Harga Getah dan Kelapa Anjlok, Andi : Jaga Rakyat Natuna Jangan Sampai Lapar

Terbit: oleh -21 Dilihat
Andi Mubin warga Sedanau, Natuna saat berada di Kantor Redaksi Koranperbatasan.com

NATUNA – Andi Mubin (66), yang mangaku sebagai seorang petani berasal dari Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, mengeluh turunnya harga Getah (Karet) dan Kelapa di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

Menurutnya, penurun harga yang jauh dari harga normal, sangat berdampak terhadap kehidupan keseharian para petani dan berbahaya bagi masyarakat Natuna.

“Jatuhnya harga getah dan kelapa, masyarakat umumnya dan petani khususnya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk membeli beras saja mulai terasa berat,” ungkapnya di Kantor Redaksi Koranperbatasan.com, Ranai, Minggu, 9 Oktober 2022.

Kata Andi, penurunan harga getah dan kelapa yang merupakan mata pencaharian para petani itu mencapai hingga 50 persen. Hal ini tentu menambah kesulitan masyarakat pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Seperti yang telah diungkapkan Andi, salah satunya untuk membeli beras.

“Natuna sangat ketergantungan dengan bahan pokok dari luar daerah, termasuk beras. Naik harga BBM otomatis harga kebutuhan pokok ikut naik. Tapi kenapa getah dan kelapa malah turun harga?, sedangkan mayoritas petani di Natuna sangat bergantung pada getah dan kelapa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, untuk makan. Dimana-mana ada, Midai, Selaut, dan lain-lain” ujarnya.

Andi menjelaskan, sebelumnya dengan harga normal Kopra Rp10 ribu per kilogram, maka petani bisa menjual kelapa kepada pelaku usaha Kopra seharga Rp2 ribu per kelapa. Dan petani juga bisa mengupah pekerja (masyarakat bukan petani) untuk panjat pohon dan memetik kelapa sebesar Rp500 rupiah per kelapa.

“Katakanlah paling mampu pemanjat mendapatkan 100 kelapa setiap hari, Rp500 rupiah dikalikan 100 kelapa sama dengan Rp50 ribu. Dapat pekerja penghasilan sehari Rp50 ribu. Sekarang petani hanya mampu mengupah pekerja sebesar Rp200 rupiah dikalikan 100 dapatnya hanya Rp20 ribu,” terangnya.

Andi Mubin saat menyampaikan keluhan turunnya harga getah dan kelapa di Natuna kepada wartawan koranperbatasan.com

Lanjut Andi, begitu juga dengan pelaku usaha Kopra yang mengupah pekerja mulai dari mengupas kulit kelapa, mengeluarkan isi kelapa, bahkan pekerja yang melakukan pengasapan hingga pengeringan kelapa.

“Saya pernah bertanya kepada salah satu pelaku usaha Kopra. Berapa upah pekerja dan keuntungan bersih dari usaha ini. Dia (pelaku usaha) menjawab kalau harga Rp10 ribu per kilogram, maka Rp7 ribu untuk modal, artinya 30 persen keuntungan bersih. Sedangkan untuk upah, salah satunya pekerja yang mengupas kulit kelapa itu Rp200 rupiah per kelapa. Paling banyak dalam satu hari terkupas 1000 kelapa, dapat penghasilan Rp200 ribu. Karena sekarang harga Kopra turun separuh dari harga normal, maka upah mengupas kelapa ikut turun menjadi separuh atau Rp100 rupiah, dikalikan 1000 kelapa dapat penghasilan Rp100 ribu. Untuk mengupas 1000 kelapa dalam satu hari itu, 1 berbanding 10.  Hanya 1 orang yang mampu dari 10 orang, yang lain hanya berapa penghasilan?. Begitu juga dengan pekerja yang mengeluarkan isi kelapa, pengasapan dan pengeringan, jadi semuanya sama terkena dampak hilang separuh dari penghasilan,” pungkasnya.

Tambah Andi, begitu juga dengan pekerja getah. Natuna umumnya pekerja yang mengelola kebun getah menggunakan sistem bagi hasil dengan pemilik kebun. Dimana sistemnya tiga banding satu, dua bagian untuk pekerja dan satu bagian untuk pemilik kebun. Namun, dengan syarat segala keperluan dan kebutuhan selama bekerja disediakan atau ditanggung oleh pekerja.

“Katakanlah paling mampu pekerja dalam satu hari itu mengumpulkan getah sebanyak 5 kilogram. Jika harga normal Rp12 ribu per kilogram, dikalikan 5 dapat Rp60 ribu. Pekerja terima penghasilan bersih Rp40ribu dan pemilik terima Rp20 ribu per hari. Sekarang harga Rp6 ribu, dikalikan 5 dapat Rp30 ribu. Untuk pemilik kebun Rp10 ribu, pekerja Rp20 ribu, mau makan apa?, sedangkan untuk makan sehari rata-rata dalam satu keluarga menghabiskan 2 kilogram beras. Rp20 ribu untuk beli 2 kilogram beras saja tidak cukup, tidak ada nasi anak kelaparan, orang tua pening. Kalau kami dulu bisa makan ubi (singkong), anak sekarang mana mau” tukasnya.

Andi menilai, kondisi ini sangat berbahaya. Meskipun petani getah dan kelapa tidak menjerit sekuat mungkin secara terang-terangan, tetapi dalam hati sudah pasti menjerit karena terancam gantung periuk nasi.

Ia berharap perhatian dari Pemerintah Daerah Natuna untuk memperjuangkan kembali kestabilan harga getah dan kelapa.

“Kalau rakyat lapar Natuna tidak akan makmur, tetapi dapat murka Allah. Rakyat sudah pasti menyumpah, karena dianggap yang mengatur kestabilan harga itu pemerintah. Bersama-sama lah kita berbuat, saya selaku masyarakat berjuang menyampaikan aspirasi ini melalui media, media meneruskan ke pemerintah, bupati dan segala macam. Bupati melanjutkan lewat provinsi, provinsi ke pusat. Jaga rakyat Natuna jangan sampai lapar. Jika dilihat dengan harga beras sekarang, maka harga Kopra tidak dapat diturunkan lagi dari Rp10 ribu dan getah Rp12 ribu per kilogram. Jika tidak bisa naik, maka cukup bertahan diharga itu,” tutupnya. (KP).


Laporan : Johan


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *