NATUNA

Strategi Kelurahan Bandarsyah Menekan Prevalensi Stunting Melalui Intervensi Door-to-Door

11
×

Strategi Kelurahan Bandarsyah Menekan Prevalensi Stunting Melalui Intervensi Door-to-Door

Sebarkan artikel ini
Lurah Bandarsyah Ervan Hamdani, SE. saat memberikan keterangan mengenai strategi penurunan stunting dan koordinasi perangkat kelurahan di Kantor Lurah Bandarsyah.
Suasana saat wawancara mengenai penanganan upaya stunting Kelurahan Bandarsyah.

“Kelurahan Bandarsyah mengonsolidasikan seluruh instrumen perangkat lingkungan dan tenaga kesehatan untuk mengeksekusi program jemput bola guna memastikan akurasi data serta pemenuhan nutrisi balita di tengah keterbatasan anggaran operasional.”

NATUNA — Lurah Bandarsyah, Ervan Hamdani, SE., memaparkan capaian signifikan dalam mereduksi angka prevalensi stunting melalui penguatan kolaborasi antar-stakeholder dan intervensi langsung ke tingkat rumah tangga di Kabupaten Natuna. Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas urgensi pengembangan kualitas sumber daya manusia dan mitigasi risiko gangguan kognitif jangka panjang pada generasi mendatang di wilayah Kelurahan Bandarsyah.

Di tengah upaya nasional mengejar target penurunan gangguan pertumbuhan kronis pada anak, Kelurahan Bandarsyah muncul dengan pendekatan langsung lapisan masyarakat bawah. Melalui mobilisasi bersama yang melibatkan Ketua RT, RW, Kader Posyandu, hingga Tim Penggerak PKK, otoritas kelurahan menerapkan mekanisme “jemput bola” bagi keluarga yang absen dalam pemantauan rutin di fasilitas kesehatan dasar.

Ervan Hamdani menjelaskan bahwa pada periode 2025 lalu Kelurahan Bandarsyah telah memetakan determinan sosial yang menghambat partisipasi masyarakat dalam program kesehatan.

“Kami mengerahkan seluruh perangkat di bawah, mulai dari RT, RW, hingga kader PKK. Salah satu program unggulan kami adalah memastikan siapa pun yang tidak hadir ke Posyandu harus dijemput. Perangkat lingkungan harus bergerak aktif mengajak warga,” ujar Ervan kepada koranperbatasan saat diwawancarai di Kantor Lurah Bandarsyah, Rabu, 18 Februari 2026.

Hasil dari konsistensi intervensi ini membuahkan hasil empiris. Kelurahan Bandarsyah berhasil mengamankan posisi kedua sebagai wilayah dengan performa penurunan stunting terbaik di Kecamatan Bunguran Timur, tepat di bawah Desa Sepempang. Capaian ini menjadi krusial mengingat kompleksitas geografis dan demografis yang ada.

Namun perjalanan menuju nol kasus bukan tanpa hambatan, Ervan mengidentifikasi wilayah Air Raya sebagai titik krusial yang memerlukan perhatian ekstra akibat rendahnya literasi kesehatan masyarakat setempat. Menurutnya, pemahaman mengenai keterkaitan antara asupan nutrisi dan perkembangan otak anak masih sering terbentur pada persepsi tradisional masyarakat mengenai kesehatan fisik semata.

Baca Juga:  Asisten III Pemerintahan Natuna Buka Talk Show Regsosek di Sungai Ulu

“Titik utamanya berada di Air Raya. Ini berkaitan dengan edukasi. Masyarakat seringkali beranggapan bahwa selama anak tidak mengalami febris atau penyakit akut lainnya, mereka merasa anak tersebut sehat. Mereka belum sepenuhnya memahami dampak jangka panjang stunting terhadap fungsi kognitif dan masa depan anak,” jelas Ervan.

Selain Air Raya, pemantauan ketat juga dilakukan di wilayah Pering, Padang Kurak, hingga Sual guna menjamin pemerataan akses pelayanan kesehatan.

Salah satu aspek paling menyentuh dalam narasi penanganan stunting di Bandarsyah adalah ketimpangan antara urgensi program dan ketersediaan kapasitas fiskal kelurahan.

Ervan mengungkapkan bahwa minimnya anggaran operasional sempat menjadi kendala dalam pendistribusian bantuan gizi tambahan langsung ke rumah warga. Dalam situasi tersebut, nilai-nilai filantropi lokal justru muncul ke permukaan.

“Secara finansial, anggaran kelurahan sangat terbatas untuk menanggung biaya distribusi hingga ke pintu rumah. Namun, demi keberlangsungan program dan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi standar, tidak jarang para kader dan petugas menggunakan dana pribadi mereka. Ini adalah bentuk dedikasi agar angka stunting tidak mengalami eskalasi,” ungkapnya.

Secara teknis, Ervan menekankan bahwa stunting bukan sekadar isu pertumbuhan fisik, melainkan ancaman terhadap skor IQ dan daya saing Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Kelurahan Bandarsyah memandang penurunan angka stunting hingga titik nol (Zero Stunting) sebagai investasi strategis bagi pembangunan daerah.

Menutup wawancara, Ervan menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Natuna atas dukungan yang telah diberikan selama ini. Pihaknya berharap adanya penguatan insentif dan dukungan moril bagi para kader yang menjadi garda terdepan di lapangan.

“Harapan kami, Kelurahan Bandarsyah bisa bebas stunting. Dengan begitu, kualitas SDM kita ke depan akan jauh lebih kompetitif. Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah yang telah berupaya maksimal dalam menurunkan angka stunting di wilayah Kabupaten Natuna,” pungkasnya. (KP).

Baca Juga:  Desa Tanjung Prioritaskan BLT, Ketahanan Pangan, dan Stunting Tahun 2025

Laporan : Dhitto


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *