EKONOMI PERBATASANENERGI & MIGASKEUANGANNATUNAUMKM PERBATASAN

Dodi Ciptakan Kompor Berbahan Jelantah, Solusi Hemat Warga Natuna Kini

×

Dodi Ciptakan Kompor Berbahan Jelantah, Solusi Hemat Warga Natuna Kini

Sebarkan artikel ini
Kompor alternatif rakitan Dodi Kusuma yang menggunakan bahan bakar minyak jelantah dan oli bekas sebagai sumber energi untuk memasak. Inovasi warga Ranai Darat, Kabupaten Natuna, ini menjadi solusi hemat biaya rumah tangga di tengah tingginya harga gas elpiji dan sulitnya memperoleh minyak tanah.

“Berbekal minyak jelantah dan oli bekas, seorang warga Ranai Darat, Kabupaten Natuna, berhasil merakit kompor alternatif yang diklaim lebih hemat dibandingkan penggunaan gas elpiji untuk kebutuhan memasak sehari-hari.”

Warga Ranai Darat, Dodi Kusuma, berhasil menciptakan kompor alternatif berbahan bakar minyak jelantah dan oli bekas sebagai solusi penghematan rumah tangga di tengah tingginya harga gas elpiji dan sulitnya memperoleh minyak tanah. Inovasi sederhana tersebut telah digunakannya selama kurang lebih empat bulan.

NATUNA – Menurut Dodi, ide membuat kompor alternatif muncul karena ingin mencari cara memasak yang lebih hemat dengan memanfaatkan limbah yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.

Kompor rakitannya bekerja menggunakan sistem tetes, yakni minyak jelantah atau oli bekas dialirkan secara perlahan ke dalam tungku, kemudian dipadukan dengan hembusan udara dari blower sehingga menghasilkan proses pembakaran yang stabil.

“Sistem kompor ini menggunakan bahan bakarnya dari limbah minyak jelantah atau oli yang tidak terpakai. Minyak atau oli menetes ke dalam tungku, kemudian semburan angin memicu proses pembakaran hingga bisa digunakan untuk memasak,” ujar Dodi kepada koranperbatasan.com melalui sambungan WhatsApp.

Ia menjelaskan, kompor tersebut juga dilengkapi stop kran yang berfungsi mengatur debit bahan bakar sehingga besar kecilnya api dapat disesuaikan dengan kebutuhan memasak, layaknya kompor gas pada umumnya.

Berdasarkan pengalamannya selama menggunakan kompor tersebut, konsumsi bahan bakarnya relatif lebih irit.

“Pengalaman saya, kompor ini jauh lebih hemat. Dengan setengah liter minyak jelantah atau oli bekas saja sudah bisa digunakan memasak sampai sekitar empat jam tanpa henti,” ungkapnya.

Dodi menegaskan bahwa kompor tersebut dibuat semata-mata untuk kebutuhan pribadi dan tidak diproduksi secara komersial.

“Saya tidak menjualnya. Kompor ini saya gunakan sendiri untuk menghemat pengeluaran rumah tangga,” katanya.

Baca Juga:  Desa Sungai Ulu Siapkan 30 Persen Dari Total Anggaran Desa Untuk Covid-19

Meski demikian, ia mengatakan masyarakat yang tertarik mencoba teknologi serupa dapat membeli produk sejenis melalui berbagai platform perdagangan daring atau merakitnya sendiri dengan memanfaatkan barang-barang bekas.

“Kalau ingin membeli, di marketplace seperti Shopee sudah ada yang menjual. Kalau ingin membuat sendiri juga bisa, karena di YouTube sudah banyak tutorialnya,” jelasnya.

Menurut Dodi, kompor alternatif tersebut bukan dimaksudkan untuk menggantikan sepenuhnya kompor gas, melainkan menjadi pilihan lain ketika harga gas elpiji melonjak atau minyak tanah sulit diperoleh.

Ia menilai teknologi sederhana tersebut juga berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama yang membutuhkan proses memasak dalam waktu lama.

“Harapan saya, bagi masyarakat yang merasa keberatan dengan mahalnya harga minyak dan gas, kompor ini bisa menjadi salah satu solusi. Terutama bagi rumah makan atau UMKM yang memasak dalam waktu lama, tentu biayanya bisa jauh lebih hemat,” pungkasnya.


Laporan: Dini


 

📊 Views: 137

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *