JAKARTAKABAR PERBATASANKEPULAUAN RIAUNASIONALNATUNAPARLEMENTARIAPENDIDIKANPOLITIKPOTRET PERBATASANSALAM PERBATASANSUARA RAKYAT

HMI Natuna Berduka, Keadilan Jantung Ibu Kota di Ujung Taring Rantis

×

HMI Natuna Berduka, Keadilan Jantung Ibu Kota di Ujung Taring Rantis

Sebarkan artikel ini
HMI Natuna serukan keadilan atas tragedi wafatnya Affan Kurniawan di Jakarta.
Potret Ketua Umum HMI Cabang Natuna, Aprianti.

Ibu kota kembali menorehkan luka. Di antara riuh demonstrasi yang memekakkan telinga, nyawa seorang pemuda gugur di bawah roda kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri. Sebuah tragedi yang terjadi di Pejompongan, Tanah Abang, usai aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR pada Kamis malam, 28 Agustus 2025. Peristiwa ini bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga mengoyak nurani, menantang keadilan, dan menuntut pertanggungjawaban dari mereka yang seharusnya menjadi pelindung.

 

NATUNA – Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Natuna, Aprianti, menyampaikan dengan duka yang mendalam atas meninggalnya Affan Kurniawan sosok anak muda yang bekerja sebagai driver ojek online bertaruh hidup mencari sesuap nasi menjadi korban tragedi pilu yang mewarnai jalanan ibu kota.

Aprianti menyatakan bahwa Affan bukan hanya sekadar nama melainkan perumpamaan hidup yang baru saja disemai, kini harus gugur sebelum waktunya. Ia adalah seorang petarung yang memilih kendaraan bermotornya sebagai kuda perang, meniti jalan terjal untuk sebuah cita-cita, mengantar setitik rezeki dan menyuarakan suara rakyat kecil yang terpinggirkan.

“Almarhum bukan hanya seorang pencari nafkah yang bekerja sebagai driver ojol, tetapi juga simbol keberanian rakyat kecil dalam menyuarakan aspirasi. Kehilangan ini adalah luka kita bersama, bukan hanya bagi keluarga dan rekan sahabat, melainkan juga bagi bangsa ini,” kata Aprianti.

Aprianti mengkritik keras tindakan serta cara-cara represif aparat yang semestinya melindungi bukan justru menghilangkan nyawa rakyat bak penjagal daging yang membabi buta. “Peristiwa ini menjadi tamparan serius bagi institusi negara yang seharusnya berdiri sebagai pengayom masyarakat,” tegasnya.

Di bawah langit gelap Jakarta, sebuah tragedi tak terduga datang. Roda-roda besi kendaraan taktis yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi alat pembungkam abadi. Nyawa Affan terenggut, dilindas oleh derap sepatu dan deru mesin yang tak mengenal belas kasihan.

Baca Juga:  Lingga Hadiri Peluncuran Nasional Koperasi Merah Putih, 84 Unit Telah Terbentuk di Desa dan Kelurahan

Dalam pernyataan resminya, HMI Cabang Natuna mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil sikap tegas. Aprianti menyatakan, tragedi ini menuntut sikap tegas dan tanggung jawab moral maupun politik dari pemerintah.

“Jangan biarkan keadilan bagi almarhum dan keluarganya terkubur bersama deru kendaraan tempur aparat,” pintanya.

HMI Cabang Natuna menyarankan beberapa langkah konkret untuk mengembalikan marwah keadilan. Pertama, mereka meminta agar peristiwa ini diusut tuntas dengan proses hukum yang adil, transparan, dan tidak pandang bulu, termasuk menindak oknum aparat yang terlibat. Kedua, meninjau ulang pola penanganan aksi demonstrasi agar aparat lebih mengedepankan pendekatan humanis, dialogis, dan persuasif. Ketiga, memberikan santunan dan perlindungan hukum bagi keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab negara. Dan terakhir, membangun komitmen baru untuk melindungi kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat, sebagaimana dijamin dalam konstitusi.

Sementara di Natuna, negeri yang jauh dari hiruk pikuk Jakarta, duka ini adalah ratapan yang menggaung di antara buih laut dan hembusan angin. Affan adalah anak kandung negeri yang memilih jalan perjuangan di ibu kota namun kini pulang sebagai nama di batu nisan. Kematiannya adalah cerminan nyata betapa nyawa rakyat kecil begitu murah di hadapan kekuasaan.

Aprianti mengungkapan, di balik seruan dan tuntutan rakyat dalam peristiwa pilu itu ada pertanyaan yang terus menghantui, apakah bangsa ini hanya akan beranjak besar dengan tumbal darah warganya sendiri? Adakah keadilan yang sejati, jika suara-suara yang lantang harus dibungkam oleh deru mesin yang seharusnya melindungi.

Sebelum mengkahiri Aprianti berpesan bahwa ini adalah jeritan batin, sebuah narasi pahit yang mengajarkan bahwa di negeri ini mimpi seorang pemuda bisa berakhir tragis dilindas oleh alat negara yang seharusnya mengayomi. “Ini bukan hanya soal kericuhan, ini adalah tentang hati nurani yang mati. Sebuah pelajaran pahit yang harus diingat agar tak ada lagi nama yang harus gugur dan tangis yang terisak di kampung halaman, hanya karena mereka berani bersuara,” pungkasnya (KP).

Baca Juga:  Prabowo Anugerahkan Tanda Kehormatan Bagi Penggerak Program MBG Nasional Polri

Laporan : Fergi


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *