yang biasanya berkisar Rp200.000 per kilogram kini melonjak hingga mendekati Rp500.000 per kilogram, memberikan keuntungan besar bagi nelayan dan pembudidaya.
Kenaikan harga ikan sunu menjelang Tahun Baru Imlek kembali terjadi di sejumlah wilayah pesisir Kepulauan Riau. Permintaan pasar yang meningkat drastis membuat harga melambung jauh di atas harga normal.
Agus, pembudidaya ikan sunu di Desa Numbing Kecamatan Bintan Pesisir, mengaku merasakan dampak positif dari fenomena tahunan tersebut. Saat ditemui di dermaga keramba jaring apungnya sekitar pukul 13.00 WIB, ia tengah memeriksa ikan sunu yang siap dipanen setelah dibesarkan selama setahun penuh.
“Rasanya seperti kaya raya. Setiap kilogram yang biasanya saya jual Rp200.000, sekarang hampir Rp500.000. Semua kerja keras satu tahun terasa terbayar lunas. Momen seperti ini benar-benar dinanti setiap tahun,” ujarnya.
Menurut Agus, kenaikan harga dipicu oleh tingginya permintaan masyarakat Tionghoa yang menjadikan ikan sunu sebagai salah satu hidangan favorit saat perayaan Imlek. Ia menegaskan, kualitas ikan menjadi faktor utama yang menentukan nilai jual.
“Kami harus jaga kualitas dari awal. Kalau ikan sehat dan segar, pembeli tidak ragu bayar mahal,” katanya.
Lonjakan harga ini tidak hanya berdampak pada pembudidaya, tetapi juga pada konsumen. Warga yang ingin membeli sunu menjelang Imlek harus menyiapkan anggaran lebih besar, bahkan stok di sejumlah tempat cepat habis karena tingginya permintaan.
Meski demikian, fenomena ini sudah menjadi siklus tahunan yang dipahami masyarakat Kepulauan Riau. Bagi pembudidaya, momen sebelum Imlek menjadi masa panen keuntungan setelah satu tahun penuh merawat ikan di keramba jaring apung.
Agus menyebut, kenaikan harga ini bukan sekadar soal uang, tetapi bentuk penghargaan atas ketekunan dan kesabaran.
“Setahun kami rawat, baru saat Imlek ini hasilnya benar-benar terasa,” pungkasnya. (KP).
Laporan: Novi










