NATUNA – Di tengah sunyi kabar yang tenggelam, di antara riuh dunia digital yang lekas lupa, sekelompok anak muda Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna memilih bersuara—bukan dengan kata-kata semata tetapi lewat langkah nyata.
Rabu pagi, 21 Mei 2025, ketika detak jam terus berbunyi dan jarum telah menunjuk pukul sembilan, langkah kaki mereka sampai di rumah sederhana milik seorang nenek, Hanijar (65), korban kebakaran yang sempat luput dari perhatian.
Di bawah langit Natuna yang bersahaja, hasil jerih payah selama berhari-hari digalang dan digenggam erat dalam bentuk kepedulian, dibalut kasih, dipeluk harapan, mereka serahkan sejumlah uang sebanyak Rp10.942.000 yang berhasil terkumpul dari upaya perjuangan kemanusiaan.
“Apa yang dilakukan HMI bukan sekadar penggalangan dana, melainkan penggalangan rasa, mengetuk pintu bukan hanya demi angka, tapi menggugah yang mungkin lupa bahwa kemanusiaan adalah milik bersama,” tutur Ayunda Aprianti.
Ketika tangan-tangan muda itu menyerahkan hasil perjuangan mereka, ibu hanijah sempat menangis, air matanya jatuh bukan karena duka, bukan karena jumlah yang diterima, namun karena akhirnya merasa masih ada yang peduli di dunia yang nyaris lupa.
“Beliau menangis. Katanya merasa tak ada yang peduli, kecuali keluarga. Saat itu, hati kami semua tersentuh,” kenang Ayunda Aprianti.

Ayunda Aprianti tak menutup mata bahwa betapa hari ini kepekaan sosial semakin langka di tengah gelombang digital, anak muda lebih akrab dengan layar, daripada wajah sesama yang sedang menahan lapar.
Lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan, kata Ayunda Aprianti kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masih ada ruang bagi kepedulian sosial, terutama di kalangan generasi muda.
“Anak muda tak menawarkan masa lalu, tapi mereka bisa menawarkan masa depan, maka biarlah kami menjadi contoh,” ujar Ayunda Aprianti.
Meski kegiatan ini digagas oleh HMI, mereka tidak ingin hanya dikenang sebagai aksi HMI. Ayunda Aprianti berujar bahwa ini adalah kerja kolektif semua pihak dari masyarakat untuk masyarakat.
Sebagai Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna, Ayunda Aprianti menitip pesan penuh harap kepada pemerintah agar lebih responsif terhadap kasus-kasus serupa di masa depan.
“Kalau satu bagian dari tubuh sakit, seluruh tubuh ikut merasakan. Begitu pula dalam masyarakat. Pemerintah harus menjadi yang pertama hadir, bukan yang terakhir tahu,” tutup Ayunda Aprianti.
Aksi kemanusiaan yang diperjuangkan HMI bukan soal nama. Mereka tak ingin dikenang sebagai pahlawan. Mereka hanya ingin menjadi contoh, bahwa menjadi muda tak berarti buta terhadap kepedulian sesama manusia.
Dari sunyi yang lama dilupakan, HMI menyalakan kembali percikan harapan, tak membawa nama besar atau tepuk tangan tapi membawa hati yang tak ingin lagi ada yang tertinggal dalam kesepian. (KP).
Laporan : Dhitto
Editor : Dhitto










